Showing posts with label rinjani. Show all posts
Showing posts with label rinjani. Show all posts

Wednesday, 10 December 2014

Rinjani: Pendakian Gagal Pertama sekaligus Paling Berkesan (Bagian 3-Habis)

Hari itu saya mengambil keputusan paling menyesakkan dalam hidup. Memutuskan turun meski puncak tinggal sebukit gundukan pasir saja… Gunung itu adalah gunung yang sama esok, lusa, dan seterusnya. Tak kan lari ia dikejar selama masih ada kesempatan. Dan kesempatan itu baru saja kami ciptakan dengan memutuskan untuk turun, yang artinya kami masih hidup.

Saya lupa tepatnya, pukul berapa kami tertidur, yang jelas baru pukul 6 pagi kami terbangun dan mendapati pagi yang berkabut dan gerimis. Masih sama seperti kemarin. Pucuk pucuk pohon pinus bergoyang-goyang tanda angin masih kencang di luar sana.

Beberapa pendaki keluar dari tendanya, saling menyapa untuk memastikan semuanya baik-baik saja pasca badai yang mencekam semalam meski sambil menunjuk-nunjuk betapa jeleknya bentuk tenda mereka setelah pasaknya bertahan sekuat tenaga agar tak tercerabut dari tanah Pelawangan Sembalun yang tipis akibat abrasi angin.

Saya bergidik ngeri melihat jurang dan segara anakan yang ada di bawah. Membayangkan kembali kemungkinan semalam tenda kecil kami terbawa angin dan tercebur sempurna ke danau, beserta isinya tentu.

Setelah matahari agak tinggi, kabut mulai naik dan menghadiahkan sinar-sinar jingga yang hangat. Membuat tubuh, jaket, tenda, dan semua permukaan tanah menguap. Ahh, hangat sekali. Sejenak terbersit iri kepada pendaki yang memilih waktu yang tepat di musim kemarau. Pasti mentari yang hangat akan mengiringi perjalanan mereka sepanjang hari.

Ada sejenak masa ketika (hampir) semua kabut terangkat sempurna. Menyajikan indahnya Segara Anakan, jalur pendakian Senaru di seberangnya, dan tentu saja, bukit pasir yang mereka sebut puncak. Kami akan kesana nanti, ketika angin sudah tak kencang lagi, ketika gerimis sudah tak cenderung menjadi hujan, dan ketika semangat terisi kembali. Ah ya, sudah waktunya makan pagi.

Kami bergegas mengumpulkan bahan makanan ke satu tenda, menyalakan kompor dan bersiap menanak nasi di depan tenda. Lalu tiba-tiba angin kencang kembali menerbangkan pasir membuat air rebusan kami bercampur pasir. Semakin lama angin semakin kencang dan betapa tak terkejutnya saya ketika menyibakkan pintu tenda, kabut telah kembali mengungkung sekitar. Putih, Gelap. Saya tak perlu kaget kalau hujan pun akan segera turun.

Kami menggigil mengelilingi kompor. Meski di dalam tenda, nasi yang kami masak tak kunjung matang. Badai mulai berisik kembali di luar membuat kami berempat berkumpul satu tenda dalam diam. Berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Mau apa setelah ini?

Memandangi Segara Anakan
untuk terakhir kalinya sebelum turun
See You Again 
Usai makan, kami keluar dalam gerimis, mencari informasi mengenai alternatif apa yang akan kami lakukan. Tenda bule sebelah yang semalam diterbangkan angin sudah tak ada. Mungkin sejak pagi tadi memang sudah tak ada, berkemas turun, hanya kami saja yang tak sadar gerak cepat mereka.

Kami bertanya teman di tenda yang lain, katanya mereka akan menanti lagi sehari kalau-kalau cuaca membaik. “Jadi, kalian akan tinggal di tenda ini lagi nanti malam? Di bibir jurang ini? Dengan kemungkinan badai yang sama seperti tadi malam?” Iya begitulah, semoga nanti cerah, kata mereka mengambang. Kami melanjutkan mencari penguatan alasan untuk tetap menginap di sana semalam lagi. Alih-alih mendapatkan jawaban meyakinkan, malah kami dianjurkan para porter untuk segera turun mengingat angin yang semakin kencang. Ditambah lagi ada beberapa pendaki yang nekat naik sejak dini hari sampai pukul 9 belum balik sementara puncak sudah sempurna tertutup kabut.

Meniti Punggungan Pelawangan Sembalun
Singkat cerita, saya putuskan untuk turun setelah menimbang-nimbang keselamatan rombongan. Saya tak mau bersikap oportunis terkait nyawa ketiga teman saya. Dalam gerimis kami berkemas. Lama kami kesulitan melipat tenda yang basah dan tertiup angin kencang. Akhirnya setelah sekian puluh menit, sebuah keril yang basah menggembung siap dibawa turun. Perjalanan turun tak kalah ‘menyesakkan’ dibanding perjalanan naiknya dengan hujan yang tak kunjung jeda serta kaki yang kram dan lecet dimana-mana. Hujan baru mengecil selepas Pos III. Selama perjalanan dari Pos III ke Pos II, kami baru menikmati perjalanan dengan pemandangan bukit teletabis yang luar biasa indahnya di sekeliling. Due on that, suddenly I whispering: MasyaaAllah, Lombok is a blessed island.

The Blessed Island
Pos III ke Pos II
Sebelum sampai Pos II, kami bertemu serombongan pendaki (15 orang) dari Johor Bahru dengan 2 guide yang dibawa dari ekspedisi Gunung sebelumnya: Kerinci dan Semeru, serta beberapa porter lokal yang dibawa dari kaki Sembalun. Mereka ramah dan terus menerus berbagi pengalaman pendakian sepanjang perjalanan sekalipun terdapat banyak salah paham bahasa dimana-mana ketika kami bercakap-cakap dengan bahasa Melayu. Akhirnya, kami sepakat bahwa menggunakan bahasa Inggris malah lebih nyambung. Yang paling membuat kagum adalah mereka bilang, seperti kata pendaki asing lainnya kemarin-kemarin, “Malaysia tak punya volcano, Indonesia is the best lah kalau untuk pendakian volcano. Tapi you nak mesti cuba hike Kinabalu, come Malaysia lah” tetep, endingnya jualan. Kami salut dengan mereka yang sudah datang dari jauh mengagendakan secara rutin mengunjungi gunung-gunung berapi di negara kita.

Karena terus bercerita di sepanjang jalan, kami tak menyadari kalau langkah rombongan ini cepat sekali sampai harus lari-lari kecil di banyak kesempatan untuk mengimbangi agar tetap berada di rombongan tersebut. Sudah pukul 18 sejak kami turun di Plawangan Sembalun tadi pukul 9 pagi. Artinya, sudah sekitar 9 jam kami turun tapi belum ada tanda-tanda akan sampai. Selepas Pos I, saya pura-pura mengambil senter dan mempersilakan rombongan Malaysia tersebut untuk melanjutkan dahulu. Fyuh, akhirnya ngga perlu lari-lari lagi. Iya mereka enak nggak bawa keril, cukup bawa badan saja. Lha kami?

Tinggal kami berempat di Pos I, kami melanjutkan perjalanan dalam gelap dan dalam diam. Rasanya fisik semakin lemah kalau nggak ada yang ngajak ngobrol. Sejam terakhir, sudah tak terhitung berapa kali kami terjungkal-jungkal karena kelelahan. 100 meter terakhir teman saya terduduk tak kuat lagi melangkah. Kami harus berhenti cukup lama, menyeretnya selangkah demi selangkah. Cahaya lampu pemukiman dan ladang penduduk tak pernah tampak begitu menentramkan kecuali saat itu. Alhamdulillahirobbilalamin. Terimakasih ya Rabb, saya membawa naik 3 teman dengan sehat dan kembali membawanya turun dengan selamat meski beratnya perjalanan yang kami lalui. Fix, ini adalah pendakian paling berkesan saya sejauh ini. Akhirnya, saya bisa mengerti, kenapa ada orang yang sudah melakukan persiapan naik gunung dari jauh-jauh hari dengan matang tetapi tetap gagal summit. Akhirnya juga, saya bisa merasakan sendiri badai di atas gunung seperti yang kebanyakan diobrolkan para pendaki gunung.

Epilog:
Seorang teman yang kami kunjungi di Mataram tidak percaya ketika kami katakan baru mendaki Rinjani. “di koran yang kubaca tadi pagi, ada berita Rinjani ditutup lebih awal lho… tanggal 26 Desember udah ditutup karena badai beberapa hari terakhir. Kok bisa kalian naik? Bohong nih…”

Saya tersenyum saja sambil berujar dalam hati “bagus lah kalau ditutup, kami ada di atas sana semalam, tanggal 26 Desember”

Wednesday, 3 September 2014

Rinjani: Sebuah Kisah Pendakian Gagal (Bagian 2)

Dari kami berempat, belum ada yang pernah merasakan badai di gunung, jadi kami belum tahu bahaya apa yang sedang menanti kami nanti malam jika terjadi badai lagi. Karena itulah kami mengabaikan informasi mereka dan tetap melanjutkan perjalanan.
...adalah lanjutan dari kepingan Rinjani: Sebuah Kisah Pendakian Gagal (Bagian 1)

Seharusnya kami lanjut ke sana,
ke puncak
Pagi harinya, ketika membuka pintu tenda, saya dikagetkan dengan beberapa ekor monyet yang nongkrong-nongkrong di atas jembatan depan tenda. Sepertinya mereka menanti pendaki-pendaki bangun untuk meminta remah-remah kue. Simpan bahan makanan atau barang berharga Anda dengan baik karena jika kita teledor menutup pintu, mereka akan masuk dan mengambil sendiri logistik-logistik yang kita bawa.

Monyet (satu saja monyetnya)
di jembatan Pos II
Saya berjalan di sekeliling Pos II. Dalam hemat saya, ini adalah tempat yang sempurna untuk mendirikan tenda. Mata air yang cukup melimpah, cekungan sungai diapit bukit-bukit yang melindungi tenda dari terpaan angin kencang, dan sebuah shelter. Sayangnya saat itu shelter Pos II sudah dipenuhi banyak tenda pendaki lain yang lebih dulu sampai.

Pukul 9, setelah makan pagi dengan tetap waspada dari gangguan monyet-monyet, kami melanjutkan perjalanan. Dari Pos II ke Pos III, kami melawati bukit-bukit kecil dengan pemandangan spektakuler. Aliran sungai penuh batu dan bukit teletabies  di kejauhan memanjakan mata kami sehingga tidak sadar kalau jalanan sedikit-demi-sedikit semakin menanjak. Sampai akhirnya kami sampai di Pos III. Oiya, sedari Pos II, jas hujan tak pernah kami lepas sebab hujan sering turun dengan tiba-tiba.

Tanjakan Penyiksaan dari Pos III
Pos III terletak di pinggir aliran sungai yang cukup deras. Tepat di permulaan rute tanjakan penyiksaan. Kabarnya, di Pos ini jalanan bercabang 2, yang satu ke tanjakan penyesalan, dan satunya lurus ke tanjakan penyiksaan. Saya rasa keduanya bukan pilihan yang bagus. Namun, menurut hipotesa saya, lebih baik tersiksa kan daripada menyesal? Jadilah kami memilih melalui tanjakan penyiksaan.

Tanjakan Penyesalan
Jalan zig zag di bukit itu konon tiada habisnya sambung menyambung
Tanjakan penyiksaan adalah kumpulan bukit-bukit yang saling sambung menyambung menjadi satu. Seperti kata paribahasa, di atas bukit masih ada bukit (hehe, harusnya sih di atas langit masih ada langit). Perjalanan melalui tanjakan penyiksaan serasa tiada habisnya. Di bawah guyuran hujan dan tas carrier yang makin berat karena basah, kami mendaki sedikit demi sedikit tanjakan dengan kemiringan rata-rata tak kurang dari 60 derajat. Yang sedikit menghibur adalah, gunung ini ramai sekali oleh pendaki mancanegara. Perancis, Malaysia, Belanda, China, Australia, Jerman, Belgia, New Zealand, dan UK adalah turis yang paling sering kami temui sepanjang perjalanan. Saat break, biasanya kami ngobrol-ngobrol santai dengan mereka. Kebanyakan mereka bilang “Your country is awesome, cool, etc, etc

Kami naik dari Pos III pukul 10.30 siang. Kami bertemu beberapa pendaki yang turun dan semuanya bilang kalau kemarin malam terjadi badai di atas. Tidak ada dari mereka yang summit karena angin sangat kencang dan mereka sempat menyarankan kami untuk turun saja. Dari kami berempat, belum ada yang pernah merasakan badai di gunung, jadi kami belum tahu bahaya apa yang sedang menanti kami nanti malam jika terjadi badai lagi. Karena itulah kami mengabaikan informasi mereka dan tetap melanjutkan perjalanan. Wong sudah sejauh ini, masa mundur di tengah jalan…

Pukul 16.00 kami sudah tiba di sebuah punggungan bukit dimana tidak ada lagi bukit di atasnya. Saat itu kabut tebal menyelimuti sekeliling hingga mengaburkan pemandangan apa yang terdapat di bawah bukit. Sesaat kemudian angin kencang menyibak kabut dan tampaklah pemandangan di bawahnya. Danau segara anak muncul dari balik kabut. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Plawangan Sembalun.

Plawangan Sembalun
Sudah ada beberapa tenda berdiri di sana. Sebetulnya Plawangan ini tidak terlalu bagus untuk dijadikan tempat berkemah. Letaknya di punggungan bukit tanpa ada cukup vegetasi yang melindungi. Angin berhembus dengan kencang di tempat ini dengan batas jurang di samping kanan dan kiri.

Ketika kabut dan awan tersibak
Danau Segara Anak
Segera setelah membaca situasi, kami mendirikan dua tenda di bawah cerukan pasir yang terkena abrasi angin sehingga membentuk garis-garis di dindingnya. Gerimis masih terus mengguyur saat kami mendirikan tenda. Angin yang berhembus kencang semakin menyulitkan pendirian tenda kami. Meskipun telah dipasang semua pasak, tetap saja tenda terangkat ketika angin kencang menerpa.

Setelah gelap, suasana berubah mencekam. Angin yang menggesek dedaunan dan pasir menimbulkan bunyi yang menyeramkan. Makin malam, angin berhembus makin kencang saja. Ditambah dengan hujan yang deras, membuat tenda kami bocor dimana-mana. Kilat menyambar-nyambar ditambah suara gemuruh mirip setting film horror jaman dulu.

Pukul 10 malam, terdengar gaduh-gaduh tenda sebelah diterbangkan angin. Kami tak berani keluar membantu atau melihat mereka, sebab hujan sangat deras sementara ponco kami terbang entah kemana. Kami berdua berusaha memposisikan diri di pojok-pojok tenda menahan pasak agar tidak diterbangkan angin juga.  Jika kami keluar, mungkin tenda kami akan terbang juga. Di balik sleeping bag, tiada henti-hentinya kami berdoa, beristighfar, memohon ampun atas segala dosa yang tiba-tiba terlintas begitu saja di kepala satu per satu. Kami menggigil bukan hanya karena kedinginan oleh rembesan air hujan melalui tenda yang bocor, tapi juga karena menyadari, betapa dekatnya kami dengan maut saat itu.

Yang ditinggalkan badai semalam
Sampai pukul 2 pagi kami masih terjaga karena khawatir dengan suara badai di luar dan tenda yang terangkat-angkat di ujungnya. Apalagi kami tahu betul kalau di depan dan belakang punggungan Plawangan ini adalah jurang-jurang yang dalam. Yang jelas, mustahil kami menjalankan rencana untuk summit nanti subuh dengan kondisi belum tidur semalaman. 
Sekalipun kami gagal, ada banyak memori
dan oleh-oleh yang kami bawa pulang
Terimakasih ya Allah
Terimakasih Rinjani

to be continue... (bagian 3)

Tuesday, 26 August 2014

Rinjani: Sebuah Kisah Pendakian Gagal (Bagian 1)

Pendakian itu butuh ilmu.

Pendakian itu bukan sekedar naik dan foto selfie /groupies di Puncak sambil bawa bendera.

Pendakian itu bukan hanya soal sunrise di puncak.

Dan terpenting, pendakian itu soal kembali ke rumah, dengan selamat.


Ini adalah gunung pertama yang saya gagal sampai puncaknya, tapi jika ditanya “Pendakian mana yang paling berkesan sejauh ini Mas?” Dengan mantap saya jawab “Rinjani…”
Saat terakhir melihat Danau Segara Anak,
dan kami putuskan turun...

Pendaki Cerdas

Saya tidak berhak menghakimi seseorang dengan predikat cerdas atau tidak. Siapalah saya… Hanya saja, perkenankan saya menceritakan kronologis gagalnya pendakian Rinjani kali ini agar menjadi pelajaran dan pengingat bagi saya khususnya, dan mungkin, Anda yang berminat mendaki gunung api tertinggi kedua di Indonesia tersebut, atau gunung lain apapun itu saat cuaca kurang mendukung.

Saya memilih berangkat di hari Jumat, 20 Desember 2013 sepulang kerja dengan kereta api dari Jakarta. Rutenya, Jakarta Pasar Senen – Jogjakarta Lempuyangan – Banyuwangi. Perjalanan kereta api sampai Banyuwangi memakan waktu sekitar 24 jam. Ditambah dengan bus 5 jam di Bali, Fery 5 jam di Selat Lombok, dan Travel 3 jam di Lombok sehingga totalnya, 37 jam kami habiskan sepanjang perjalanan Jakarta – Lombok. Memang sih biaya totalnya cukup murah bila dibandingkan dengan harga tiket pesawat saat peak season libur natal dan tahun baru, tapi konsekuensinya sungguh tidak murah. Meskipun tidak tampak, fisik kami sudah tidak 100% bahkan sebelum kami menginjak pintu masuk Taman Nasional Gunung Rinjani.

Sebagai PNS, rasanya sulit mendaki gunung tinggi dengan hanya memanfaatkan sabtu dan minggu. Minimal harus mengambil cuti 3 hari yang jatahnya hanya 12 hari dalam setahun (minus cuti bersama). Akibatnya banyak periode traveling saya yang memanfaatkan tanggal merah bertumpuk-tumpuk seperti pada Desember 2011 (Bali, seminggu), Desember 2012 (Semeru, 4 hari), dan kali ini Desember 2013 (Lombok & Rinjani, 10 hari). Padahal Desember dinyatakan para pakar sebagai bulan paling basah sepanjang tahun. Probabilitas untuk tidak hujan hanya sedikit dan memang saya hanya berharap keberuntungan yang besar ketika memutuskan untuk naik gunung di bulan Desember.
hujan di selat Lombok, pagi pukul 8 WITA
 Kenyataanya, sepanjang perjalanan saya menemui hujan di mana-mana. Sejak di dalam kereta hingga di atas kapal di selat Lombok, hujan mengiringi perjalanan kami. Hanya semangat membabi buta yang mampu mengalahkan logika betapa sulitnya naik gunung di saat cuaca buruk.

Puncaknya, ketika naik pick up dari aikmel ke sembalun, hujan mengguyur dengan deras. Saat itulah saya pertama kalinya merasa ragu untuk meneruskan pendakian. Sebagai “yang dituakan” di tim ini, saya diberi tanggung jawab untuk mengambil keputusan-keputusan penting menyangkut keselamatan kami berempat. Tapi mengingat perjalanan kami yang terlampau jauh dari Jakarta, rasanya nanggung kalau mau berhenti di sini.

Kami sampai di Sembalun pukul 5.30 sore dengan hujan yang tak kunjung berhenti. Setelah lapor di Pos Sembalun, kami meneruskan naik pick up ke pintu masuk yang jaraknya sekitar 1,5 km.

Di bawah rintik hujan, kami memulai pendakian. Target kami adalah Pos II. Belum juga mencapai Pos I, gelap telah datang memeluk kami. Bersyukurnya, rintik hujan telah berhenti. Jalur sampai dengan Pos II Rinjani terkenal landai tapi panjaaaaang sekali. Jika Anda melaluinya di siang hari, banyak ranjau kotoran sapi di sana-sini karena memang bukit-bukitnya jadi ladang penggembalaan sapi. Kalau malam, ya…mumpung nggak kelihatan. 

Sampai Pos I sekitar pukul 7.30 WITA. Beberapa tenda sudah berdiri di sekitar balai-balai. Menurut sumber di internet, mata air baru ditemukan di Pos II, jadi kami hanya break sebentar di Pos I untuk memasak oatmeal dan melanjutkan satu jam perjalanan lagi menyusuri jalan setapak ke Pos II dalam kegelapan.

Sesampainya di Pos II Pukul 09.00 WITA, sudah banyak tenda berdiri mengelilingi pondokan sampai tidak ada tanah lapang lagi untuk mendirikan tenda kami. Kondisi di Pos II cukup ideal karena tertutup 2 bukit dan berada di pinggir aliran sungai dengan jembatan lebar menghubungkan keduanya.

Karena sudah larut malam dan badan kami kepayahan, akhirnya kami putuskan mendirikan tenda di atas jembatan. Kami belum tahu kalau di jembatan itu banyak makhluk tak diundang yang berlalu lalang.


To be continue ke Bagian 2...

Wednesday, 5 March 2014

10 Days Traveling Budget to Lombok

Berikut ini rincian pengeluaran yang saya habiskan selama 10+1 hari perjalanan ke Lombok dari Jakarta pada akhir Desember 2013.


Preparation Day
Taksi
Rp
15.000
Kantor-Stasiun Senen
Tiket Kereta Progo
Rp
85.000
Jakarta-Jogjakarta

Rp
100.000


Day 1

Sarapan di Lempuyangan
Rp
7.000
Gudeg
Tiket Kereta Sri Tanjung
Rp
85.000
Jogjakarta-Banyuwangi
Makan Malam di Pelabuhan Ketapang
Rp
7.000
Rames lauk Ayam
Tiket Kapal Ferry
Rp
6.500
Ketapang-Gilimanuk

Rp
105.500


Day 2
Bis Mini Gilimanuk-Padangbai
Rp
40.000
Bali
Sarapan di Padangbai
Rp
6.000
Nasi Bungkus
Tiket Kapal Ferry
Rp
40.000
Padangbai-Lembar
Charter Mobil Avanza dari Padangbai-Aikmel
Rp
43.000
300.000/7 orang
Makan di Aikmel
Rp
8.000
Soto Sasak
Pick Up Aikmel-Pos Lapor TNGR- Desa Sembalun Lawang
Rp
25.000
Kalau hanya sampai Pos Lapor Rp 20.000
Karcis Pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani
Rp
3.000


Rp
165.000


Day 3
Pintu Masuk Desa Sembalun Lawang - Pos II ---Tak Ada Biaya
Day 4
Pos II - Plawangan Sembalun --- Tak Ada Biaya
Day 5
*Turun dari Plawangan Sembalun sampai di Desa Sembalun Lawang pukul 21.00
Makan Malam di Warung
Rp
10.000
Lauk Telur Porsi Kuli
MCK
Rp
2.000

Air Mineral 1,5 L
Rp
5.000
Merk NTB
Menginap di Gazebo Pemilik Warung
Rp
0
Gratis

Rp
17.000


Day 6
Sarapan di Warung
Rp
10.000
Lauk Telur Porsi Kuli
Pick Up
Rp
20.000
Sembalun Lawang-Aikmel
Dongkel (Elf) Aikmel-Kota Mataram
Rp
17.000
Tertipu, harusnya 15.000
Angkot 2x
Rp
10.000
Pakai Nyasar
Makan Siang
Rp
15.000
Gudeg, di Lombok?
Bensin
Rp
10.000

Sewa Motor
Rp
50.000


Rp
132.000


Day 7
Sewa Motor
Rp
50.000

Bensin
Rp
15.000

Oleh-oleh Makanan
Rp
100.000
Phoenix
Oleh-Oleh Kaos
Rp
100.000
Arif dan Lombok Excotic
Oleh-oleh Pernak-Pernik
Rp
100.000
Samping Mataram Mall
Sarapan
Rp
9.000
Nasi Balap Pucung
Makan Siang
Rp
30.000
Sate Rembiga
Makan Malam
Rp
10.000
Plecing Kangkung
Parkir
Rp
2.000
Pantai Malimbu
Parkir
Rp
2.000
Kota Mataram
Parkir
Rp
2.000
Pura Mayura
Parkir
Rp
2.000
Pura Batu Bolong
Biaya Masuk Pura Batu Bolong
Rp
10.000
Sukarela

Rp
418.000


Day 8
Sewa Motor
Rp
50.000

Bensin
Rp
15.000

Sarapan
Rp
4.000
Nasi Bungkus Lauk Ayam
Makan Siang
Rp
4.000
Nasi Bungkus Lauk Telur
Parkir Masuk Pantai Pink
Rp
5.000

Makan Malam Di Pantai Kuta
Rp
14.000
Nasi Goreng Jawa
Teh Hangat
Rp
3.000

Biaya Parkir, Menginap, Toilet, dan Uang Terimakasih
Rp
10.000
Ke penjaga Musola di Pantai Kuta
Oleh-oleh Kain Tenun
Rp
100.000
Sarung dan Selimut
Snack
Rp
10.000
Minimarket Lokal

Rp
215.000


Day 9
Sewa Motor
Rp
50.000

Bensin
Rp
15.000

Tour Guide Desa Adat Sasak, Sade
Rp
10.000
Seikhlasnya sih…
Kain Songket
Rp
70.000
Ditawar sampai mampus
Sarapan
Rp
10.000
Nasi Balap Pucung
Makan Siang
Rp


Makan Malam di Gili Trawangan
Rp
12.000
Lauk Udang, Ayam, Ati Rempelo, dll.
Parkir Inap di Pelabuhan Bangsal
Rp
10.000

Perahu Bangsal-Gili Trawangan
Rp
13.000

Air Mineral 1,5 L
Rp
5.000
Merk NTB

Rp
195.000


Day 10
Sewa Motor
Rp
50.000

Bensin
Rp
15.000

Sarapan
Rp
6.000
Nasi Pucung Khas Lombok
Perahu Gili Trawangan-Pelabuhan Bangsal
Rp
13.000

Makan Siang
Rp
20.000
Gudeg
Oleh Oleh Mutiara
Rp
200.000
Sekarbela Mataram
Oleh Oleh Kaos dan Pernak-pernik
Rp
100.000
Arif
Bis Damri
Rp
15.000
Sweta-BIL Praya
Airport Tax
Rp
20.000
BIL Praya
Tiket Pesawat LOP-CGK
Rp
830.000
Lion Air
Snack buat bekal di pesawat
Rp
10.000

Taksi CGK-Kosan Bintaro
Rp
80.000
160.000/2

Rp
1.359.000


Rekap Dalam 10 Hari
Day
Expenses
Pre Day
Rp
100.000
1
Rp
105.500
2
Rp
165.000
3
Rp
0
4
Rp
0
5
Rp
17.000
6
Rp
132.000
7
Rp
418.000
8
Rp
215.000
9
Rp
195.000
10
Rp
1.359.000
Total
Rp
2.706.500

Rute Lombok Overland Trip Saya Nih...
Catatan:
  • Tidak ada pos pengeluaran untuk penginapan. Selama 10 hari tersebut saya hanya tidur di tenda ketika di Rinjani, dan tidur di Gazebo/Masjid menggunakan sleepingbag selama trip ke seluruh pulau. Sebetulnya harga penginapan di sana tidak terlalu mahal sih, masih ada penginapan/losmen a la backpacker dengan harga Rp 100.000,00 per malam. Namun, lumayan berat juga Rp 100.000 kalau dikalikan dengan 5 hari. Toh sepanjang siang kita kelayapan kemana-mana. Jika tetap mau menginap di penginapan, silakan tambahkan sekitar Rp 500.000. Hihi.
  • Yang cukup signifikan juga dalam rincian biaya di atas adalah pengeluaran untuk oleh-oleh which is relatif dan tidak wajib. Anda bisa menghemat jumlah di atas sampai dengan Rp 600.000 kalau tidak membeli oleh-oleh sama sekali. Namun, di sana, oleh-olehnya sangat unik dan layak untuk dibeli kok. Malah rugi menurut saya kalau sudah jauh-jauh ke Lombok tanpa memborong songket dan mutiara laut selatan.

    Terakhir, Selamat nabung merencanakan perjalanan ya… Enjoy Wonderful Lombok!