Showing posts with label Bali. Show all posts
Showing posts with label Bali. Show all posts

Sunday, 9 February 2014

Tempat Penyewaan Motor di Bali, Jogja, dan Lombok

Saya bukan jualan ya, tidak juga promosi ataupun dibayar pemilik rental motor tersebut. Saya hanya ingin berbagi informasi tentang tempat-tempat yang paling recommended untuk menyewa motor ketika traveling di Indonesia.

***

Kenapa motor? Beberapa daerah tidak menyediakan transportasi umum yang memadai. Sebut saja Bali. Angkutan antar tempat wisata sangat jarang. Sependek pengetahuan saya, pilihan angkutan umum di Bali hanya ada Bus Trans Sarbagita, angkot kecil di terminal Ubung yang entah rute aslinya kemana, dan taksi. Kelemahan Bus Sarbagita adalah, rutenya tidak mampu menjangkau tempat-tempat terpencil yang justru sangat menarik untuk kita explore. Angkot di Bali pun datang tak dijemput, pulang tak diantar. Angkot di sana sistemnya charter, bisa mahal kalau solo traveling. Taksi? Ah sudahlah. Yang terbaru sih, di sebagian kota-kota besar di Indonesia sudah punya armada ojek online yang harganya relatif terjangkau untuk backpacker kelas premium (hihi), tapi kalau untuk budget backpacker sih, mikir-mikir juga. Tercatat di 2017 ada Jabodetabek, Surabaya, Bali, Yogya, Bandung, Semarang, Medan, Malang, Makassar, Palembang, dan Balikpapan yang sudah memiliki ojek online di jalanannya.
I own this beach!
@ sungkun beach, Ekas, East Lombok

Saturday, 20 July 2013

Pandhawa Beach, An Upcoming Popular Destination of Bali

Tiada yang menyangsikan keindahan Bali sebagai destinasi wisata segala musim, usia, dan kewarganegaraan. Semua pasti setuju kalau Pulau Dewata itu “tempat-untuk-didatangi-lagi-kedua- kalinya”. Nah, karena itulah Bali menjadi teramat sangat penuh baik oleh wisatawan asing maupun domestik, terutama pantainya. Kuta, Seminyak, Legian, Jimbaran, Dreamland, Uluwatu, Bluepoint, Padang-Padang, Sanur, Lovina, telah menjadi sangat “berisik”dengan banyaknya turis dimana-mana.

Hal ini membuat Saya mencari-cari objek wisata Bali yang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu terkenal dalam kesempatan April kemarin. Caranya? Dengan berselancar di dunia maya mencari objek wisata baru di Bali. Dalam hemat Saya, setidaknya objek wisata yang baru pasti belum terlalu terkenal dan belum banyak turis di sana.

Salah satu hasil pencarian saya adalah Pantai Pandhawa. Lokasinya di Desa Kutuh, Kec. Kuta Selatan, Badung. Letaknya kalau di peta, ada di tenggara anak pulau Bali.
lokasi Pandhawa

Ekspektasi Saya ya cuma ada segelintir orang di pantai plus penduduk lokal. Rupanya, sesepi apapun, selama itu Bali, tetap ramai ya. -.-“

Rute ke sana:
Dari Bandara Ngurah Rai atau Denpasar, keluar menuju By Pass Ngurah Rai dan tetap lurus ke selatan. Ketemu pertigaan Udayana, ikuti signboard sampai GWK. Satu kilometer dari GWK ada pertigaan yang ada supermarket Nirmala di sisi kanan jalan, ambil kiri menuju arah Bali Cliff/ Nusa Dua. Sekitar 2 KM ada pertigaan dan ambil arah ke kiri untuk menuju Pantai Pandawa. Ikuti jalan lurus hingga menemukan signboard besar Pantai Pandawa di perempatan (hati-hati, perempatannya hanya gang kecil saja). Belok kanan dan ikuti jalan sampai habis sekitar 4 KM, anda akan tiba di Pantai Pandawa. Perjalanan dari bandara sekitar 1 jam.

beraspal halus
Tenang, sepanjang perjalanan, jalanan sudah halus dan cukup sepi. Sebelum sampai Pantai, Anda akan disambut tebing-tebing batu/kapur di kiri kanan jalan. Hal ini mengingatkan saya akan rute ke pantai Wediombo, Gunungkidul.

jalanan memecah tebing kapur
Sebelum masuk, Anda harus bayar retribusi pakir Rp3.000,00 per motor dan Rp10.000,00 per mobil. Di belokan terakhir, pantai terhampar luas dengan tebing batu tinggi di belakang yang sepertinya sangat cocok untuk melihat sunrise maupun sunset dari ketinggian.


pantai dari atas tebing kapur
bekas festival Pandhawa,
kalau tidak salah, tiap awal tahun



cantik bukan? :D

Seperti milik berdua, ecieee

sunset, yang paling cantik seharusnya sunrise nya

perahu nelayan rumput laut
salah satu patung di dalam tebing
Tebingnya dipahat dan dilubangi. Isinya beberapa patung Pandhawa yang besar hasil sumbangan masyarakat/ tokoh.

Menginjak pasir yang putih, mata Anda akan dimanjakan oleh pemandangan cantik payung-payung milik beberapa warung yang dipenuhi turis asing. Nun jauh di sisi timur dan barat ada pantai lagi sambung menyambung. Ada gazebo di tebing pemecah ombak sisi timur mirip yang terdapat di Pantai Sanur.

Oiya, di pantai ini banyak terdapat rumput laut. Tak heran jika beberapa penduduk lokalnya bermata pencaharian sebagai petani rumput laut yang menggelar hasil panennya di pantai untuk dikeringkan (jadi ingat pantai-pantai di Gunungkidul Yogya yang juga penuh rumput laut dimana-mana).

Di sini, Anda bebas untuk memilih berenang (karena ombaknya cukup tenang), bermain kano, naik perahu, makan-makan di payung pantai dan gazebo, atau sekedar berjemur laiknya turis asing.

mau sewa perahu? 

Simpulannya, menurut Saya, bagian paling menarik dari pantai ini adalah tebing-tebing kapurnya yang dipahat. 

So, then, Go Explore Our Beloved Country!   

Thursday, 9 May 2013

Bali Travel Guidance: Pantai Jerman

Tak berlebihan rasanya kalau saya katakan pantai ini sebagai “pantai selamat datang” nya Pulau Dewata. Kenapa? Sebab, sejatinya pantai pertama yang Anda lihat dari jendela pesawat ketika mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai adalah Pantai Jimbaran di sisi kanan dan Pantai Jerman di sebelah kiri.

siap berjemur?
Orang Indonesia jelas tidak mau
jalan setapak sepanjang pantai
Terletak di daerah Wanasegara (dulu bernama Jalan Jenggala) terkadang Pantai Jerman juga dinamakan Pantai Segara. Lokasinya tepat di sisi utara landasan bandara dan berbatasan langsung dengan pantai Kuta di selatan (sekitar 1 km). Jika Anda menyusuri jalan setapak/ jogging track Desa Adat Kuta mulai dari Bandara, Anda akan mulai dari Pantai Jerman, Kuta, Legian, dan Seminyak. Di sepanjang jogging track itu berjajar hotel, resort, bungalow, dan restoran serta Discovery shopping mall sebelum masuk Kuta.

How to get there?

Keluar dari pintu parkir Ngurah Rai, ambil arah utara. Di pertigaan Hotel Harris, ambil kanan. Sekitar 1 km, ada perempatan Wanasegara. Ambil kiri sampai ketemu pertigaan yang ada patung Holiday Inn resort. Ambil arah lurus dan di ujung jalan ada pertigaan restoran Cocktails. Lurus saja, pantai sudah terlihat. Parkir motor Anda, dan berjalanlah ke kiri/ selatan. Woah, Pantai Jerman di depan mata.

saya, di pemecah ombak Pantai Jerman
Pantai ini umumnya sama dengan Pantai lainnya di Bali, panas menyengat di siang hari. Turis asing bertebaran di mana-mana berbikini ria. Mungkin sebagian besar berkebangsaan Jerman sehingga dinamakan Pantai Jerman, entahlah. Sebagian besar dikelola oleh hotel-hotel di sepanjang pantai sehingga kanopi-kanopi yang berjejer di sana nggak sembarangan boleh dipakai leyeh-leyeh ya. Meskipun demikian, tiap orang bebas berseliweran di pantai ini dengan gratis.
para pemancing


pesisir pantai Jerman

pura tepi laut di wanasegara
sedekat ini dari bandara lho...
Yang unik dari Pantai ini adalah Anda bisa melihat pesawat mendarat tiap menit di Bandara Ngurah Rai sambil menikmati deburan ombak Bali yang terkenal besar. Oiya, terdapat pemecah ombak di pantai Jerman (seperti di depan Discovery Shopping Mall Kuta) yang bisa dijangkau saat surut. Banyak pemancing juga di sini.

Finally, Pantai ini bisa jadi referensi tujuan Anda kalau sudah bosan dengan KLS (Kuta-Legian-Seminyak) yang terlalu ramai.  

you might also like:
Suluban/ Bluepoint Beach 

Sunday, 5 May 2013

Bali Travel Guidance: Pantai Suluban

Suluban bawah
pantai tersembuyi di balik karang2
What:

Pantai ini dikenal luas oleh para pecinta selancar, terutama dari mancanegara. Dikenal juga dengan  nama pantai Bluepoint karena terdapat resor Bluepoint di sana. Suluban (menurut sepengetahuan saya) setidaknya memiliki dua jalan masuk yang sensasi pemandangannya berbeda. Pantai Suluban bawah yang memiliki pasir, dan Suluban atas (milik Bluepoint) yang isinya kafe-kafe  di atas tebing dengan 90% isinya turis asing. Bahkan masing-masing kafe dinamakan “kafe Japan”, “kafe Australia”, “kafe Jerman”, dsb sesuai asal negara masing-masing. Unfortunately, "kafe Indonesia" isn't available.



para peselancar,
mau cari ombak

cafe di atas tebing

surfers nekat

Samudera Hindia dari Bluepoint.
Fotogenic spot

Pantai Suluban tidak cocok bagi Anda yang berekspektasi mendapati pantai berpasir yang luas sebab, karang-karang tajam dan ombak besar mengepung secuil pasir putih yang rasanya akan tenggelam kalau air laut pasang. Terdapat jembatan beton yang menghubungkan antar karang. Rasakan sensasi cipratan ombak di atas jembatan.

Bluepoint, Blue everywhere!
Salah satu yang terbaik di Suluban adalah pemandangan laut dari atas tebing. Nat Geo, CNT, dan majalah-majalah traveling internasional lain sering menampilkan gambar birunya air laut, payung kafe di atas karang, dan para surfer nekat yang terombang-ambing  ganasnya ombak Samudra Hindia. Cadas!
Where:

Pantai ini terletak di Desa Pecatu Kecamatan Kuta Selatan sekitar 20 km dari Bandara Ngurah Rai. 1 km dari Pura Luhur Uluwatu.

How to get there:

Sebelum membayar tiket masuk pura luhur, ambil jalan menanjak ke kanan. Sekitar 400m ada pertigaan ambil arah kiri yang akan menuju Pantai Suluban. Sesampai tempat parkir, turuni anak tangga sekitar 100 m. Capek sih, tapi mendadak malu kalau melihat turis cewek yang dengan semangatnya turun sambil membawa papan selancar yang gede.

Kalau ke Bluepoint, dari pertigaan tadi ambil kanan. Sekitar 500 meter ada pertigaan, ambil kea rah kiri ke resor Bluepoint. Jalan kaki saja ke pinggir-pinggir tebing. Bagi yang punya budget berlebih, boleh lah pesan makan sambil menikmati birunya pantai.

How much:

Tidak ada tiket masuk, hanya parkir motor IDR 2.000 di Pantai Suluban, IDR 5.000 untuk mobil. Di Bluepoint, parkir motor IDR 3.000.

Notice:

 2 alasan kenapa
saya tidak menganjurkan
berenang di sini
~pakai sunblock, topi, dan kacamata hitam adalah ide bagus. Seringkali, Bali selatan terlalu panas bagi turis domestic. FYI, badan kami belang semua dengan pola bentuk baju.

~bawa celana pendek selama di Suluban, frekuensi cipratan airnya besar.

~tidak dianjurkan untuk renang di Suluban. Ganasnya ombak dan tajamnya karang adalah kombinasi “pembunuh” yang indah.







you might also like:

Bali Travel Guidance: Pura Luhur Uluwatu

You have to read my previous post about my first experience backpacking to Uluwatu. Then you will see the challenge and a lot of advice before wandering in South Bali (Peninsula).
beautifull India ocean from Uluwatu

What is Uluwatu:

“This temple is one of several important temples to the spirits of the sea along the south coast of Bali. It’s one of the seafront temples beside Tanah Lot, Rambut Siwi, and Pura Sakenan. The temple is perched precipitously on the southwestern tip of peninsula, atop cliffs that drop straight into the pounding surf” (lonely planet page 132).

“For the Balinese, Pura Tanah Lot is one of the most important and venerated sea temples. Like Pura Luhur Uluwatu, at the tip of the southern Bukit Peninsula, and Pura Rambut Siwi to the west. Its said that each of the ‘sea temples’ was intended to be within sight of the next, so they formed a chain along Bali’s southwestern coast-from Pura Tanah Lot you can usually see the cliffs top site of Pura Uluwatu far to the south, and the long sweep of sea shore west to Perancak, near Negara” (lonely planet page 272).

How to get there:

The best way to travel in Bali is by rent a motorcycle/ car. Personally I’d like to choose motorcycle better than car because Bali has been more crowded in managing the population of vehicles. Beware traffic jam during 5 p.m. in By Pass Ngurah Rai near the airport. Better come back to your cottage before or after that time.

From Airport, go to intersection By Pass Ngurah Rai. Turn right and go ahead until 2 traffic lights. In the third traffic light, turn right to Udayana University, Mc D and KFC is the best sign to remind. Sloops and hills are available for you that need a mountain bike challenge.

A lot of sign board in every intersection until you come to Pecatu village. 

How much:

April 2013, IDR 3.000 for motorcycle parking fee. IDR 15.000 (domestic) and IDR 30.000 (foreign) for entrance ticket.

Bufallo,
green vegetation in Uluwatu

my travelling mate


sunset theatre


seashore

the cliffs
Best time:

All year is good time to visit. Weekend will be noisier. Indonesia has 2 seasons. In rain season (October-March) Uluwatu temple covered by green vegetation and contrast in dry season, molted leaves are dominating. Uluwatu’s sunset is one of the best in Bali. A wonderfull Kecak dance with sunset setting is held in the temple theatre which is charge more Rupiahs for you who interested with.  

inner small temple
Notice:

~only Hindu worshippers can enter the inner small temple. Visitors should use sheath which is available free.
~there are a lot of wild monkey inside. Sunglasses, camera, necklace, hand bag, or hats aren’t safe. Take care your luggage from monkey reach and hold it tightly. If something happens, please call nearest “pecalang” to grab your luggage back from monkey. It’s free.