Wednesday, 7 March 2012

Laporan Keuangan Backpacking Bromo


No. MAK
Rincian
Perluasan MAK
100
Transportasi
101 -> Transportasi Berangkat


102 -> Transportasi Sewa Motor


103 -> Transportasi Pulang
200
Konsumsi
201 -> Makan Besar


202 -> Snack dan Minum
300
Tiket Masuk dan Parkir Wisata
301 -> Hari Pertama


302 -> Hari Kedua


303 -> Hari Ketiga
400
Penginapan
-
500
Oleh-Oleh
-
600
Lain-lain
-
-------------------------------------------------------------------------------
  
Kode MAK
Rincian
Biaya (Rp)
Info Tambahan
101
Bus Kuning
10.000
Terminal Mojokerto-Terminal Pasuruan
101
Bus Akas
7.000
Terminal Pasuruan-Terminal Probolinggo
101
Bus xx (lupa nama)
1.000
Terminal Probolinggo-Perempatan Kraksan
101
Mobil Patroli Polsek

Gratis, Perempatan Kraksan- Pasar Patalan
101
Ojek Motor
6.000
Patalan-Rumah Pak Hamid (2x PP @Rp3.000)
101
Elf
15.000
Patalan-Cemoro Lawang
201
Nasi Pecel
7.000
@Pasar Patalan
201
Nasi Pecel
7.000
@Cemoro Lawang
201
Nasi Pecel
7.000
@Kaki Gunung Bromo
202
Air Mineral
3.500
Merk Alamo
202
Kacang cap Panda
2.000
Iuran, buat bekal naik Penanjakan
202
Jahe Panas
4.000
@Cemoro Lawang
300
Tiket Bromo
6.000
Terdiri atas Tiket Masuk local (2.000), Asuransi (2.500) dan Retribusi Pemkab Probolinggo (1.500)
400
Rumah Penduduk
50.000
Total serumah 300.000 dibagi ber-6
102
Ojek Motor Bromo
37.500
~Forever Warm~ Per motor 75.000
600
Kaos Bromo
17.000

600
Topi Hangat
8.000

600
Sarung tangan
3.000

103
Elf pulang
25.000
Cemoro Lawang-Terminal Probolinggo
103
Bus Ladju Utama
6.000
Terminal Probolinggo-Terminal Pasuruan
103
Bus Kuning
10.000
Terminal Pasuruan-Terminal Mojokerto
103
Colt Hijau
30.000
6 orang @ Rp5.000
TOTAL

262.000

kami: *buang uang ke kawah bromo*
lalu raksasanya bilang: terimakasih, datang lagi lain kali ya...
kami: yonkru...

Tuesday, 6 March 2012

Mencintai Pajak Seutuhnya


Mencintai pajak? Jelas hal ini tidak pernah terpikirkan oleh saya. Bahkan minggu lalu saya masih berkata “saya tidak suka segala hal yang berkaitan dengan pajak”. Lalu, apakah judul tulisan ini hanya lelucon? Tidak, sekarang, detik ini, (dan semoga sampai kapanpun) saya mencintai pajak dan direktorat jenderal pajak sepenuh hati.

10 tahun lalu

2002, adalah awal saya masuk SMP. Menyadari bahwa saya dilahirkan di tengah keluarga yang sederhana, saya merasa tak akan punya banyak pilihan seusai lulus SMA nanti. Mungkin saya pintar di sekolah, tapi yang saya tahu saat itu, kepintaran tak serta merta membuat Anda dapat kuliah dengan mudah.

Lalu, beberapa paman saya lulus dari STAN, sebuah sekolah gratis (yang saya tahu sebatas itu saja) menunjukkan bukti kecukupan ekonomi seusai lulus dari sana. Berbekal dari latar belakang itu saya bermimpi akan sekolah sana suatu hari nanti.

7 tahun lalu

2005, sungguh masa yang berat. Alhamdulillah, demand di warung Ibuku berbanding lurus dengan mahalnya biaya beli buku di SMA saya. Makin termotivasilah saya untuk masuk STAN yang katanya di sana buku kuliah dipinjami gratis.

2005 pula, saya mengenal pelajaran ekonomi. Saat itu mulai sedikit paham dengan pajak. “gila ya, Negara ini nyuruh orang bayar uang tapi kok gak dikasih apa-apa yang nyata”. (mulai agak komplain dengan pajak)

2006, Ibu menyarankan saya masuk STAN. (oke, bundaaaa, saya bahkan sudah mimpi sejak SMP. *toss dulu)

2007, saudara dan tetangga sekitar mulai tahu bahwa saya ingin masuk STAN, komentarnya, “wah, enak itu, nanti kerja di pajak. lahan basah itu. Bisa banyak uang kamu di sana”. Bukannya senang, saya mulai merasa ragu dengan kampus impian. 2007, tetangga sebelah masuk prodip I Bea Cukai. Seusai lulus dari sana, kami kerap berbincang lama. Darinyalah saya tahu bahwa ‘iklim’ di STAN sangat bagus, kondusif dan agamais. Terpenting, ada jurusan lain yang tidak berhubungan dengan pajak. Bismillah, jadilah saya tetap berteguh hati mimpi masuk STAN.
2008. sepanjang tahun saya latihan buku Ujian Saringan Masuk STAN dan kesana kemari (*efek ketenaran ayu ting-ting) ikut Try Out USM. Saat USM, dengan bekal doa ibu, mimpi, dan persiapan matang, I know nobody can’t stop me. Dalam pilihan jurusan, saya menjauhi/tidak memilih segala hal yang berbau pajak seperti Administrasi Perpajakan atau Pajak Bumi Bangunan.

2008 akhir saya diterima di STAN jurusan Akuntansi Pemerintahan. Senang sekali saya. Meski tak punya uang buat masuk Fak.Kedokteran, tapi jurusan ini dikatakan mirip jurusan Akuntansi STAN lhooo. Mahasiswanya buanyak (900an) plus mereka semua keren gila!

Sebagian besar teman kos saya dari jurusan pajak. Seringkali saya main olok-olokan jurusan (betul, mirip anak kecil ya?) dan sudah pasti, saya yang dikeroyok enam orang mahasiswa pajak pasti kalah debat dengan mereka.

2009 akhir, kakak kelas kami dari jurusan pajak (dan penempatan setjen-pengadilan pajak) menjadi headline berbagai media. Tiba-tiba saja setiap orang di mana-mana bicara pajak dan Gayus. Tentu bukan suatu pembicaraan yang enak didengar bagi kami, mahasiswa STAN. Meski sebisa mungkin tak acuh, panas juga telinga ini mendengarnya.

Kemudian terminal di dekat Jalan Gatot Subroto (kanpus DJP) berubah nama jadi terminal Gayus, dan kemudian kanpus DJP disebut-sebut oleh para kondektur metro mini  sebagai kantor Gayus. Duh Gusti…

Itu sudah? Belum…

Selanjutnya, banyak curhatan yang dibicarakan teman-teman di kampus. Ada yang diolok-olok tetangga mereka, dicibir, dicap bahwa kami adalah penerusnya Gayus, dsb. Saya sendiri, ‘hanya’ selalu diceramahi agar jangan sampai seperti Gayus oleh tiap orang yang saya temui. Awalnya saya menganggap positif ceramah mereka. Lama-lama saya bosan juga. Betapa mudahnya mereka mengecap kami semua sama jahat dan bobroknya dengan Gayus. Noted: kami mahasiswa lho yang notabene belum tahu banyak hal dalam dunia kerja.

Saat saya mulai jenuh, saya mulai berkata, “saya lho nanti nggak kerja di pajak, nggak akan”. “saya lho jadi auditor BPK atau BPKP”. “justru kerjaan saya nanti nangkepin orang-orang kayak Gayus”. Padahal saya tidak tahu pasti dimana saya akan ditempatkan.

2010-tingkat 2
Saya makin aktif di organisasi audit.

Allah mengikuti persangkaan hambanya.  (diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.)
Semesta mendukung. (Yohannes Surya)
Mimpilah, letakkan impianmu 5cm di depan keningmu (Donny Dhirgantoro)

Lalu saya simpulkan, Anda, adalah apa yang Anda pikirkan (Sandstory).
Saya terus berpikir saya akan penempatan BPK, mencintai buku auditing, dan tidak membuka hati untuk instansi lain.

2011-tingkat 3

Makin hari, saya makin cinta audit. Tiap hari saya berdoa agar dikabulkan jadi auditor. Namun, tetap, di akhir bisikan doa saya, selalu saya katakana “apabila itu baik bagiku, maka kabulkanlah ya Allah”

21-02-2012 (Lihat, tanggal ini sungguh simetris)

Pengumuman instansi, DIREKTORAT JENDERAL PAJAK!
--------------------------------------->>>>>> rememori <<<<<<<----------------------------------------

Rabu, 1 Maret 2012

Kami diwajibkan lapor ke Kantor Pusat DJP Jalan Gatot Subroto. Tak ada kejadian yang mampu membuat saya lebih bahagia dengan takdir ini.

Kamis, 2 Maret 2012, Gd. Dhanapala, Kementerian Keuangan

Pembekalan Lulusan Prodip III Keuangan STAN 2011. Ada sedikit harapan bahwa saya akan mampu survive di sini. Berteman dengan 1.607 alumni STAN 2011 (yang tersebar di 11 instansi kemenkeu), saya yakin saya akan menemukan semangat dan benar-benar mensyukuri penempatan ini.

Jumat, 3 Maret 2012, Aula Chakti Budhi Bakti, Kanpus DJP

Pembekalan Lulusan Prodip III Keuangan STAN 2011 penempatan DJP

Sesi Pertama: oleh sekdirjen pajak Bapak Herry Sumardjito
Saya simpulkan, beliau orang baik dan tulus. Betapa menyengkan mendengar wejangan beliau terhadap 495 pegawai baru DJP ini. Sedikit asa membuncah. Ini pekerjaan mulia, Negara bergantung pada penerimaan pajak dan kamilah yang nantinya akan bergabung dengan 36.000 pegawai DI SELURUH INDONESIA mengumpulkan pajak dan mengawal keuangan Negara.

Sesi Kedua: bersama Dirjen Pajak Bapak A.Fuad Rahmany
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/21/197451/4/2/Tjiptardjo-Dicopot-Fuad-Rahmany-Jadi-Dirjen-Pajak

Subhanalloh, beliau keren sekali. Baru tahu saya. Langsunglah beliau menjadi idola saya seketika. Betapa bagus cara bicara beliau, runtut, dan terstruktur. Beliau mengutarakan hal-hal yang sederhana kok. Sama seperti materi kuliah kami di semester 1 dulu. Namun, dengan cara peyampaiannya yang maksimal, hal itu jadi berarti.

Saya tahu, sejak dulu pajak itu penting. Tapi seberapa ‘penting’ itu penting saya paham sebatas textbook. Pak Fuad memahamkan.
our marvelous father

Saya juga tahu, target Negara terhadap DJP luar biasa berat, tapi ‘seberat’ apa itu juga hanya bisa saya raba dari buku pengantar perpajakan. Dan Pak Fuad menjelaskan.

Saya dari dulu juga tahu, kalau DJP sangat vital, tapi terus tergerus oleh berita dan cemoohan tetangga terhadap Gayus dan kami. Pak Fuad menjelaskan apa akibat jika DJP meleset sedikit saja dari target yang diberikan.

Saya tahu juga, Pak Fuad juga mengatakan, pasca badai kasus Gayus, saat ini muncul juga 'kemungkinan' bencana DA & DW yang menguras kepercayaan masyarakat terhadap pegawai pajak. Dan beliau juga sedang bersusah hati. Namun beliau meyakinkan kami untuk terus bersabar.

Paling berkesan ketika Beliau bilang, “masih untung lu, bisa ngirup udara tiap hari di Indonesia, coba kalo lu ada di Timur tengah yang negaranya perang mulu tiap hari. Pasti tidur gak pernah tenang. Biar aman harus ada apa? Tentara dan polisi kan? Biar tentara mau njaga perbatasan, biar polisi mau jaga keamanan harus apa? Digaji kan? Coba, tentara dan polisi gak digaji atau setidaknya dipotong gajinya? Gak mau kerja pasti. Nah, gaji itu Negara duit darimana?”

Ah, ini cukup untuk membuat saya mencintai Direktorat Jenderal Pajak. Saya yakin, selanjutnya, saya bisa bekerja dengan hati. Sudah ikhlas dengan penempatan ini.

Sebelumnya, saya selalu takut bila sudah bekerja tapi belum menemukan motivasi yang mampu membuat saya nantinya bekerja dengan tulus dan sepenuh hati.

Alhamdulillah, terimakasih Pak Fuad. Abdi kami padamu, pada instansi ini, pada negeri ini.

Mojokerto, 6 Maret 2012

    
   

Sunday, 5 February 2012

Bali Last Day

Sampai dimana ya kemarin…?

Oh ya, sampai tertidur di pasir pantai Kuta.

Hampir pukul 1 dini hari saya merasa besok akan masuk angin kalau diteruskan tidur di pantai seperti itu. Jadi saya pun balik ke penginapan diikuti Mbak Amel, Iza, dan Dedi. Yang lain? Wallohualam. Pada hari biasa, jalanan agak sepi jam segitu, tapi kalau malam sabtu, beuh, angin rasanya bau bir.
Meski diskotik di bawah penginapan kami sangat berisik, saya bisa tertidur pulas. Katanya sih teman2 pada lihat sampai pukul 4 an pagi. (padahal kami janji bangun pagi buta mengejar matahari terbit di sanur).

04.30 WITA.

Seperti biasa, bangun lebih awal. Sepedaan sebentar melihat apa yang disisakan orang-orang dalam pesta semalam di jalanan Kuta.

(hot) sunrise
Dua hari sebelumnya, selalu sulit membangunkan teman-teman, tapi kali ini tidak terlalu. Mungkin setiap dari kami menyadari bahwa ini adalah hari terakhir kami di Bali dan penginapan serta sewa motor hanya sampai nanti pukul 11. Pukul 5.30 sudah berangkat menuju Sanur. Pakai acara bensin habis, tersesat, tertinggal, dan saling menunggu membuat kami terlambat sepersekian menit melihat sang surya muncul dari balik selat Lombok. Baru saya tahu, sunrise juga sangat panas ternyata. Apa karena ini Bali ya? Di Bromo enggak tuh (bersiap dijambak Iza, dicakar mbak Amel, dilempar puntung rokoknya Iwan).

Sanur adalah pantai “tua” yang sangat eksotis, dulu. Saya duga, dulu pantai ini jadi wisata pantai yang paling iconic di Bali (mungkin karena letaknya yang ada di ibukota ya…). Namun karena sudah melewati titik jenuh dan banyaknya sampah yang terselip di sana-sini, pantai lainnya jadi alternative. Tapi tetap sih, tempat paling asik buat lihat sunrise ya Sanur ini (itulah kenapa Sanur dijuluki pantai matahari terbit).     

Selanjutnya, tanah Lot. Terjadi sedikit perdebatan dalam memutuskan apakah sebaiknya mandi di pantai Kuta saja, atau menuju Tanah Lot Tabanan. Saya sih, selalu yakin bahwa tak lengkap kalau ke Bali tanpa ke Tanah Lot. Kenapa? Sebab di rumah setiap tetangga saya yang ernah ke Bali, selalu memajang foto dengan begron Pura Laut ini.

Sumpah, kami sangat tersesat dan terjebak macet selepas meninggalkan jalan raya utama Pulau Bali. Muter-muter di Gianyar. Nanya Pak Made1 nunjuknya ke arah sana (nunjuk utara), Pak Made2 nunjuk ke barat, Pak Made3 bilang enggak tahu. Akhirnya kami percaya peta saja lah. Thanks God. Sampai Tabanan juga.

Agak berbeda dengan berkilo-kilo sebelumnya di Denpasar dan Gianyar kota. Menuju Tanah Lot ini jalanan masih lengang (ternyata terkenalnya memang orang2 berkunjung ke Tanah Lot saat sunset) dan sawah dimana-mana. Ngebut.

Sampai parkiran Tanah Lot, ibu saya telfon (pantesan perasaan daritadi nggak enak. Hahaha, maaf ya Ibuk).
……………………. (dialog rahasia)
Ibu         : wis sarapan opo Nang?
Saya       : dereng.
Ibu         : lho kok dungaren?
Saya       : oh, enggeh, lagi ten njawi.
Ibu         : nang endi?
Saya       : err, (hening lama
àkarena bingung) Tanah Lot
Ibu         : oh, Tanah Lot (hening lebih lama dari hening saya tadi
àkarena masih belum nyambung). (lama kemudian)
Ibu         : lho nang Bali? masyaAlloh, mblarah ae. Kok gak matur ibuk se?
Saya       : nken nek matur mesti mboten angsal. Kulo pun bade wangsul kok buk.
Ibu         : yowis, sing ati-ati lho yo Nang.
Saya       : (fiuh, leganya…)

 
Di pantai bercadas, kami foto-foto. Banyak sekali. Membuktikan kalau memang Tanah Lot ini objek wisata paling fotogenik di antara objek lainnya yang kami kunjungi sedari lusa. Males saya terjun basah-basahan. Pasti tasnya jadi berat bawa pulang baju basah. Berdarah-darah, semua, kecuali saya dan Dedi, bela-belain foto loncat di atas cadas dengan begron ombak. Spektakuler sih hasil jepretannya.

adegan berbahaya, (tapi) boleh ditiru

Oh ya, terimakasih buat I Made Adi Primanta yang bersedia kami repoti buat nanya mulu. Baru saya tahu belakangan kalau yang di-sms-i Iwan itu juga Anda. Pasti ribet sekali ya. Sayang sekali kita semua tidak bisa jumpa di Tanah Lot. Padahal jam 10 pagi itu, saya berharap ada yang datang dan bawa nasi 10 bungkus. Untung Anda nggak datang ya. Haha. (tidak bercanda)

Dari Tanah Lot-Kuta ngebut juga. Saya dan Fauzi ketingggalan rombongan. Ngikuti papan penunjuk jalan kok rasanya ya muter2 saja. (serius malu betul saat nanya orang2 di Jalan Raya Legian, dimana Kuta berada… Padahal tinggal lurus saja). Eh ternyata kami semua juga terpencar dan tersesat masing2. Jadi pulangnya satu per satu. Tepat pukul 11 pemilik rental motor sudah nunggu.

Usai berkemas dan sarapan di KFC KutaBex (ecie, backpacker masuk resto!) kami carter carry ke Erlangga di Denpasar.

Beli oleh2, sholat Dhuhur dan Ashar, serta makan siang.

Tips, sok akrablah dengan penjual warung, alih2 sesama orang Jawa, pakailah bahasa Krama dengan beliau. Niscaya sepotong ayam ekstra besar akan ditambahkan ke piring Anda.

Calonya Ubung, beuh hati-hati kakak. Bisa ciut nyali kalau dikerubungi calo sebanyak itu. Padahal mereka menawarkan tiket bis yang ratusan ribu harganya. Langsung saja masuk ke bis abu-abu (agak jelek) yang ngetem di depan terminal, tujuan Gilimanuk, IDR 25.000.

Sampai Gilimanuk, kami beli tiket sendiri di pelabuhan. Sepi sekali. Menunggu pagi, kami tidur di mushola di Ketapang. Ketemu dengan Bli yang mau ke Malang. Asalnya dari tepian danau Bedugul. Katanya banyak muslim di desanya dan ada masjid juga. Tahu gitu hari kedua Jumat kemarin kami ke Bedugul saja sekalian solat Jumat. ><.

sampai lecek petanya
Sebelum tidur saya cek kantong jaket dan saya temukan peta Bali. Ada Taman Ujung, Yeh Pulu, Goa Gajah, Besakih, Bedugul, Beratan, Lovina, Tampaksiring, Benoa, Nusa Dua, Mengwi, Sangeh, dll yang belum kami kunjungi. Lihat, ada banyak alasan bagi kami untuk kembali lagi backpacking ke Bali suatu hari nanti. Lombok juga belum. Semoga. Aamiin.    

Tanah Abang, awal
Banyuwangi, akhir




Wednesday, 11 January 2012

Hari 2: Ubud-Kintamani-Toya Bungkah

Karena kami rombongan besar, maka kata mufakat sukar sekali didapatkan. Susah untuk bisa berangkat pagi-pagi mengejar sunrise (selalu ada yang masih tergeletak di kasur), memilih tempat wisata mana yang harus didahulukan, dsb. Perlu usaha ekstra untuk mempersuasi banyak orang. Akan tetapi, ya itu doang sih susahnya kalau rombongan besar, sisanya, amat sangat mengasyikkan (dan murah!!).

Seperti hari itu, pagi jam 5 masih pada belum bangun, jadilah cuma berdua jogging sama Ahmad di pantai (cerita sebelumnya). Kalau hari 2, kami sudah rencanakan akan mengujungi pegunungan di Bali tengah. Jadi, kami berangkat ke Ubud langsung. Berbekal peta yang dihafal semalam, sampailah di Ubud yang berjarak sekitar sejam perjalanan motor (pake bingung dan nyasar dikit). Dsinggggggg, dimana objek wisatanya? Emang ada objek wisata apa di sana? Zzzzz, bahkan kami pun belum tahu. Mau tanya orang bingung nanya apa, mau nyari sendiri, tak tahu nyari dimana. Finally, kami beberapa nanya ke penduduk,

Kami: “permisi pak, Ubud yang terkenal itu, dimana sih pak?”
Pak Made1: “ya ini dek, daerah Ubud”
Kami: “lho, kok gak ada apa-apanya, katanya bagus bgt…”
Pak Made2: “memangnya adek mau cari daerah mana?”
Kami: “dengar-dengar, yang ada sawah bagus-bagus (baca: subak) itu di daerah Ubud pak.. (mulai frustasi)”
Pak Made1: (bercakap-cakap sebentar dengan pak Made2), “Oh, lurus saja”
Kami: “baiklah pak, terima kasih”

Kami pun tak yakin, yang dimaksud lurus itu arah yang sebenarnya menuju sawah (yang sering jadi cover majalah itu) atau hanya cara supaya kami (yang lagi bingung dengan pertanyaan sendiri) segera pergi dari hadapan Pak Made1&2.

Akhirya, mondar-mandir kami di jalanan Ubud menghabiskan bensin. Saat melihat papan penunjuk jalan yang berisi tulisan Gianyar, saya ingat punya teman rumahnya Gianyar, (hey, ini Gianyar bukan? LoL pikir saya) Pande. Sudah pukul 10.30, hampir masuk waktu jumatan WIB, pasti ia mau berbaik hati mengantar kami ke masjid terdekat. TERDEKAT.

Sambil menunggu Pande, kami ke Monkey Forest Ubud. Tiket masuk Rp20.000,00. Tentu kami nggak masuk dong. Hey, masa’ mau lihat monyet doang harus bayar semahal itu? (belakangan saya tahu dari Lonely Planet kalau ada pura nya yang bagus serta pemandangan di dalam cukup aduhai). Foto-foto doang lah kami di sana (baca: pintu gerbangnya saja).

Singkat cerita, ketemu Pande juga akhirnya dan kami diantar ke Masjid tempat solat Jumat. Ternyata, masjidnya berkilo-kilo jauhnya. Hanya ada satu di Kabupaten Gianyar, Masjid Agung Al-A’la. Sampai di sana, 11.45. Makan dulu lah di dekat masjid, sambil nunggu adzan. Selesai makan belum juga ada tanda-tanda akan ada solat Jumat. Oh, ternyata Jumatannya baru pukul 13.30 WITA toh. Tahu gini kami tadi jalan-jalan dulu -.-“. Terkantuk-kantuk di masjid lah akhirnya.
masjid "terdekat". Model: Pande dan saya (tampak punggung)

***********************************khotbahjumat**************************************

Usai jumatan, saya minta Pande untuk menjadi guide kami di sisa hari ini. Oke dia mau. Tapi, anehnya, sebagai orang asli Bali, kenapa dia kurang antusias ya memperkenalkan keindahan objek-objek wisata di sekitaran rumahnya? Ini nih contohnya. Waktu bercakap-cakap, kami bertanya:
Kami: “Goa Gajah yang kita lewati barusan, bagus nggak?”
Pande: “Enggak, aku terakhir ke sana pas SD, sekarang nggak mau lagi.”
Kami: “Kalau Gianyar, punya apa yang terkenal?”
Pande: “ada sih, Puri Gianyar, semacam keraton Jogja gitu.”
Kami: “Waw, Yuk, kesana. Bagus nggak?”
Pande: (diam sejenak). “Ya gitu, baagus siih…” (bayangkan intonasi datar mengekspresikan keengganan).

>>Dalam dialog lain:
Kami: “eh, ke Besakih aja.”
Pande: “mau ngapain?”
Kami: *zzzzzzzzzzzz

>>Atau yang lainnya:
Kami: “kalau istana tampaksiring?”
Pande: “itu tadi jalannya, kalau ke sana ya pasti tutup, orang gak untuk umum kok.”

>>Atau yang lainnya lagi:
Kami: “kalau Bedugul Bli?”
Pande: “itu jauuh, kalau kalian mau ke sana, aku nggak ikut ya.”
Kami: *hiks, gigit peta

>>Atau yang lainnya (janji ini yang terakhir):
Kami: “kata temanku, taman ujung itu bagus loh Bli. Pernah ke sana nggak?
Pande: pernah, tapi ya kayak taman biasa, nggak terlalu menarik menurutku. Rame, ada tempat kumpul keluarga2 gitu.”
Kami: “oh, kalau pura yang bisa buat mandi/cuci muka pakai air suci itu, ada nggak sih, ntu dimana? Pengen nih kami ke sana.”
Pande: “ada sih, di bawah istana tampaksiring itu ada. Tapi nggak tahu kalian boleh masuk apa enggak.”
Kami: *emaaaaak, kami mau pulang saja. TT

Akhirnya, hasil lobi menghasilkan, “Pande mau mengantar kami, ke Danau Batur”.

danau batur dan gunung batur

view from kintamani
Jauh, berkelok-kelok, jalannya ekstrim, dan dingin. Sampai kram ini (maaf) pantat duduk di atas motor. Namun, panoramanya “subhanalloh” sekali. Daebak (kalau kata Iza). Pantas, Indonesia mendaftarkan kawasan kaki gunung Batur, gunung Agung, dan Danau Batur sebagai Taman Geopologi dunia ke Unesco. Batu-batuan purbanya, mirip sama yang di filmnya Julia Roberts itu (emang iya!).
Sampai Danau Batur, kami ditawari naik perahu ke seberang desa untuk melihat mayat yang diikat di pohon-pohon di Trunyan (yang konon, gak berbau apa-apa), Rp50.000 per orang. Alamak, dipikirnya kami punya uang... Haha.

Senja, kami makan sore ditemani anjing local yang unyu (sebelum ini, saya sangat tidak suka anjing, setelah saat itu, saya mulai terbiasa dan tidak tidak suka berlebihan dengan anjing).
Pulang, berpisah dengan Pande di Ubud. Suksma Pande.

Dari Ubud, kami ke Denpasar mencari hiburan malam (alamak bahasanya! Haha, hanya cari toko souvenir di Erlangga kok), hasil kebiasaan saat berangkat ke Kintamani yang jalannya sepi, membuat kami memacu motor berlebihan (baca: kebut-kebutan). Padahal itu di jalanan ibukota lho. Ngeri sekali saya. Sampai banyak istighfar saya dibuatnya.

Demi apaaa, anak baik-baik macam saya ikut kebut-kebutan di jalanan Denpasar malam-malam gini.” (facebook post)

Sampai kosan pukul 21 lewat. Jumat malam, di jalanan Legian lebih banyak turis yang berkeliaran dibanding hari lainnya (mungkin karena sudah mulai weekend). Musik ajeb ajeb dan laser warna-warni pun makin semarak dimana-mana. Tak mau tidur awal, kami beramai-ramai menuju pantai Kuta (yang gelap gulita-tapi berisik ombaknya). Ngobrol ngalur ngidul sampai tengah malam. Hingga satu persatu terlelap di atas pasir, menguraikan kelelahannya..