Showing posts with label Bromo. Show all posts
Showing posts with label Bromo. Show all posts

Monday, 24 July 2017

Ranu Kumbolo Eksekutif

Pernahkah Anda, misal, terbiasa kemana-mana naik kereta super ekonomi, lalu tiba-tiba dapat gratisan, catat, G-R-A-T-I-S-A-N, pergi ke suatu tempat impian dengan kereta eksekutif, dengan dipenuhi semua kebutuhannya. Itu yang Saya rasakan ketika September 2015 lalu, bersama atasan Saya di kantor, mendaki ceria ke Ranu Kumbolo. Semuanya dibayari, tak ada tawar menawar angkot, tak ada desak-desakan di truk. Rasanya ada yang hilang.

Dalam tulisan ini tidak akan dijumpai rincian biaya perjalanan sebagaimana ciri khas tulisan backpacking saya yang lainnya. Alasannya, pertama, karena memang perjalanan ini sudah terlampau lama di tahun 2015 jadi sebagian besar harga pasti sudah berubah sehingga tidak relevan kalau diulas. Kedua, karena semua biaya kami sudah dibayari oleh atasan saya, jadi, saya sudah tidak terlalu ingat lagi. Begitu mudah melupakan gratisan. Hihi.

Perjalanan dimulai dari Surabaya hari kamis malam tanggal 10 September 2015. Sebelumnya kami ada acara kantor dari hari senin sampai kamis di kota itu. Tepat kamis tengah malam kami memesan taksi dari hotel ke terminal Bungurasih. Dari Bungurasih, kami naik bus ke terminal Arjosari di Malang. Adakah yang lebih seram daripada naik-bus-jawa-timur-an yang terkenal ugal-ugalan? Ada, naik-bus-jawa-timur-an-pas-tengah-malam. Rencananya sih kami tiduran di bus biar bisa fresh pas nanjak besok paginya, eh realisasinya kami terombang-ambing di atas kursi masing-masing sambil merapal doa-doa keselamatan.

Setibanya di Malang, kami naik angkot ke Tumpang dan berhenti sejenak di sana untuk sarapan dan membeli beberapa sayur dan bumbu dapur di pasar. Kami melanjutkan perjalanan ke Ranu Pani dengan men-carter jeep yang hanya diisi 5 orang. Teringat Semeru pertama dulu yang harus berdesak-desakan menumpang bak truk di tengah hujan bersama lebih dari 30an pendaki lainnya, perjalanan jeep ini terasa "aneh". 

Karena ini carter, perjalanan Tumpang ke Ranupani ditempuh dengan banyak perhentian. Kami banyak berfoto di tempat-tempat ikonik yang terinspirasi dari film 5 cm. Kebetulan juga jeep yang kami tumpangi  adalah jeep yang dipakai shooting film 5 cm dulu.
Di sepanjang jalan dari tumpang ke ranu pani...
Dari sini terlihat bromo dan lautan pasirnya.
Sampai Ranu Pani, kami disambut debu pekat yang beterbangan di musim kemarau. Kami rehat untuk sholat jumat di desa Ranu Pani. Usai sholat jumat kami mengurus simaksi yang telah kami persiapkan jauh-jauh hari melalui laman resmi TNBTS. Di pos lapor, kami mendengarkan prosedur keselamatan dan ceramah singkat petugas balai. 

Selanjutnya, pendakian dimulai. Wait, sebelumnya, perkenalkan tim pendakian kami. Ada Usman yang sudah jago naik gunung dan pernah punya pengalaman hampir ilang di Ciremai, ada Randy yang seneng bener foto-foto, ada Pak Syam yang dermawan dan selalu minta break setiap sepuluh menit, dan Zulham, yang menjadikan Ranu Kumbolo sebagai pendakian pertamanya. Zulham baru memutuskan mau ikut naik gunung setelah berfikir setahun penuh. Dia pikir naik gunung itu begitu menakutkan dan menyengsarakan hingga begitu sulit bagi kami untuk mengajaknya jalan-jalan santai sambil bawa carier. Saya akan banyak menceritakan perjalanan ini dari sudut pandang Zulham, sebab ia adalah pendaki pemula dalam rombongan ini sehingga relevan untuk dibaca bagi Anda yang baru akan memulai pendakian pertama kali.

meet the team: Usman, Ane, Pak Syam, Randy, Zulham
yang paling kanan katanya lagi cari jodoh

Pertama kalinya Zulham senyum-senyum setelah mengeluh terus sepanjang jalan
Lokasi: pos 5 dan sudah terlihat Ranu Kumbolo



Zulham sudah mengeluh pundaknya sakit bahkan sebelum masuk gerbang pintu pendakian. Rupanya memang carier yang cuma berisi sleeping bag dan air mineral serta kebutuhan pribadi lainnya itu terpasang ala kadarnya. Kami membenarkan strap cariernya dan perjalanan pun berlanjut. Beberapa kilometer selanjutnya dia terus bertanya, "masih jauh bro? sudah mau sampai kan?". Alih-alih menjawab, saya pun terus mengingatkan untuk tidak fokus pada oksigen yang tipis dan beratnya perjalanan, tapi "nikmatilah pemandangannya Bro, ini salah satu jalur pendakian gunung terindah lho..." tapi rupanya dia tetap banyak komplain. Zulham banyak tertolong oleh Pak Syam yang paling senior di rombongan kami. Beliau selalu mampir borong semangka kupas setiap ada yang jual. Jalannya baru seperempat jam tapi break nya setengah jam. Haha. Kami baru melanjutkan perjalanan kalau sudah kedinginan karena kelamaan duduk sambil nyemil semangka.

"Ane: Teman-teman, Selamat datang di Ranu Kumbolo, surganya Semeru*"
*ala Genta :'D 
Karena takut kemalaman, saya terus membujuk mereka untuk tetap berjalan melewati pos demi pos hingga akhirnya tiba di Ranu Kumbolo pukul 8 malam. Keempat teman saya langsung menggigil kedinginan dan bukannya banyak bergerak, mereka malah mau langsung meringkuk di balik sleeping bag.

Pagi harinya, mereka kegirangan dan tak henti-hentinya berfoto sana-sini dengan berbagai pose. Ranu Kumbolo seperti biasa, memang selalu indah. Zulham sudah melupakan saat-saat ketika kemarin dia mengeluh terus sepanjang perjalanan. Setelah sarapan, kami berkemas-kemas dan kembali turun pada pukul 9 pagi.
Syuruk di Kumbolo
Rupanya, perjalanan turun harus dimulai dengan menaiki punggung bukit yang mengelilingi danau terlebih dulu. Lagi-lagi kami break setiap beberapa menit dan setiap bertemu penjual semangka potong. Kalau dihitung sepertinya perjalanan turun kami tidak lebih cepat dibanding perjalanan naiknya. Hihi. Tak apalah, namanya juga jalan-jalan ala eksekutif.

Epilog: Setelah turun, Zulham sudah tidak takut lagi naik gunung. Namun, dia tetap lebih memilih untuk tidak naik gunung jika ada opsi itu. "mending main ke pantai" katanya, dan sekarang, dia benar-benar jadi anak pantai dengan mutasi ke Bali. 


Monday, 14 May 2012

Penanjakan 1-Penanjakan 2

Pukul 3 pagi, jalanan di depan penginapan kami sudah ramai dilalui Hartop (Jeep besar), motor carteran, kuda, dan pejalan kaki. Kami pun satu persatu beranjak dari tempat tidur, selain karena terusik bebunyian (padahal alarm HP baru di-setting akan berbunyi pukul 3.30), selimut tebal juga sudah tidak mampu lagi menghangatkan saking dinginnya.

Mandi? Oh, tidak tentu saja. Kami hanya ambil air wudhu. Meski saya yakin saat itu (3.30) Probolinggo belum subuh, tapi, daripada nanti tidak bisa solat di Penanjakan, kami solat saja berjamaah dua rakaat dulu (huhu, maaf YaAllah L).

Belum setengah perjalanan, kami sudah diturunkan ojek-an motor (forever warm~ serius, nama perusahaan abang ojeknya adalah forever warm~ aihihi, lucu yak…) karena jalanan sudah penuh diparkir di sepanjang jalan menanjak dan tidak tersisa lagi jalanan untuk kendaraan bermotor. Wow, ramai sekali. Bermacam dialog dalam berbagai bahasa membuat efek gaduh. Ditemani senter hape, kami mendaki jalanan licin bekas hujan. Sedikit sebelum sampai di Penanjakan 2, di depan jalan terbentang tangga yang harus antri berbagi dengan pendaki lain dan kuda tunggangan.

Saat itu gerimis, atau entah apalah namanya, yang jelas, air dan kabut tebal terus menerus turun.

Sampai juga di sebuah dataran agak luas yang terdapat dua buah atap peneduhnya. Itulah Puncak Gunung Penanjakan 2 yang sering dijadikan pos observasi “Bromo’s Sunrise”. Ratusan orang sudah berkumpul di sana. Lengkap dengan berbagai tipe kamera dan camilan, menanti saat-saat matahari terbit dari balik Gunung Semeru, Bromo, dan Batok yang katanya sangat indah itu.
di perjalanan, antara Penanjakan 1 dan 2

Pukul 5. Lautan Pasir masih diselimuti kabut tebal. Susah untuk memastikan matahari sudah muncul atau belum. Sesekali angin kencang menyapu kabut yang menutupi lautan pasir di bawah Puncak Penanjakan 2. Saat itu terlihat jelas Gunung Batok yang hijau, kontras sekali dengan Gunung Bromo yang gosong kecoklatan dan Gunung Semeru yang biru tua di belakang keduanya. Lalu diikuti koor “wooooow” serempak dari atas Penanjakan 2. Tapi itu sebentar saja karena sejenak kemudian kabut tebal kembali menutup sekeliling. Begitu seterusnya sampai pukul 5.30.

Tak tahan, kami memutuskan untuk mendaki ke atas lagi. Hanya segelintir saja yang mau mendaki jalan setapak yang curam ke Penanjakan 1. Dan kebanyakan adalah para turis asing. Mungkin turis lokal terlalu malas, atau terlalu mudah puas? Entahlah.

Subhanalloh, pemandangan yang kami dapati sepanjang pendakian, indah sekali. Hamparan kebun sayur di bawah, dipadu kelap-kelip lampu Cemoro Lawang plus bukit-bukit hijau yang mengepung TNBTS membuat satu setengah jam perjalanan menjadi tak terasa. Sampai di puncak Penanjakan 1, sudah pukul 7 dan memang bukan waktunya matahari terbit lagi. Tapi dari atas sini kami memiliki daya edar yang lebih luas dan jelas karena kami sudah ada di atas kabut dan dapat dengan mudah mengamati Semeru, Batok, dan Bromo.
Maha besar Allah
Sooooo, beautifull


Thursday, 5 April 2012

Cemoro Lawang: 2


Usai mencapai kata sepakat dengan pemilik penginapan, kami bergegas menuju ke sana. Berharap mendapatkan sedikit kehangatan, malah mendapati dinginnya lantai keramik yang menggigit. Sinaga dengan bangga memamerkan kaos kaki tebalnya, bukti bahwa dia telah mengantisipasi bahwa kaos kaki itu ‘a must brought item’. Surya pun tak mau kalah pamer. Dia pun mengeluarkan sepasang kaos kaki, tapi kaos kaki kuliah yang tipis itu. Haha, meledaklah tawa kami semua. Eh, hangat loh, ternyata.
depan penginapan

Pelajaran: tawa renyah sahabat adalah api, yang siap menghangatkanmu.

Guyonan lain terjadi ketika tantang-menantang siapa yang berani mandi duluan. Brrr, membayangkannya saja rasanya ngilu semua. Akhirnya tak ada yang mau mencoba. Sampai akhirnya salah satu dari kami kebelet (maaf) e’e. Bahahaha. Kasian sekali. Mau tak mau toh dia harus nyobain air di kamar mandi.

Pada akhirnya sebagian yang lainnya, termasuk saya, ikut mandi siih. Sayang sekali, jauh-jauh ke Bromo juga.

Selesai mandi, kami jalan-jalan ke Pura Luhur desa Cemoro Lawang yang persis ada di depan penginapan. Eh, kami boleh masuk pagar lho. Baru tahu di dalamnya Pura itu isinya kayak apa.
Pura Luhur Cemoro Lawang

Lalu, kami beli tiket masuk TNBTS, yang ternyata berlaku 24 jam. Jadi besok pun tak perlu beli tiket lagi. Kami menghabiskan banyak memori kamera dengan latar belakang gunung Batok dan Bromo.

Puas, kami kembali ke penginapan. Ngapain? Sinaga, yang tidak pernah lupa bawa laptop kemana-mana, membuat kami bisa nobar koleksi filmnya sambil istirahat sejenak.

pasti Sinaga marah lagi,
fotonya gak dimuat lagi, aihihi
Sore, karena kelaparan, kami keluar lagi. Tak lupa bawa kamera ya. Niatnya cari warung, malah foto-foto kayang ndak jelas. Baru ketika sudah masuk angin, kami cari makan. Beuh, rasanya secangkir kopi dengan air mendidih pun tak berasa panas. Apalagi cuaca di Cemoro Lawang ini hampir selalu gerimis.
Diiringi suara puji-pujian sembayang saat matahari terbenam dari Pura, kami kembali ke penginapan.

Malamnya, kami tidur cepat mengingat esok pagi harus mendaki Gunung Penanjakan pukul 3.30 demi mengejar pemandangan matahari terbit dari puncak penanjakan. Alarm sudah dipasang, Night.

Tuesday, 3 April 2012

Cemoro Lawang


Dari pertigaan pasar Patalan Probolinggo, kami sarapan nasi Pecel. Lauk telur biar aman (I am talking about price). Usai itu, kami menunggu Elf yang menuju Cemoro Lawang.

Setengah jam menunggu, belum ada angkutan yang lewat. Menginjak hampir sejam, sebuah Elf biru muda kecoklatan (karena berkarat) pun tampak. Hasil negosiasi menghasilkan tariff Rp15.000,00. Saya, Iza, dan Sinaga masuk ke dalam Elf. Tiga orang lainnya naik ke atap bersama tas-tas kami. Awalnya saya juga sangat berniat naik atap juga. Namun, pak Supir melarang. Melihat saya agak kecewa, Sinaga bilang “biar saja, pasti nanti mereka menggigil atau masuk angin kedinginan”.

Benar saja, baru 15 menit, kami yang di dalam Elf sudah cari jaket. 5 menit berikutnya semua jendela sudah ditutup karena anginnya sangat kencang. “apa ya, yang terjadi pada Uzi, Syamsuri, dan Surya di atas?” batin saya agak kasihan pada mereka.
Jalanan meliuk-liuk di sepanjang lading kentang khas pegunungan. Ladang kentang berganti sawi, sawi berganti wortel, dan kemudian hutan-hutan tinggi. Sampai Sukapura, Elf menurunkan serombongan penumpang. Lalu pak supir ikut turun dan meneriaki ketiga teman kami di atas agar masuk mobil saja.

Mereka terlihat agak pucat kedinginan.

Akhirnya, sampai juga di desa Cemoro Lawang. Pemberhentian terakhir Elf kami. Gerimis menyambut kami. Wow, dingin betul.

foto pertama kali di cemoro lawang.
di sekeliling kami itu para penjual kaos
Melihat wajah kami yang ‘sangat-tidaktahu-apaapa’ ini, para penjaja penginapan dan souvenir langsung mengerubungi. Mulai dari ditawari kaos, sarung tangan, kupluk, sampai penginapan. Dan apa? Semuanya terbeli. Bukan karena kami bodoh atau uang kami terlalu banyak, tapi, yakin, udara dingin betul. Saya saja menggigil meski sudah pakai jaket dan kupluk, tanpa sarung tangan.

Penginapan pun juga terbeli (tersewa-red). Rp300.000,00. Mahal!
Pelajaran No. sekian: udara dingin mampu membuatmu tidak berpikir jernih.

Friday, 9 March 2012

BROMO, Mojokerto-Patalan


Akhirnya, selesai juga urusan di RSUD Kota Mojokerto. Urusan apa itu, tak perlu saya bahas, sebab hanya akan menambah sakit hati.

Kami mengawali backpacking ke Bromo dari Terminal Mojokerto pukul 11. Sempat bingung juga ketika beberapa saat sebelumnya mendapat kabar kawan saya yang baru melintasi jalur Probolinggo-Pasuruan yang katanya macet total. Mau ngejar kereta Sri Tanjung juga bingung nanti dari stasiun Probolinggo pasti sudah magrib sementara Elf ke Bromo maksimal ‘katanya’ sampai pukul 17 saja. Naik travel, setahu saya harganya berkisar Rp500.000,00. Wah, lagipula kami kan mau backpackingan, masa manja gitu... Ya sudah, kami nekat naik bus saja. Nanti kalau macet, ya, dinikmati saja. Wong, rame-rame juga.

Teringat di perjalanan mengenai cerita Syamsuri (NAD) semalam yang bilang “enak ya San, di Mojokerto, ada yang kayak beginian (Pacet dan Trawas>> kawasan pegunungan -red). Kalau di Aceh mah, kebun sawit sejauh mata memandang”. Terlepas dari benar tidaknya gurauan itu, saya diam-diam mensyukuri dilahirkan dan besar di Jawa Timur dimana segalanya murah, segalanya indah, segalanya aman (terkhir ini penting nih!).

Dari Terminal Mojokerto kami naik bus kuning menuju Pasuruan. 2 jam lamanya. Lama tidak melintasi kawasan ini, ternyata makin banyak pabrik dan peradaban baru (dan otomatis polutan baru). Apalagi di sepanjang Ngoro, Pandaan, dan Bangil.
nunggu Bus Akas, sempat pula foto-foto dulu
Turun di terminal Pasuruan saya agak kaget dengan sepinya Terminal ini. Tak ada Bus ke Probolinggo pula! Seperempat jam kami menunggu. Lamaaaa. Oh ternyata, Bus memang tidak masuk terminal. Jadilah kami menunggu di pinggir jalan. Jalan mulai merayap, banyak polantas, wah, tanda-tanda kemacetan mulai terlihat nih.

Akhirnya kami dapatkan Bus Akas jurusan Jember. 1 Jam perjalanan saja (lho macetnya mana? Sudah terurai rupanya). Di Probolinggo kami mencari Elf arah ke Cemoro Lawang. Sial sekali kami dapatnya malah calo (keroyokan pula). Di sana mereka nawarnya Rp25.000,00. Kami sih oke saja karena tidak menjumpai angkutan lainnya. Namun, Dedi dengan kecerdikan dan “semangat berhemat” nya tak mau begitu mudah terperosok ke jebakan calo. Ia nekat cari kesana-kemari (lebay :P) demi saving beberapa ribu rupiah.

Dapat angkutan Elf resmi Rp15.000. Tapi harus ke perempatan Kraksan karena area terminal sudah menjadi territorial calo. Dan apa? Itu dikejar-kejar calo masyaAlloh, udah kayak penjahat saja kami ini (eh, siapa preman siapa korban nih ceritanya?). Ditungguilah kami di perempatan itu. Mungkin karena sudah capek terlalu lama nunggu, atau takut dengan 5 cowok ini, jadinya pergi juga ia dari sana.

Jadi, ternyata si angkotnya Dedi ini sudah pergi saudara-saudara sebab tahu kami diikuti oleh si calo terminal. Wuaduh, hari makin sore, sudah pukul 17…
17.15 (masih tenang bisa nyemil qtela)
17.30 (qtela habis, ganti nyemil aqua)
17.45 (aqua habis, kami ngobrol)
18.00 (obrolan habis, kami panik) mana ada Elf ke Bromo jam segini? -.-“ Horor betul.

Sempat juga coba menyetop tiap mobil yang lewat mungkin saja ada yang mau memberi tumpangan. Tak ada. Yaiyalah, paling mereka takut ditodong atau diapa-apain kalau berhenti.

Bingung maksimal. Eh ternyata di samping kami ada seorang ibu paruh baya yang sedaritadi mengamati kami. Mungkin karena kasihan, ia dan suaminya menawari kami untuk menginap di rumah mereka. Terbersit sedikit rasa sungkan bercampur segan (yeee, sama saja kali sungkan dan segan!). Terpikir juga suudzon kami akan dirampok atau apa (astaga, maaf ya Pak Hamid). Akan tetapi, di sekitar makin gelap dan hampir nihil harapan kami untuk dapat angkot ke Bromo, yasudah kami ikut saja.

Pak Hamid ini lalu mengacungkan ibu jari, (persis seperti iklan provider). Sebuah mobil patroli polisi sektor Lumbang berhenti tak lama kemudian. Ya, kami naik mobil patroli. Seumur hidup baru sekali ini kami mengalami. Wahaha, senang sekali. Kapan lagi.

Di pasar Patalan kami berhenti (lebih tepatnya, foto duluuuu)
Di pasar Patalan kami berhenti. Lanjut dengan ojek motor ke utara. 4 km an, melewati jalan sepi, angin pantai yang kencang, kanan kiri sawah, dikelilingi siluet oranye Gunung-gunung di Bondowoso dan Jember, duh indahnya...
di rumah Pak Hamid (paling kiri)
Sampai rumah, kami dijamu dengan makan malam.
Bagaimana kami bisa membalas budi baik beliau ya… Orang yang baru kenal beberapa menit tapi sudah mau memberi kami ber-6 makan dan tumpangan. Semoga suatu hari nanti kami diberi kesempatan main ke Bromo lagi dan sowan ke Patalan.       

Wednesday, 7 March 2012

BROMO-BTS (behind the story)


Heran dengan begitu ribet nya persiapan backpacking kali ini. Sampai-sampai saya merasa bahwa kami tidak diijinkan-Nya untuk melakukan perjalanan kali ini. “Mungkin ini pertanda akan adanya sebuah bencana atau musibah apa di Bromo” begitu pikir saya saat itu. Hal ini juga dirasakan oleh semua teman seperjalanan saya. Ganjil rasanya.

Awalnya, backpacking kali ini direncanakan sebagai ajang reuni 10 backpacker Bali sebelumnya. Tentu kami menyambut hangat juga bila ada newcomers yang berminat. Oke, sedikit mengingatkan, kesepuluh orang itu ada saya, Dedi, Fauzi, Iza, Alam, Himawan, Mbak Lia, Dek Gugun, Dio, Ryan. Lalu, satu persatu mengurungkan niat berangkat. Sebagian besar karena galau pengumuman penempatan dan pemberkasan yang katanya muncul 23 Desember 2011. Tersisalah saya, Dedi, Fauzi, dan Iza. Melengkapi rombongan ada sejoli Surya dan Syamsuri.

Kalau boleh saya menambahkan, sebetulnya, seperti Bali dulu, banyak orang yang menyatakan ingin berpartisipasi ke Bromo, dan pada akhirnya, kegalauan pula lah yang menang melawan manusia-manusia bimbang. 

Dedi dan Surya.
Beberapa hari sebelum tanggal 23 (gossip pertama hari pengumuman instansi) Dedi pergi ke stasiun untuk pesan tiket ke Jogja. Habis semua sampai tujuh hari ke depan. Wajar, memang akhir tahun banyak orang yang mudik. Minggu, 25 Desember ia mengabarkan akan mencoba peruntungan berangkat langsung hari-H membeli tiket Kutojaya Utara di Tanah Abang. Subuh-subuh ia berangkat sendirian. Saya menangkap nada kekesalan mengingat teman seperjalanan dari kampus, Surya, hanya mau terima jadi dan sedia berangkat menyusul setelah dipastikan tiket di tangan (tanpa antri dan berangkat subuh-subuh).
Dapat 2 tiket, Alhamdulillah. Kutojaya berangkat 6.45 dari Tanah Abang.
Sebelumnya, saya telfon Surya, pukul 6.00 ia masih di jalan.
Pukul 7 saya dapat sms dari Dedi, memberitahukan bahwa kereta sudah berangkat>> tapi Surya belum tiba di Tanah Abang. Bahkan saya, yang saat itu di Mojokerto, ikut kesal.
Ia memutuskan untuk tetap berangkat dan berganti mencari peruntungan di stasiun Senen mengantri tiket Progo.
Dapat, Alhamdulillah lagi. Surya dan Dedi berangkat dari Senen ke Lempuyangan pukul 21.

Syamsuri.
Saat saya mengajaknya dulu, tanggapannya masih galau cenderung ke tidak. Surprise juga mendapat kabar ia ikut.
Ia berangkat dari Bandung. Kereta dari Bandung sampai di Jogja agak siang, hal ini membuat rencana untuk pergi ke Probolinggo dengan kereta harus diubah karena SriTanjung berangkat 7.30. Sempat sangat bingung juga menyesuaikan jadwal Syamsuri ini. Awalnya mau mampir Mojokerto dulu, menginap di rumah ibu saya, lalu ganti rencana mau naik kereta ke Malang, lalu ganti rencana naik bis saja, terakhir kembali ke rencana semula mampir Mojokerto. Benar-benar galau jadinya.

Fauzi.
Sepertinya Fauzi-lah yang emosinya paling stabil. Kendala-kendalanya pun tidak muncul ke public sampai hari keberangkatan tanggal 26 Desember. Kakak perempuannya kecelakaan dan tentu saja ia harus menemani berobat ke RS. Saat itu saya sudah berbesar hati mengingat kecil kemungkinannya ia akan berangkat. Semoga cepat sembuh kakaknya Uzi.

Iza.
Sang Ratu Gunung ini sangat berjiwa positif dan merupakan motor dalam perjalanan kali ini. Ia, dengan begron Stapala nya, memberikan banyak informasi soal Bromo dan persiapannya. Saya pikir dia tidak tersentuh virus galau seperti teman saya yang lain. Namun, ternyata kena juga. Tiba-tiba dia pilek gak sembuh-sembuh. Kabarnya juga, kakak-kakaknya melarang adik bungsunya ini naik gunung lagi. Tapi enth, jurus apa yang dilancarkannya kepada Ibunya sampai beliau memberi veto restu agar ia naik gunung.

Saya.      
di Mojokerto, rumah Ibu
Saya sih tidak terlalu galau. Galaunya ya gara-gara dengar cerita teman-teman jadi ikutan galau. Was-was kalau saja dengan masalah sebanyak ini kami batal berangkat backpackingan ke ikon Jawa Timur itu.

Alhamdulillah, akhirnya, saya bisa dengar kabar juga kalau mereka berlima sudah menghasilkan mufakat untuk menginap dulu di rumah saya di Mojokerto untuk semalam. Esoknya, baru berangkat ke Bromo. (cerita di Mojokerto di skip saja ya, post selajutnya langsung cerita Bromo)

Kelanjutannya ada di:
- Mojokerto-Patalan (Kisah kemalaman di Terminal Probolinggo dan ditolong orang asing)
- Cemoro Lawang (1)
- Cemoro Lawang (2)
- Penanjakan 1- Penanjakan 2 (a breath taking scenery from Penanjakan 2!)


Laporan Keuangan Backpacking Bromo


No. MAK
Rincian
Perluasan MAK
100
Transportasi
101 -> Transportasi Berangkat


102 -> Transportasi Sewa Motor


103 -> Transportasi Pulang
200
Konsumsi
201 -> Makan Besar


202 -> Snack dan Minum
300
Tiket Masuk dan Parkir Wisata
301 -> Hari Pertama


302 -> Hari Kedua


303 -> Hari Ketiga
400
Penginapan
-
500
Oleh-Oleh
-
600
Lain-lain
-
-------------------------------------------------------------------------------
  
Kode MAK
Rincian
Biaya (Rp)
Info Tambahan
101
Bus Kuning
10.000
Terminal Mojokerto-Terminal Pasuruan
101
Bus Akas
7.000
Terminal Pasuruan-Terminal Probolinggo
101
Bus xx (lupa nama)
1.000
Terminal Probolinggo-Perempatan Kraksan
101
Mobil Patroli Polsek

Gratis, Perempatan Kraksan- Pasar Patalan
101
Ojek Motor
6.000
Patalan-Rumah Pak Hamid (2x PP @Rp3.000)
101
Elf
15.000
Patalan-Cemoro Lawang
201
Nasi Pecel
7.000
@Pasar Patalan
201
Nasi Pecel
7.000
@Cemoro Lawang
201
Nasi Pecel
7.000
@Kaki Gunung Bromo
202
Air Mineral
3.500
Merk Alamo
202
Kacang cap Panda
2.000
Iuran, buat bekal naik Penanjakan
202
Jahe Panas
4.000
@Cemoro Lawang
300
Tiket Bromo
6.000
Terdiri atas Tiket Masuk local (2.000), Asuransi (2.500) dan Retribusi Pemkab Probolinggo (1.500)
400
Rumah Penduduk
50.000
Total serumah 300.000 dibagi ber-6
102
Ojek Motor Bromo
37.500
~Forever Warm~ Per motor 75.000
600
Kaos Bromo
17.000

600
Topi Hangat
8.000

600
Sarung tangan
3.000

103
Elf pulang
25.000
Cemoro Lawang-Terminal Probolinggo
103
Bus Ladju Utama
6.000
Terminal Probolinggo-Terminal Pasuruan
103
Bus Kuning
10.000
Terminal Pasuruan-Terminal Mojokerto
103
Colt Hijau
30.000
6 orang @ Rp5.000
TOTAL

262.000

kami: *buang uang ke kawah bromo*
lalu raksasanya bilang: terimakasih, datang lagi lain kali ya...
kami: yonkru...