Showing posts with label Mojokerto. Show all posts
Showing posts with label Mojokerto. Show all posts

Saturday, 6 March 2021

Peran Media Sosial terhadap Perbaikan Layanan Kereta Api

Judul tulisan ini tampak terlalu serius seolah-olah saya ingin membuat sebuah esai ilmiah. Padahal sebenarnya saya hanya ingin menceritakan pengalaman yang berkesan ketika kemarin (050321), akhirnya, berkesempatan kembali untuk menikmati kereta api (moda transportasi favorit saya) setelah sekian kali booking-cancel di aplikasi pemesanan. Hal ini tidak lain karena bepergian di kala pandemi telah meningkatkan level kecemasan saya ke tingkat maksimal.

Meskipun demikian, urusan perbaikan layanan untuk perusahaan BUMN sejatinya bukanlah urusan sepele. Selain pihak manajemen internal, pihak pengguna dapat memberikan feedback positif demi tercapainya service excellent.

Monday, 8 December 2014

Our Wedding Invitation

it was easy...
credit to: Moh. Zainul R.
 بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

baarakallahu lak, wa baaraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fii khair


“Semoga Allah memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis, dan semoga Allah (tetap) memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara), dan semoga Dia (Allah) mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan” 

(HR. Abu Dawud (1819), Tirmidzi (1011), dan yang lainnya, dishohihkan oleh Albani)
Bantul DIY, Ahad, 28 Desember 2014
Bagaimana cara ke sana:

"Gunungsaren Lor RT 80 Kel. Trimurti, Kec. Srandakan, Kab. Bantul, DIY"


Kendaraan Umum

Dari Terminal Bus Giwangan Umbulharjo: naik bus jurusan Srandakan (Bus B atau Bus 55) turun di RS PKU Srandakan. Tinggal jalan kaki sekitar 10 menit ke arah TK ABA Gunungsaren. [Estimasi biaya Rp 10.000 dengan lama perjalanan kira-kira 70 menit]

Dari Stasiun Kereta Api Lempuyangan: naik ojek ke Terminal Giwangan, Lanjut dengan Bus B atau Bus 55 seperti di atas. [Estimasi biaya Rp 25.000 (ojek 15.000) dengan lama perjalanan kira-kira 85 menit]

Dari Stasiun Kereta Api Tugu: naik bus Trans Jogja rute 1A, 1B, atau 3A ke Terminal Giwangan. Lanjut dengan Bus B atau Bus 55 seperti di atas. [Estimasi biaya Rp 13.000 dengan lama perjalanan kira-kira 100 menit]

Dari Stasiun Wates, Kulon Progo: naik ojek motor ke alamat tersebut di atas. [Estimasi biaya Rp 50.000 dengan lama perjalanan kira-kira 20 menit]

Dari Bandara Adisucipto: naik bus TransJogja rute 1A, 1B, atau 3A ke Terminal Giwangan. Lanjut dengan Bus B atau Bus 55 seperti di atas. [Estimasi biaya Rp 13.000 dengan lama perjalanan kira-kira 100 menit]


Sewa Motor/ Kendaraan Pribadi

Sewa motor langganan kami, Resmile Rental (CP: 085643107277) berkenan mengantar motor sewaan (lengkap dengan 2 helm, jas hujan, dan gembok ekstra) sampai tempat perjanjian dengan gratis selama Anda berada di dalam area ring road DIY, Stasiun Lempuyangan atau Terminal Giwangan, misalnya. Dengan biaya Rp 70.000,00 Anda berhak menggunakan motor-motor (yang masih bagus kualitasnya) selama 24 jam penuh. Reservasi segera, sebab, di akhir pekan/ musim liburan, agak sulit mencari rental motor yang masih available. Informasi rental motor lainnya, bisa dicari melalui pencarian di laman google.com

Rute Dari Malioboro/ Stasiun Tugu/ KM 0, berbelok ke barat di Jalan Ahmad Dahlan, lalu belok kiri di sepanjang jalan Taman Sari untuk menuju Jalan Raya Bantul. Lurus saja ke selatan sampai menemui SMAN 1 Bantul dan tak jauh dari itu, ada perempatan yang di papan penunjuknya tertulis ke kiri Pantai Parangtritis, lurus Pantai Samas, kanan Srandakan/ Wates. Ambil arah kanan sampai sekitar 4 km lagi. Ketika masuk desa Trimurti, pelankan laju kendaraan Anda, sebab Anda harus belok ke gang di sebelah kanan jalan. Tetap lurus di gang tersebut sampai menemukan SDN Gunungsaren. Rumah kami terlihat dari pintu gang SDN Gunungsaren. 

Bagi Anda pengguna Smartphone, Anda bisa menggunakan aplikasi google maps atau here maps dari Nokia. Masukkan beberapa detil bermakna yang biasa kami gunakan untuk menuju ke sana: KUA Kecamatan Srandakan, TK ABA Srandakan, Trimurti, Srandakan.

Punya Waktu Luang Setelah/ Sebelum Acara, Kemana?

Izinkan kami mengucapkan, selamat datang di kawasan wisata terpadu, Yogyakarta, yang bahkan hanya dengan berjalan-jalan sekenanya di trotoar kotanya saja telah mampu membuat Anda tersenyum bahagia. Tak berlebihan rasanya, sebab warga Yogya akan refleks menyapa dan tersenyum kepada Anda yang sedang berjalan-jalan tadi, sehingga otomatis, Anda berkewajiban membalas senyum mereka juga kan.

Acara kami dilangsungkan di penghujung tahun yang berada di deretan libur panjang 25,26,27, dan 28 Desember 2014. Jika Anda punya banyak waktu sebelum atau sesudah tanggal 28 Desember, Anda bisa memilih beberapa alternatif tempat wisata yang banyak bertebaran di seluruh penjuru DIY.

Pantai:
Kami rekomendasikan untuk ke pantai-pantai di Gunungkidul yang masih relatif sepi seperti Pantai Wediombo dan Jungwok, Indrayanti, Pok Tunggal, Siung, Baron, Sundak, dsb. Selain itu, Pantai-Pantai di Bantul pun juga layak untuk dipilih seperti nostalgia di Pantai Paragtritis dan Seluncur Pasir di Gumuk Parangkusumo atau wisata kuliner seafood segar di Pantai Depok. 

Goa:
Sebagai informasi, kawasan pegunungan kapur di selatan DIY saat ini sedang dalam proses penilaian UNESCO untuk didaftarkan sebagai Taman Geopark Dunia. Terbayang kan betapa banyak goa-goa eksotis di selatan DIY akibat pembentukan stalagtit dan stalagmit  ratusan tahun.Kunjungi Goa Pindul, Goa Jomblang, dan Goa Kalisuci di Gunungkidul, atau Goa Cerme di Bantul. Nikmati juga body rafting di Goa Pindul dan Kalisuci yang cukup menantang adrenalin.

Air Terjun:
Air terjun Sri Gethuk sangat kami rekomendasikan untuk dikunjungi. Kabarnya, Sri Tanjung di Dlingo, Bantul pun sedang ramai dibicarakan orang karena digunakan sebagai lokasi syuting film "beyond skyline" nya Arnold Schwarzenegger.

Gunung:
Gunung Merapi dengan waktu pendakian 2 hari, nampaknya pas dengan agenda akhir tahun. Nikmati trek pasir dan pemandangan spektakuler dari gunung kebanggaan masyarakat Yogyakarta tersebut.

City View:
Yogya adalah juaranya dalam hal ini. Semua tempat begitu indah dan menarik untuk dieksplor. Berjalanlah di sepanjang trotoar malioboro, KM 0, Alun-alun kidul, dan taman sari. Nikmati keramahan budaya lokal, kearifan penduduknya, dan kelezatan masakan tradisionalnya. Sebut saja, Mangut Mbah Marto, Mie Lethek Mbah Mo, Ayam Goreng Mbah Cemplung, Gudeg Yu Jum, Tempe Bacem Beringharjo, Soto Lenthok Lempuyangan, atau Kopi Jos dan Sego Kucing di sepanjang angkringan. Cinderamata? Dagadu, Beringharjo, Bakpia Patuk, Kasongan, dan Kotagede adalah tempat-tempat yang sayang untuk dilewatkan. Sampai dengan tanggal 3 Januari 2015, Yogyakarta juga menyelenggarakan upacara sekaten yang akan menampilkan banyak festival rakyat.


"Tangunan RT/RW 1/1 Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur"

Kendaraan Umum

Dari Bandara Internasional Juanda Sidoarjo: Anda bisa memilih bus damri menuju Terminal Purabaya (Bungurasih) dengan ongkos Rp 20.000,00. Lalu Anda bisa menggunakan semua bus jurusan Solo/Yogya ke Terminal Kertajaya Mojokerto dengan harga Rp 6.000 saja. Lantas, di dalam terminal ada angkutan umum L300 berwarna hijau tua jurusan Pacet. Naiklah angkutan itu dengan membayar Rp 6.000 dan sebutlah "Tangunan" untuk berhenti di seberang Masjid Jami' Al Abror. Rumah kami tampak dari masjid tersebut. (Estimasi waktu: 90 menit)

Stasiun Kereta Api Mojokerto: Untuk semua kereta jalur selatan Pulau Jawa, Stasiun Mojokerto ada dalam daftar pemberhentian wajib sebelum masuk Kota Surabaya. Dari seberang jalan depan stasiun, cegat angkot line B atau C ke arah Terminal Kertajaya (Rp 4.000,00). Lanjut dengan angkutan umum L300 hijau tua jurusan Pacet. (Estimasi waktu: 45 menit)

Stasiun Surabaya Pasar Turi: Jika Anda kebetulan memilih kereta api Jalur Utara Pulau Jawa, maka Anda tidak melewati stasiun kereta api Mojokerto. Tetapi berakhir di Stasiun Pasar Turi. Dari Stasiun ini, Anda bisa menaiki bus umum ke arah terminal Purabaya seharga Rp 5.000,00 dan melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi seperti di atas.

Sewa Motor/ Kendaraan Pribadi

Dari Malang/ Pasuruan: 
Sebagai kota wisata, Malang menawarkan banyak rental motor/mobil seperti halnya Yogyakarta. Ambil jalur jalan Nasional Surabaya Malang. Berbeloklah di Apolo untuk masuk ke daerah Pasuruan dan tetaplah di Jalan Utama Provinsi yang menghubungkan Mojokerto-Pasuruan. Di pertigaan Pasinan, ambil arah ke selatan (arah Pacet). Kebut kendaraan Anda di Jalan desa selebar 8 meter sepanjang 5 km untuk sampai di Desa Tangunan.

Dari Surabaya:
Pilih jalur Nasional Surabaya-Solo/Yogya. Hati-hati, sebab Anda harus berbagi jalan dengan bus-bus besar, mobil-mobil pabrik, dan mobil-mobil pengangkut alat berat. Banyak jalan yang bergelombang akibat beban kendaraan yang berlebihan. Better, alon-alon waton kelakon.
Sampai sekitar 30 km, Anda memasuki kabupaten Mojokerto dan di by pass Terminal Kertajaya, ambil arah ke timur sepanjang 2 km untuk menemui pertigaan pertama ke arah Pacet. Selanjutnya, sama. Kebut kendaraan Anda di Jalan desa selebar 8 meter sepanjang 5 km untuk sampai di Desa Tangunan.

Setelah Acara Kemana?

Sekilas Mojokerto:
Mungkin Mojokerto tidak sekomplit Yogyakarta, senyaman Yogyakarta, semenarik Yogyakarta. Warga Jawa Timur pada umumnya tidak lantas tersenyum kepada orang asing tanpa alasan seperti halnya warga Ngayogyakarta Hadiningrat. Jawa Timur dibesarkan oleh sejarah perang dan penaklukan kerajaan-kerajaan yang, salah satunya, menjadi cikal bakal berdirinya Nusantara, Majapahit. Perlu Anda tahu, Mojokerto adalah pusat peradaban Kerajaan terbesar yang pernah ada di negeri ini. Pusat pemerintahannya ada di Trowulan dimana fosil-fosil peradaban Nusantara abad XIII berserakan dimana-mana, di setiap sudut desa. Candi Tikus yang terpendam di kedalaman tanah, Kolam Petirtaan para Raja, Candi Brahu, Mistisnya Candi Minak Jinggo, Pendopo Agung yang menyimpan patak batu tempat mengikat gajah yang melegenda (Anda yang menggemari pelajaran sejarah pasti tahu kenapa patak batu tersebut spesial), Candi Bajang Ratu, Wringin Lawang, dsb. Eksplore lebih jauh sendiri, temukan candi-candi yang masih dalam tahap proyek pengerukan dari dalam tanah oleh Dinas Purbakala yang jumlahnya belasan.

Gunung:
Jelajah Gunung kesayangan para pendaki Mojokerto, Gunung Penanggungan. Gunung ini banyak dipercaya sebagai Puncak sejati Mahameru. Kenapa? Sebab, gunung ini menyimpan begitu banyak candi hindu yang menempel di sepanjang jalur pendakian. Petirtaan Candi Jolotundo di kaki gunung ini adalah tempat dingin yang sangat kami rekomendasikan untuk dikunjungi. Kabarnya, sumber air di candi ini mengandung mineral tertinggi ketiga di dunia. Cukup 3 jam saja dengan kecepatan normal untuk sampai di Puncak. Jika malas mendaki, pilihlah kawasan wisata Pacet di kaki Gunung Arjuno Welirang yang memiliki pemandian panas, air terjun Coban Canggu, dan kuliner sate kelinci.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang mendunia itu juga hanya 3 jam dari Mojokerto. Jika Anda punya waktu cukup, agendakan berjumpalitan di Bukit teletabis Blok Sabana, menahan napas takjub menanti kabut tersingkap di Gardu Pandang Seruni Penanjakan, atau penasaran mendengarkan percakapan pasir berbisik di lautan Pasir Bromo.

Museum:
Museum Majapahit, koleksinya sangat lengkap. Terdapat kegiatan ekskavasi rekonstruksi peninggalan pemukiman kuno jaman kejayaan Mojopahit di samping Museum. Mungkin agak berlebihan, tapi saya jadi berimajinasi tentang proyek laskar terakota di China ketika melihat proyek itu dari balkon yang dibangun di atasnya. Maha Vihara Majapahit juga layak dikunjungi untuk melihat The Sleeping Giant Budha.
Akhirnya, hati-hati di jalan, semoga berkenan hadir dan memberikan doa keberkahan kepada kami berdua. 

...
kita begitu berbeda dalam semua,
kecuali dalam cinta (Gie, Sebuah Tanya)


Wednesday, 13 March 2013

Candi Jolotundo dan PPLH Seloliman



Terkadang Anda perlu menempuh jalan yang sesat dulu, untuk mengetahui betapa nikmat jalan yang benar.

Quote itu sekedar menghibur diri saya, yang entah kenapa, hobi sekali tersesat. Kemanapun.
bertepatan dengan Nyepi tahun 1935 Saka
Bahkan sekedar ke tempat wisata di Mojokerto yang (dulu) pernah 2x saya datangi pun kali ini tersesat.

nyasar, kasian ya.
Ceritanya begini, kami mencoba rute baru yang nggak biasa di hari minggu (10 Maret 2013) yang cerah. Candi Jolotundo dan PPLH di Seloliman, Trawas, Mojokerto. Gampang kan seharusnya? Tinggal ke Pungging/ Mojosari dan mengikuti jalan raya sampai Trawas, atau bisa juga via Ngoro yang petunjuknya tidak kalah banyaknya. Bagi para pembaca yang bukan asli Mojokerto, kalau mau ke dua tempat tersebut, tinggal membaca papan penunjuk arah yang ada di sepanjang Jalan Raya antar Kab. Mojokerto-Pasuruan.

Nah, kami malah memilih via Pacet atau manalah itu. Walhasil, kami memutar lebih jauh, dengan medan lebih berat, hujan gunung yang deras, sungai yang meluap, mobil keblondor yang horror, dan aspal yang mengelupas. Offroad lah.

Haha, tapi dipikir-pikir, beruntung juga kami. Jadi pengalaman kan. =D [pasang-senyum-pepsodent]

Life begins when we discover new things

Candi Jolotundo pukul 13.00
perayaan nyepi di candi jolotundo



jalan masuknya nih, awas licin

this kind of "sesajen" scatered everywhere

God must be happy with abundance offering of Hindunese =D

i'll be there, someday *penanggungan *wish

Diambil dari situs wartapedia.com

Candi Jolotundo terletek di lereng Gunung Penanggungan, tepatnya Desa Seloliman, Kecamatan Trawas. Jarak dari kota Surabaya + 55 km, dapat dicapai dengan kendaraan pribadi.

Keunikan petirtaan ini adalah debit airnya yang tidak pernah berkurang meskipun musim kemarau. Berdasarkan penelitian, kualitas airnya terbaik di dunia dan kandungan mineralnya sangat tinggi.

Candi Jolotundo merupakan bangunan petirtaan yang dibuat pada zaman Airlangga (kerajaan Kahuripan).

Di sekitar candi, disediakan pendopo dan gazebo untuk menikmati suasana sejuk dan nyaman. Kawasan Jolotundo juga dapat dijadikan titik awal menuju 17 candi lain yang tersebar di sepanjang jalur pendakian Gunung Penanggungan. Lebih kurang 1 km sebelum candi Jolotundo terdapat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman.

Ada sejarah penting yang berhubungan dengan keberadaan Candi Jolotundo adalah angka 997 M yang dipahatkan di sebelah kanan tulisan Yenpeng kiri dinding belakang.
 
Dalam sejarah diketahui bahwa Raja Udayana yang berasal dari Bali telah menikah dengan Putri Guna Priya Dharma dari Jawa. Dari perkawinan lahirlah Airlangga Tahun 991 M. Jadi tahun 997 M yang terdapat pada dinding merupakan pembuatan Petirtaan Jolotundo yang dipersiapkan Udayana.
Candi ini merupakan monumen cinta kasih Raja Udayana untuk menyambut kelahiran anaknya, Prabu Airlangga, yang dibangun 997 M. Sumber lain menyebutkan bahwa candi ini adalah tempat pertapaan Airlangga setelah mengundurkan diri dari singgasana dan diganti anaknya
Satu dari dua kolam mandi itu memang tempat mandi sekaligus berendam sang ratu. Sebuah kolam lainnya untuk sang raja. Dan hingga sekarang pembagian tempat berdasarkan gender tersebut masih berlaku bagi pengunjung.
Karena Candi Jolotundo adalah pemandian ratu, maka banyak para pengalap berkah yang mandi di pemandian Jolotundo di zaman sekarang menginginkan kecantikan secantik ratu di jaman Majapahit.
Pengunjung yang bakal melakukan ritual inilah bertujuan untuk ngalap berkah. Berkah yang  diharapkan oleh ritualis wanita adalah untuk menambah kecantikan dan awet muda.
puncak penanggungan
Khusus pada malam 1 Muharam atau 1 Suro tepat pada bulan purnama, Jolotundo dijejali pengunjung. Sebagian besar untuk melakukan kegiatan ritual dan sebagian lain sekedar menikmati siraman purnama obyek wisata di tengah hutan rimba tersebut.


Kami beruntung (atau sial ya?) berkunjung ke sana pas umat Hindu merayakan upacara Hari Raya Nyepi Tahun 1935 Saka. Katanya mereka mulai upacara jam 10 dan baru akan berakhir sampai pukul 15. Kami tidak bisa mendekat ke candi karena dijaga ketat oleh para pecalang. 

upacara
Tapi untungnya, kami dapat photo moment khusus yang jarang-jarang bisa kami dapatkan selain di Bali, sembayangnya umat Hindu.

air suci, diambil langsung dari petirtaan
Oiya, tiket masuknya Rp6.000 dan Parkir motor Rp2.000. Jolotundo juga merupakan pintu masuk pendakian Gunung Penanggungan jalur Tamiajeng.

PPLH Seloliman pukul 14.00

rumah gubuk di seloliman, u/ menyimpan gabah
rumah kaca dan anggrek
PPLH ini cukup populer (di kalangan turis asing). Kalau turis lokal sih kebanyakan murid-murid SD/ TK yang sedang prakarya atau murid lain yang sedang penelitian tentang lingkungan hidup. Kami sih sebetulnya malas dengan wisata yang serius-serius, tapi berhubung ke Jolotundonya nggak dapat apa-apa, jadi kami masuk saja. (yang ternyata nggak ditarik tiket, ehehe, penyusup)

konsep pemanas air alami
pintu masuk Seloliman
Di dalamnya sebetulnya super komplit sih. Ada kebun TOGA, kebun buah, pengolahan limbah, daur ulang kertas, plastic, toko souvenir dari barang-barang bekas, resto,  gedung pertemuan, mini PLTA, cottage, pabrik kompos, taman bermain, dll. Serius, konsep PPLH ini keren sekali lho. Semua serba natural. Semoga makin berkembang, dan tak hanya turis asing yang serius explore PPLH Seloliman, tapi juga teenagers kayak kita-kita ini [ehm-sejenak-lupakan-umur]

Monday, 11 February 2013

Makam Wisata dan Pemukiman Zaman Majapahit



adalah kelanjutan dari>> memburu-sunrise-di-kerajaan-majapahit.
 
8.00, Makam Troloyo

Ini sebenarnya bukan termasuk situs Majapahit tetapi sedari tadi, banyak bis lalu lalang menuju kompleks Makam yang berlokasi di Ds. Sentonorejo ini. Jadi, saya penasaran.

Untuk ukuran makam, tempat ini sangat luas dan mewah. Ada pendopo, masjid, pohon-pohon besar, toilet, dan tentu saja, makam (dengan nisan) bersarung. Sepagi ini sudah ratusan peziarah memadati kompleks makam ini. Jauh lebih ramai ketimbang pasar. Yang paling ramai ya Makam Syekh Djumadil Kubro.
makam Syekh Djumadil Kubro

Makam yang lebih rame daripada masjid
*tepokjidat

8.30, Situs Lantai Segi Enam, Candi Kedaton, & Umpak Batu

Letaknya ketiganya berdekatan. Situs lantai segi enam adalah kompleks pemukiman zaman Majapahit yang banyak ditemukan ubin berbentuk segi enam sejumlah kurang lebih 140 buah. Seperti paving jaman sekarang.

Candi Kedaton pun sama seperti situs lantai segi enam. Namun areanya jauh lebih luas. Terletak 2 meter di bawah permukaan tanah. Penggalian situs ini belum selesai dan berhenti sementara sambil menunggu anggaran turun. Dinamakan Candi karena di samping penggalian tadi, ada sebuah pondasi batu bata yang mirip pelataran candi.

the site, Umpak Batu
The Lost City, Kedaton
Menuju Umpak Batu hanya perlu menyeberang pagar Candi Kedaton. Berupa susunan batu utuh yang (diperkirakan) merupakan pondasi dari sebuah gazebo/ rumah panggung membuat kita menerka-nerka, seperti apakah model bangunan yang dulu ada di atasnya. 


Situs Segi enam, mirip paving 7 abad lampau


9.00, Museum Majapahit (Pusat Informasi Mojopahit/ PIM)

Usai membayar parkir Rp 3.000,00, saya mengelilingi halaman Museum ini. Karena hari Minggu, bangunan inti (tempat diorama) nya tutup. Namun, sekalipun demikian, Museum ini memamerkan artefak, arca, prasasti, dan peninggalan sejarah lainnya di halaman belakang. Banyak temuan penting dipamerkan tanpa pelindung apapun, jadi, banyak petugas BP3 Jatim  berjaga di sana untuk mencegah perusakan yang tak disengaja oleh pengunjung.
balkon pengamatan di PIM

Kota Majapahit, dulu

Sekumpulan ganesha

kira-kira, GWK di Bali kalau sudah jadi bakal seperti ini

prasasti dimana-mana

Yang menarik, ada kompleks ekskavasi yang sudah beratap modern dan ada loteng pengamatan dari atas. Tampak keseriusan pemerintah dalam menggali potensi penemuan situs kota Majapahit.

9.45, Candi Menak Jinggo

Agak menyeramkan menuju candi ini karena di sini kabarnya ditemukan kepala Minak Jinggo sementara badannya ditemukan di Blambangan dalam perintah Ratu Ayu Kencono Wungu yang membuat sayembara agar dapat mengalahkan Minak Jinggo demi mencegah ia meminangnya. Dhamarwulan pun berhasil melaksanakannya. Untuk selengkapnya, cari di google, Legenda Dhamarwulan.

Saya nyasar cukup jauh karena minimnya papan informasi. Candi ini tak banyak berbeda dengan Candi Kedaton dan situs pemukiman lainnya, di bawah permukaan tanah, saya hanya bisa melihat susunan batu. 
Situs Menak Jinggo, batu andesit

Yang unik, candi ini adalah satu-satunya candi yang bahannya dari batu andesit. Mungkin kalau sudah selesai penggaliannya, candi ini akan indah.

10.30, Makam Panjang dan Makam Putri Ceumpa

Yang berjudul makam justru lebih ramai pengunjungnya. Kata juru kuncinya, sebetulnya di trowulan ini tidak ada makam (orang yang dikubur). Termasuk makam panjang ini. Logikanya, Majapahit kan kerajaan Hindu Budha, jadi mayatnya pasti dikremasi/ dibakar lalu abunya dilarung ke sungai/laut dan sebagian disimpan di candi.

Yang dimaksud makam lebih tepatnya adalah petilasan/ tempat singgah.

Makam panjang sendiri merupakan gudang penyimpanan senjata kerajaan yang mulai dikultuskan orang-orang sejak tahun 90 an.
Makam Panjang, aslinya gudang senjata lho

Makam Putri Ceumpa

Makam Putri Ceumpa, tempat singgah Putri Ceumpa di Majapahit. Sesederhana itu pemahaman saya. Namun, kita tidak tahu orang-orang itu maksud dan tujuannya kan berbeda-beda dengan datang ke makam-makam ini. Bahkan sampai menginap segala. Wallohualam.

Masih ada beberapa tempat lagi yang belum saya sambangi, Candi Brahu, Siti Inggil, dan Yoni Klinterejo. Lain waktu mungkin.