Thursday, 30 April 2015

Bandar Lampung, Gerbang Sumatera Yang Elok

Sudah lama saya ingin menginjakkan kaki di Sumatera dan tempat-tempat lain di Nusantara yang belum saya kunjungi. Rasanya menyenangkan membayangkan berjumpa tempat baru, terpisah lautan, dengan penduduk dan kultur baru.

Singkat cerita, akhir tahun 2014 kemarin saya ditugaskan oleh kantor ke Bandar Lampung. Girang hati ini menyambut tanggal keberangkatan. Tiap ada kesempatan, saya buka internet mencoba mengumpulkan keterangan tentang tempat-tempat menarik yang harus dikunjungi di sana. Menara Siger, Patung Gajah, Way Kambas, Pantai Kelumbayan, Teluk Kiluan, dan Pahawang ada dalam dream destination saya saat itu. Yakali perginya sebulan... Padahal cuma 2 hari.

Menjelang keberangkatan, saya putuskan untuk naik pesawat ketika berangkat, dan pulang naik Royal Damri agar pengalaman darat, laut, udara bisa didapatkan sekali perjalanan. Harga tiket Garuda Jakarta - Lampung yang hanya berjarak 165 km ternyata lebih mahal lho saat itu daripada harga tiket di hari yang sama rute Jakarta – Surabaya yang jaraknya mencapai 784 km.

Pesawat kami mendarat di Bandara Internasional Radin Inten II Lampung setelah mengudara tak lebih dari 40 menit. Bagusnya, mendarat di Bandara kecil, kita tak perlu antri masuk landasan pacu seperti di Soetta atau Juanda.

Keluar Bandara, untuk menuju Kota Bandar Lampung, harus berkendara sejauh 14 km ke selatan. Jalanan di sana naik turun dan bergelombang akibat banyaknya truk dan kendaraan berat dari Jawa yang semuanya pasti melewati jalan yang sama apabila hendak ke kota-kota lain di Sumatera. Memasuki kota di siang hari, semilir angin laut yang panas berhembus dari Teluk Lampung ke Utara dan sebaliknya, apabila malam hari angin berhembus dari perbukitan dan gunung kunyit ke selatan. Persis teori di pelajaran IPA kelas 4 SD dulu ya.

Kota Bandar Lampung nampaknya tak kalah padat dengan kota besar di Jawa saat rush hour. Saat itu saya mengunjungi stasiun kereta api Tanjung Karang (eh, ternyata ada kereta penumpang lho yang menghubungkan jalur Bandar Lampung ke Palembang dengan waktu tempuh 8 jam) di saat jam makan siang. Macet, persis seperti Jakarta! Kota ini juga dipenuhi berbagai patung/monumen di setiap perempatan. Ada banyak sekali tempat berfoto di tengah jalan Kota Lampung. Kebanyakan menonjolkan Ornamen Gajah dan Siger.

Siger (Lampungsigoʁ, sigokh) adalah mahkota pengantin wanita Lampung yang berbentuk segitiga, berwarna emas dan biasanya memiliki cabang atau lekuk berjumlah sembilan atau tujuh. Siger adalah benda yang sangat umum diLampung dan merupakan simbol khas daerah ini. Siger dibuat dari lempengan tembaga, kuningan, atau logam lain yang dicat dengan warna emas. Siger biasanya digunakan oleh pengantin perempuan suku Lampung pada acara pernikahan ataupun acara adat budaya lainnya.Pada zaman dahulu, siger dibuat dari emas asli dan dipakai oleh wanita Lampung tidak hanya sebagai mahkota pengantin, melainkan sebagai benda perhiasan yang dipakai sehari-hari.
Siger merupakan simbol khas Provinsi Lampung. Siger yang menjadi lambang Lampung saat ini merupakan simbolisasi sifat feminin. Pada umumnya, lambang daerah di Nusantara bersifat maskulin. Seperti di Jawa Barat, lambang yang dipergunakan adalah Kujang, yaitu senjata tradisional masyarakat Sunda. Contoh lain adalah Kalimantan dengan Mandaunya dan Aceh dengan Rencongnya.
Simbol-simbol pada daerah melambangkan sifat-sifat patriotik dan defensif terhadap ketahanan wilayahnya. Saat ini penggunaan lambang siger bukan hanya masalah lambang kejayaan dan kekayaan karena bentuk mahkotanya saja, melainkan juga mengangkat nilai feminisme. Siger mengambil konsep dari agama Islam. Islam sendiri adalah agama yang dianut seluruh Suku Lampung asli. Agama Islammenyatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan perempuan sebagai manajer yang mengatur segala sesuatunya dalam rumah tangga. Konsep itulah yang saat ini diterapkan dalam simbolisasi Siger. Bagi Masyarakat Lampung, Perempuan sangat berperan dalam segala kegiatan, khususnya dalam kegiatan rumah tangga. Di balik kelembutan perempuan, ada kerja keras, ada kemandirian, ada kegigihan, dan lain sebagainya. Meskipun masyarakat Lampung sendiri penganut garis ayah atau patrilineal. Figur perempuan merupakan hal penting bagi masyarakat Lampung, yang sekaligus menjadi inspirasi dan pendorong kemajuan pasangan hidupnya. (Wikipedia)
Kota Bandar Lampung memiliki kontur berbukit-bukit, persis seperti Malang dalam banyak hal kecuali udaranya yang relatif panas. Tanjakan atau turunannya bahkan lebih ekstrim. Mungkin hal ini disebabkan karena Bandar Lampung adalah akhir dari Bukit Barisan yang bertemu langsung dengan Selat Sunda, gunung ketemu laut. Akibatnya, semua bangunan di kota ini harus menyesuaikan dengan keadaan tersebut. Ada masjid yang di atas bukit, rumah dinas dan kantor pemerintahan di atas bukit, kafe yang bertingkat-tingkat karena berada di lereng bukit, hotel yang naik turun antara loby dan kamar-kamarnya, dan sebagainya. Efek menakjubkan lainnya, banyak titik tempat kita bisa melihat kumpulan lampu seperti bukit bintang. Kota ini juga sedang gemar memasang lampu warna-warni di atas jalanan dan persimpangan seperti ketika ada perayaan hari kemerdekaan. What a romantic city.
Foodcourt di depan Masjid Agung Lampung
Tempat Wisata
Persis seperti gambaran orang-orang di internet, Bandar Lampung adalah lokasi wisata sekaligus gerbang untuk menuju surga wisata lainnya di selatan sumatera.

Pantai Pasir Putih
Pantai ini banyak menuai kekecewaan dari para traveller yang datang dari Jawa dan melewati pantai ini dari pelabuhan Bakauheni lantas memutuskan turun dari Bis Damri untuk mengunjungi pantai ini.

Ikon dan Ikan di Pantai Pasir Putih. Only for 17+
Pantai ini terkikis abrasi yang parah sehingga harus dibeton di sana-sini. Jadilah definisi “pantai” yang sebenarnya, tidak bisa kita jumpai di sini. Pantai ini telah dibuat seartifisial mungkin dengan warung-warung, patung putri duyung yang telanjang dada, dan arena outbond. Jauh dari kata indah, tetapi saya rasa, tak ada salahnya mengunjungi pantai tua yang pernah berjaya di masa lampau ini. Saya membayangkan pantai ini dulu pantai yang cantik dan ramai oleh pengunjung kota dengan perahu-perahu yang berjajar siap mengantarkan ke banyak pulau di teluk Lampung.   

Pantai yang terletak di Jalan Trans Sumatera, Tarahan, Kabupaten Lampung Selatan berjarak 20 km dari pusat kota. Yang patut diwaspadai adalah, di sepanjang jalan, Anda harus berbagi jalan dengan bis dan truk-truk besar yang relatif ramai.

Pantai Mutun
Pantai ini terletak di Sukajawa Lempasing, Bandar Lampung dan berjarak sekitar 19 km dari pusat kota. Untuk ke sana dari kota Bandar Lampung, Anda bisa berpatokan pada google maps atau nokia maps. Ketika di sana, sinyal internet lumayan kencang untuk menghidupkan navigasi.
Rute dari Bandar Lampung ke Pantai Mutun

Pekuburan di Bukit
Welcome, Travelers
Melintasi jalanan naik turun dari Kota Bandar Lampung, pantai segera terlihat di penghujung jalan. Namun, bukan itu pantai Mutun yang kita maksud. Setidaknya ada 4 pintu masuk Pantai lainnya sebelum Pantai Mutun di sepanjang jalan RE Martadinata. Jika punya waktu cukup, Anda bisa mencoba masuk satu per satu. FYI, setiap gerbang pantai tersebut selalu ada petugas retribusi (tiket masuk) yang harganya kira-kira Rp 5.000,00.

Sebelum masuk Pantai Mutun, ada gapura “Selamat Datang di Kawasan Wisata Pesawaran” dan tak jauh dari gapura tersebut, terdapat pemakaman China yang bertumpuk-tumpuk di atas bukit. Bagi anak kota macam saya, hal tersebut sudah bisa menjadi objek foto yang menarik.

Pantai Mutun
Heavenly Beverages
Private Boat to Tangkil Island
IDR 50.000
Saat itu saya datang sore hari saat weekday, jadi suasana nya agak sepi. Perahu-perahu tertambat rapi menunggu pelancong yang hendak menyeberang ke Pulau Tangkil. Pasirnya lembut, dan garis pantainya panjang. Di seberang Teluk Lampung ada Pantai Pasir Putih yang ternyata di sekitarnya adalah daerah industri yang lebih ramai dengan cerobong asap. Di Pantai ini berjajar gubuk-gubuk untuk beristirahat lengkap dengan warung dan fasilitas lainnya seperti mushola dan toilet. Biaya parkir di sini Rp 5.000,00.

Pulau Tangkil
Terletak sepelemparan batu dari pantai Mutun, Pulau ini adalah satu paket yang harus dikunjungi. Di pulau yang cukup kecil ini, tersedia fasilitas yang cukup lengkap seperti banana boat, speed boat, parasailing, menyelam, kano, fliying fish, dan slaloom. Terletak di tengah Teluk Lampung, Pulau ini cukup berisik dengan lalu lalang kapal besar yang melakukan bongkar muat ke pabrik-pabrik di Lampung Selatan. Namun pantainya lumayan bersih mengingat jumlah pengunjungnya yang relative banyak. Pasirnya putih bedak dengan tulisan “T A N G K I L” yang cukup besar sebagai ikonnya.
Ready to canoing?
Sisi selatan Tangkil
"T A N G K I L"
Boleh dipilih! Water Sport @ Tangkil
Pecinan Teluk Betung
Terletak di sisi selatan Kota Bandar Lampung, daerah Teluk Betung adalah pusat peradaban Bandar Lampung tempo dulu. Seperti halnya pecinan lainnya di Indonesia, ornament merah menghiasi berbagai sudut kota. Tetapi, alih-alih tertarik dengan Vihara Thay Hin Bio, saya lebih memilih mengunjungi toko china di sampingnya. Sama-sama pecinan khan… Yup toko oleh-oleh Yen Yen yang terkenal se Indonesia. Berbagai olahan pisang adalah oleh-oleh andalan khas toko ini dan akhirnya, khas Lampung juga.
Di sampingnya persis ada Yen Yen :D
Tugu Gajah
Siapa yang tak kenal Way Kambas? Traveler negeri seberang pun bahkan sudah banyak yang mengunjungi pusat rehabilitasi dan penangkaran gajah sumatera yang saat ini statusnya sudah endangered animal. Sisa 1.700 ekor cuy di muka bumi ini. Maka dari itu, ‘sekolah’ gajah ini sangat terkenal di dunia. Karena waktu yang sangat singkat dan lokasi Way Kambas yang cukup jauh dari kota, maka saya tak sempat mengunjunginya. Tetapi kawan sekaligus guide saya menghibur dengan mengajak ke Tugu Gajah di pusat kota yang katanya “Belum ke Lampung kalau belum foto di sini Fren…”. Lumayan lah.

Landmark, "Belum ke Lampung kalau belum foto di sini..."
Pulang dari Lampung, saya memilih Royal Damri yang berangkat pukul 22.00 dan jadwal tiba di Stasiun Gambir pukul 06.00. Tepat tengah malam saya tiba di Pelabuhan Bakauheni. Dari atas kapal, Menara Siger perlahan-lahan mengecil seolah sebuah tangan yang melambaikan tangan tanda ucapan “selamat jalan, sampai jumpa lain kali”



Wednesday, 10 December 2014

Rinjani: Pendakian Gagal Pertama sekaligus Paling Berkesan (Bagian 3-Habis)

Hari itu saya mengambil keputusan paling menyesakkan dalam hidup. Memutuskan turun meski puncak tinggal sebukit gundukan pasir saja… Gunung itu adalah gunung yang sama esok, lusa, dan seterusnya. Tak kan lari ia dikejar selama masih ada kesempatan. Dan kesempatan itu baru saja kami ciptakan dengan memutuskan untuk turun, yang artinya kami masih hidup.

Saya lupa tepatnya, pukul berapa kami tertidur, yang jelas baru pukul 6 pagi kami terbangun dan mendapati pagi yang berkabut dan gerimis. Masih sama seperti kemarin. Pucuk pucuk pohon pinus bergoyang-goyang tanda angin masih kencang di luar sana.

Beberapa pendaki keluar dari tendanya, saling menyapa untuk memastikan semuanya baik-baik saja pasca badai yang mencekam semalam meski sambil menunjuk-nunjuk betapa jeleknya bentuk tenda mereka setelah pasaknya bertahan sekuat tenaga agar tak tercerabut dari tanah Pelawangan Sembalun yang tipis akibat abrasi angin.

Saya bergidik ngeri melihat jurang dan segara anakan yang ada di bawah. Membayangkan kembali kemungkinan semalam tenda kecil kami terbawa angin dan tercebur sempurna ke danau, beserta isinya tentu.

Setelah matahari agak tinggi, kabut mulai naik dan menghadiahkan sinar-sinar jingga yang hangat. Membuat tubuh, jaket, tenda, dan semua permukaan tanah menguap. Ahh, hangat sekali. Sejenak terbersit iri kepada pendaki yang memilih waktu yang tepat di musim kemarau. Pasti mentari yang hangat akan mengiringi perjalanan mereka sepanjang hari.

Ada sejenak masa ketika (hampir) semua kabut terangkat sempurna. Menyajikan indahnya Segara Anakan, jalur pendakian Senaru di seberangnya, dan tentu saja, bukit pasir yang mereka sebut puncak. Kami akan kesana nanti, ketika angin sudah tak kencang lagi, ketika gerimis sudah tak cenderung menjadi hujan, dan ketika semangat terisi kembali. Ah ya, sudah waktunya makan pagi.

Kami bergegas mengumpulkan bahan makanan ke satu tenda, menyalakan kompor dan bersiap menanak nasi di depan tenda. Lalu tiba-tiba angin kencang kembali menerbangkan pasir membuat air rebusan kami bercampur pasir. Semakin lama angin semakin kencang dan betapa tak terkejutnya saya ketika menyibakkan pintu tenda, kabut telah kembali mengungkung sekitar. Putih, Gelap. Saya tak perlu kaget kalau hujan pun akan segera turun.

Kami menggigil mengelilingi kompor. Meski di dalam tenda, nasi yang kami masak tak kunjung matang. Badai mulai berisik kembali di luar membuat kami berempat berkumpul satu tenda dalam diam. Berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Mau apa setelah ini?

Memandangi Segara Anakan
untuk terakhir kalinya sebelum turun
See You Again 
Usai makan, kami keluar dalam gerimis, mencari informasi mengenai alternatif apa yang akan kami lakukan. Tenda bule sebelah yang semalam diterbangkan angin sudah tak ada. Mungkin sejak pagi tadi memang sudah tak ada, berkemas turun, hanya kami saja yang tak sadar gerak cepat mereka.

Kami bertanya teman di tenda yang lain, katanya mereka akan menanti lagi sehari kalau-kalau cuaca membaik. “Jadi, kalian akan tinggal di tenda ini lagi nanti malam? Di bibir jurang ini? Dengan kemungkinan badai yang sama seperti tadi malam?” Iya begitulah, semoga nanti cerah, kata mereka mengambang. Kami melanjutkan mencari penguatan alasan untuk tetap menginap di sana semalam lagi. Alih-alih mendapatkan jawaban meyakinkan, malah kami dianjurkan para porter untuk segera turun mengingat angin yang semakin kencang. Ditambah lagi ada beberapa pendaki yang nekat naik sejak dini hari sampai pukul 9 belum balik sementara puncak sudah sempurna tertutup kabut.

Meniti Punggungan Pelawangan Sembalun
Singkat cerita, saya putuskan untuk turun setelah menimbang-nimbang keselamatan rombongan. Saya tak mau bersikap oportunis terkait nyawa ketiga teman saya. Dalam gerimis kami berkemas. Lama kami kesulitan melipat tenda yang basah dan tertiup angin kencang. Akhirnya setelah sekian puluh menit, sebuah keril yang basah menggembung siap dibawa turun. Perjalanan turun tak kalah ‘menyesakkan’ dibanding perjalanan naiknya dengan hujan yang tak kunjung jeda serta kaki yang kram dan lecet dimana-mana. Hujan baru mengecil selepas Pos III. Selama perjalanan dari Pos III ke Pos II, kami baru menikmati perjalanan dengan pemandangan bukit teletabis yang luar biasa indahnya di sekeliling. Due on that, suddenly I whispering: MasyaaAllah, Lombok is a blessed island.

The Blessed Island
Pos III ke Pos II
Sebelum sampai Pos II, kami bertemu serombongan pendaki (15 orang) dari Johor Bahru dengan 2 guide yang dibawa dari ekspedisi Gunung sebelumnya: Kerinci dan Semeru, serta beberapa porter lokal yang dibawa dari kaki Sembalun. Mereka ramah dan terus menerus berbagi pengalaman pendakian sepanjang perjalanan sekalipun terdapat banyak salah paham bahasa dimana-mana ketika kami bercakap-cakap dengan bahasa Melayu. Akhirnya, kami sepakat bahwa menggunakan bahasa Inggris malah lebih nyambung. Yang paling membuat kagum adalah mereka bilang, seperti kata pendaki asing lainnya kemarin-kemarin, “Malaysia tak punya volcano, Indonesia is the best lah kalau untuk pendakian volcano. Tapi you nak mesti cuba hike Kinabalu, come Malaysia lah” tetep, endingnya jualan. Kami salut dengan mereka yang sudah datang dari jauh mengagendakan secara rutin mengunjungi gunung-gunung berapi di negara kita.

Karena terus bercerita di sepanjang jalan, kami tak menyadari kalau langkah rombongan ini cepat sekali sampai harus lari-lari kecil di banyak kesempatan untuk mengimbangi agar tetap berada di rombongan tersebut. Sudah pukul 18 sejak kami turun di Plawangan Sembalun tadi pukul 9 pagi. Artinya, sudah sekitar 9 jam kami turun tapi belum ada tanda-tanda akan sampai. Selepas Pos I, saya pura-pura mengambil senter dan mempersilakan rombongan Malaysia tersebut untuk melanjutkan dahulu. Fyuh, akhirnya ngga perlu lari-lari lagi. Iya mereka enak nggak bawa keril, cukup bawa badan saja. Lha kami?

Tinggal kami berempat di Pos I, kami melanjutkan perjalanan dalam gelap dan dalam diam. Rasanya fisik semakin lemah kalau nggak ada yang ngajak ngobrol. Sejam terakhir, sudah tak terhitung berapa kali kami terjungkal-jungkal karena kelelahan. 100 meter terakhir teman saya terduduk tak kuat lagi melangkah. Kami harus berhenti cukup lama, menyeretnya selangkah demi selangkah. Cahaya lampu pemukiman dan ladang penduduk tak pernah tampak begitu menentramkan kecuali saat itu. Alhamdulillahirobbilalamin. Terimakasih ya Rabb, saya membawa naik 3 teman dengan sehat dan kembali membawanya turun dengan selamat meski beratnya perjalanan yang kami lalui. Fix, ini adalah pendakian paling berkesan saya sejauh ini. Akhirnya, saya bisa mengerti, kenapa ada orang yang sudah melakukan persiapan naik gunung dari jauh-jauh hari dengan matang tetapi tetap gagal summit. Akhirnya juga, saya bisa merasakan sendiri badai di atas gunung seperti yang kebanyakan diobrolkan para pendaki gunung.

Epilog:
Seorang teman yang kami kunjungi di Mataram tidak percaya ketika kami katakan baru mendaki Rinjani. “di koran yang kubaca tadi pagi, ada berita Rinjani ditutup lebih awal lho… tanggal 26 Desember udah ditutup karena badai beberapa hari terakhir. Kok bisa kalian naik? Bohong nih…”

Saya tersenyum saja sambil berujar dalam hati “bagus lah kalau ditutup, kami ada di atas sana semalam, tanggal 26 Desember”

Monday, 8 December 2014

Our Wedding Invitation

it was easy...
credit to: Moh. Zainul R.
 بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

baarakallahu lak, wa baaraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fii khair


“Semoga Allah memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis, dan semoga Allah (tetap) memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara), dan semoga Dia (Allah) mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan” 

(HR. Abu Dawud (1819), Tirmidzi (1011), dan yang lainnya, dishohihkan oleh Albani)
Bantul DIY, Ahad, 28 Desember 2014
Bagaimana cara ke sana:

"Gunungsaren Lor RT 80 Kel. Trimurti, Kec. Srandakan, Kab. Bantul, DIY"


Kendaraan Umum

Dari Terminal Bus Giwangan Umbulharjo: naik bus jurusan Srandakan (Bus B atau Bus 55) turun di RS PKU Srandakan. Tinggal jalan kaki sekitar 10 menit ke arah TK ABA Gunungsaren. [Estimasi biaya Rp 10.000 dengan lama perjalanan kira-kira 70 menit]

Dari Stasiun Kereta Api Lempuyangan: naik ojek ke Terminal Giwangan, Lanjut dengan Bus B atau Bus 55 seperti di atas. [Estimasi biaya Rp 25.000 (ojek 15.000) dengan lama perjalanan kira-kira 85 menit]

Dari Stasiun Kereta Api Tugu: naik bus Trans Jogja rute 1A, 1B, atau 3A ke Terminal Giwangan. Lanjut dengan Bus B atau Bus 55 seperti di atas. [Estimasi biaya Rp 13.000 dengan lama perjalanan kira-kira 100 menit]

Dari Stasiun Wates, Kulon Progo: naik ojek motor ke alamat tersebut di atas. [Estimasi biaya Rp 50.000 dengan lama perjalanan kira-kira 20 menit]

Dari Bandara Adisucipto: naik bus TransJogja rute 1A, 1B, atau 3A ke Terminal Giwangan. Lanjut dengan Bus B atau Bus 55 seperti di atas. [Estimasi biaya Rp 13.000 dengan lama perjalanan kira-kira 100 menit]


Sewa Motor/ Kendaraan Pribadi

Sewa motor langganan kami, Resmile Rental (CP: 085643107277) berkenan mengantar motor sewaan (lengkap dengan 2 helm, jas hujan, dan gembok ekstra) sampai tempat perjanjian dengan gratis selama Anda berada di dalam area ring road DIY, Stasiun Lempuyangan atau Terminal Giwangan, misalnya. Dengan biaya Rp 70.000,00 Anda berhak menggunakan motor-motor (yang masih bagus kualitasnya) selama 24 jam penuh. Reservasi segera, sebab, di akhir pekan/ musim liburan, agak sulit mencari rental motor yang masih available. Informasi rental motor lainnya, bisa dicari melalui pencarian di laman google.com

Rute Dari Malioboro/ Stasiun Tugu/ KM 0, berbelok ke barat di Jalan Ahmad Dahlan, lalu belok kiri di sepanjang jalan Taman Sari untuk menuju Jalan Raya Bantul. Lurus saja ke selatan sampai menemui SMAN 1 Bantul dan tak jauh dari itu, ada perempatan yang di papan penunjuknya tertulis ke kiri Pantai Parangtritis, lurus Pantai Samas, kanan Srandakan/ Wates. Ambil arah kanan sampai sekitar 4 km lagi. Ketika masuk desa Trimurti, pelankan laju kendaraan Anda, sebab Anda harus belok ke gang di sebelah kanan jalan. Tetap lurus di gang tersebut sampai menemukan SDN Gunungsaren. Rumah kami terlihat dari pintu gang SDN Gunungsaren. 

Bagi Anda pengguna Smartphone, Anda bisa menggunakan aplikasi google maps atau here maps dari Nokia. Masukkan beberapa detil bermakna yang biasa kami gunakan untuk menuju ke sana: KUA Kecamatan Srandakan, TK ABA Srandakan, Trimurti, Srandakan.

Punya Waktu Luang Setelah/ Sebelum Acara, Kemana?

Izinkan kami mengucapkan, selamat datang di kawasan wisata terpadu, Yogyakarta, yang bahkan hanya dengan berjalan-jalan sekenanya di trotoar kotanya saja telah mampu membuat Anda tersenyum bahagia. Tak berlebihan rasanya, sebab warga Yogya akan refleks menyapa dan tersenyum kepada Anda yang sedang berjalan-jalan tadi, sehingga otomatis, Anda berkewajiban membalas senyum mereka juga kan.

Acara kami dilangsungkan di penghujung tahun yang berada di deretan libur panjang 25,26,27, dan 28 Desember 2014. Jika Anda punya banyak waktu sebelum atau sesudah tanggal 28 Desember, Anda bisa memilih beberapa alternatif tempat wisata yang banyak bertebaran di seluruh penjuru DIY.

Pantai:
Kami rekomendasikan untuk ke pantai-pantai di Gunungkidul yang masih relatif sepi seperti Pantai Wediombo dan Jungwok, Indrayanti, Pok Tunggal, Siung, Baron, Sundak, dsb. Selain itu, Pantai-Pantai di Bantul pun juga layak untuk dipilih seperti nostalgia di Pantai Paragtritis dan Seluncur Pasir di Gumuk Parangkusumo atau wisata kuliner seafood segar di Pantai Depok. 

Goa:
Sebagai informasi, kawasan pegunungan kapur di selatan DIY saat ini sedang dalam proses penilaian UNESCO untuk didaftarkan sebagai Taman Geopark Dunia. Terbayang kan betapa banyak goa-goa eksotis di selatan DIY akibat pembentukan stalagtit dan stalagmit  ratusan tahun.Kunjungi Goa Pindul, Goa Jomblang, dan Goa Kalisuci di Gunungkidul, atau Goa Cerme di Bantul. Nikmati juga body rafting di Goa Pindul dan Kalisuci yang cukup menantang adrenalin.

Air Terjun:
Air terjun Sri Gethuk sangat kami rekomendasikan untuk dikunjungi. Kabarnya, Sri Tanjung di Dlingo, Bantul pun sedang ramai dibicarakan orang karena digunakan sebagai lokasi syuting film "beyond skyline" nya Arnold Schwarzenegger.

Gunung:
Gunung Merapi dengan waktu pendakian 2 hari, nampaknya pas dengan agenda akhir tahun. Nikmati trek pasir dan pemandangan spektakuler dari gunung kebanggaan masyarakat Yogyakarta tersebut.

City View:
Yogya adalah juaranya dalam hal ini. Semua tempat begitu indah dan menarik untuk dieksplor. Berjalanlah di sepanjang trotoar malioboro, KM 0, Alun-alun kidul, dan taman sari. Nikmati keramahan budaya lokal, kearifan penduduknya, dan kelezatan masakan tradisionalnya. Sebut saja, Mangut Mbah Marto, Mie Lethek Mbah Mo, Ayam Goreng Mbah Cemplung, Gudeg Yu Jum, Tempe Bacem Beringharjo, Soto Lenthok Lempuyangan, atau Kopi Jos dan Sego Kucing di sepanjang angkringan. Cinderamata? Dagadu, Beringharjo, Bakpia Patuk, Kasongan, dan Kotagede adalah tempat-tempat yang sayang untuk dilewatkan. Sampai dengan tanggal 3 Januari 2015, Yogyakarta juga menyelenggarakan upacara sekaten yang akan menampilkan banyak festival rakyat.


"Tangunan RT/RW 1/1 Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur"

Kendaraan Umum

Dari Bandara Internasional Juanda Sidoarjo: Anda bisa memilih bus damri menuju Terminal Purabaya (Bungurasih) dengan ongkos Rp 20.000,00. Lalu Anda bisa menggunakan semua bus jurusan Solo/Yogya ke Terminal Kertajaya Mojokerto dengan harga Rp 6.000 saja. Lantas, di dalam terminal ada angkutan umum L300 berwarna hijau tua jurusan Pacet. Naiklah angkutan itu dengan membayar Rp 6.000 dan sebutlah "Tangunan" untuk berhenti di seberang Masjid Jami' Al Abror. Rumah kami tampak dari masjid tersebut. (Estimasi waktu: 90 menit)

Stasiun Kereta Api Mojokerto: Untuk semua kereta jalur selatan Pulau Jawa, Stasiun Mojokerto ada dalam daftar pemberhentian wajib sebelum masuk Kota Surabaya. Dari seberang jalan depan stasiun, cegat angkot line B atau C ke arah Terminal Kertajaya (Rp 4.000,00). Lanjut dengan angkutan umum L300 hijau tua jurusan Pacet. (Estimasi waktu: 45 menit)

Stasiun Surabaya Pasar Turi: Jika Anda kebetulan memilih kereta api Jalur Utara Pulau Jawa, maka Anda tidak melewati stasiun kereta api Mojokerto. Tetapi berakhir di Stasiun Pasar Turi. Dari Stasiun ini, Anda bisa menaiki bus umum ke arah terminal Purabaya seharga Rp 5.000,00 dan melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi seperti di atas.

Sewa Motor/ Kendaraan Pribadi

Dari Malang/ Pasuruan: 
Sebagai kota wisata, Malang menawarkan banyak rental motor/mobil seperti halnya Yogyakarta. Ambil jalur jalan Nasional Surabaya Malang. Berbeloklah di Apolo untuk masuk ke daerah Pasuruan dan tetaplah di Jalan Utama Provinsi yang menghubungkan Mojokerto-Pasuruan. Di pertigaan Pasinan, ambil arah ke selatan (arah Pacet). Kebut kendaraan Anda di Jalan desa selebar 8 meter sepanjang 5 km untuk sampai di Desa Tangunan.

Dari Surabaya:
Pilih jalur Nasional Surabaya-Solo/Yogya. Hati-hati, sebab Anda harus berbagi jalan dengan bus-bus besar, mobil-mobil pabrik, dan mobil-mobil pengangkut alat berat. Banyak jalan yang bergelombang akibat beban kendaraan yang berlebihan. Better, alon-alon waton kelakon.
Sampai sekitar 30 km, Anda memasuki kabupaten Mojokerto dan di by pass Terminal Kertajaya, ambil arah ke timur sepanjang 2 km untuk menemui pertigaan pertama ke arah Pacet. Selanjutnya, sama. Kebut kendaraan Anda di Jalan desa selebar 8 meter sepanjang 5 km untuk sampai di Desa Tangunan.

Setelah Acara Kemana?

Sekilas Mojokerto:
Mungkin Mojokerto tidak sekomplit Yogyakarta, senyaman Yogyakarta, semenarik Yogyakarta. Warga Jawa Timur pada umumnya tidak lantas tersenyum kepada orang asing tanpa alasan seperti halnya warga Ngayogyakarta Hadiningrat. Jawa Timur dibesarkan oleh sejarah perang dan penaklukan kerajaan-kerajaan yang, salah satunya, menjadi cikal bakal berdirinya Nusantara, Majapahit. Perlu Anda tahu, Mojokerto adalah pusat peradaban Kerajaan terbesar yang pernah ada di negeri ini. Pusat pemerintahannya ada di Trowulan dimana fosil-fosil peradaban Nusantara abad XIII berserakan dimana-mana, di setiap sudut desa. Candi Tikus yang terpendam di kedalaman tanah, Kolam Petirtaan para Raja, Candi Brahu, Mistisnya Candi Minak Jinggo, Pendopo Agung yang menyimpan patak batu tempat mengikat gajah yang melegenda (Anda yang menggemari pelajaran sejarah pasti tahu kenapa patak batu tersebut spesial), Candi Bajang Ratu, Wringin Lawang, dsb. Eksplore lebih jauh sendiri, temukan candi-candi yang masih dalam tahap proyek pengerukan dari dalam tanah oleh Dinas Purbakala yang jumlahnya belasan.

Gunung:
Jelajah Gunung kesayangan para pendaki Mojokerto, Gunung Penanggungan. Gunung ini banyak dipercaya sebagai Puncak sejati Mahameru. Kenapa? Sebab, gunung ini menyimpan begitu banyak candi hindu yang menempel di sepanjang jalur pendakian. Petirtaan Candi Jolotundo di kaki gunung ini adalah tempat dingin yang sangat kami rekomendasikan untuk dikunjungi. Kabarnya, sumber air di candi ini mengandung mineral tertinggi ketiga di dunia. Cukup 3 jam saja dengan kecepatan normal untuk sampai di Puncak. Jika malas mendaki, pilihlah kawasan wisata Pacet di kaki Gunung Arjuno Welirang yang memiliki pemandian panas, air terjun Coban Canggu, dan kuliner sate kelinci.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang mendunia itu juga hanya 3 jam dari Mojokerto. Jika Anda punya waktu cukup, agendakan berjumpalitan di Bukit teletabis Blok Sabana, menahan napas takjub menanti kabut tersingkap di Gardu Pandang Seruni Penanjakan, atau penasaran mendengarkan percakapan pasir berbisik di lautan Pasir Bromo.

Museum:
Museum Majapahit, koleksinya sangat lengkap. Terdapat kegiatan ekskavasi rekonstruksi peninggalan pemukiman kuno jaman kejayaan Mojopahit di samping Museum. Mungkin agak berlebihan, tapi saya jadi berimajinasi tentang proyek laskar terakota di China ketika melihat proyek itu dari balkon yang dibangun di atasnya. Maha Vihara Majapahit juga layak dikunjungi untuk melihat The Sleeping Giant Budha.
Akhirnya, hati-hati di jalan, semoga berkenan hadir dan memberikan doa keberkahan kepada kami berdua. 

...
kita begitu berbeda dalam semua,
kecuali dalam cinta (Gie, Sebuah Tanya)


Wednesday, 3 September 2014

Rinjani: Sebuah Kisah Pendakian Gagal (Bagian 2)

Dari kami berempat, belum ada yang pernah merasakan badai di gunung, jadi kami belum tahu bahaya apa yang sedang menanti kami nanti malam jika terjadi badai lagi. Karena itulah kami mengabaikan informasi mereka dan tetap melanjutkan perjalanan.
...adalah lanjutan dari kepingan Rinjani: Sebuah Kisah Pendakian Gagal (Bagian 1)

Seharusnya kami lanjut ke sana,
ke puncak
Pagi harinya, ketika membuka pintu tenda, saya dikagetkan dengan beberapa ekor monyet yang nongkrong-nongkrong di atas jembatan depan tenda. Sepertinya mereka menanti pendaki-pendaki bangun untuk meminta remah-remah kue. Simpan bahan makanan atau barang berharga Anda dengan baik karena jika kita teledor menutup pintu, mereka akan masuk dan mengambil sendiri logistik-logistik yang kita bawa.

Monyet (satu saja monyetnya)
di jembatan Pos II
Saya berjalan di sekeliling Pos II. Dalam hemat saya, ini adalah tempat yang sempurna untuk mendirikan tenda. Mata air yang cukup melimpah, cekungan sungai diapit bukit-bukit yang melindungi tenda dari terpaan angin kencang, dan sebuah shelter. Sayangnya saat itu shelter Pos II sudah dipenuhi banyak tenda pendaki lain yang lebih dulu sampai.

Pukul 9, setelah makan pagi dengan tetap waspada dari gangguan monyet-monyet, kami melanjutkan perjalanan. Dari Pos II ke Pos III, kami melawati bukit-bukit kecil dengan pemandangan spektakuler. Aliran sungai penuh batu dan bukit teletabies  di kejauhan memanjakan mata kami sehingga tidak sadar kalau jalanan sedikit-demi-sedikit semakin menanjak. Sampai akhirnya kami sampai di Pos III. Oiya, sedari Pos II, jas hujan tak pernah kami lepas sebab hujan sering turun dengan tiba-tiba.

Tanjakan Penyiksaan dari Pos III
Pos III terletak di pinggir aliran sungai yang cukup deras. Tepat di permulaan rute tanjakan penyiksaan. Kabarnya, di Pos ini jalanan bercabang 2, yang satu ke tanjakan penyesalan, dan satunya lurus ke tanjakan penyiksaan. Saya rasa keduanya bukan pilihan yang bagus. Namun, menurut hipotesa saya, lebih baik tersiksa kan daripada menyesal? Jadilah kami memilih melalui tanjakan penyiksaan.

Tanjakan Penyesalan
Jalan zig zag di bukit itu konon tiada habisnya sambung menyambung
Tanjakan penyiksaan adalah kumpulan bukit-bukit yang saling sambung menyambung menjadi satu. Seperti kata paribahasa, di atas bukit masih ada bukit (hehe, harusnya sih di atas langit masih ada langit). Perjalanan melalui tanjakan penyiksaan serasa tiada habisnya. Di bawah guyuran hujan dan tas carrier yang makin berat karena basah, kami mendaki sedikit demi sedikit tanjakan dengan kemiringan rata-rata tak kurang dari 60 derajat. Yang sedikit menghibur adalah, gunung ini ramai sekali oleh pendaki mancanegara. Perancis, Malaysia, Belanda, China, Australia, Jerman, Belgia, New Zealand, dan UK adalah turis yang paling sering kami temui sepanjang perjalanan. Saat break, biasanya kami ngobrol-ngobrol santai dengan mereka. Kebanyakan mereka bilang “Your country is awesome, cool, etc, etc

Kami naik dari Pos III pukul 10.30 siang. Kami bertemu beberapa pendaki yang turun dan semuanya bilang kalau kemarin malam terjadi badai di atas. Tidak ada dari mereka yang summit karena angin sangat kencang dan mereka sempat menyarankan kami untuk turun saja. Dari kami berempat, belum ada yang pernah merasakan badai di gunung, jadi kami belum tahu bahaya apa yang sedang menanti kami nanti malam jika terjadi badai lagi. Karena itulah kami mengabaikan informasi mereka dan tetap melanjutkan perjalanan. Wong sudah sejauh ini, masa mundur di tengah jalan…

Pukul 16.00 kami sudah tiba di sebuah punggungan bukit dimana tidak ada lagi bukit di atasnya. Saat itu kabut tebal menyelimuti sekeliling hingga mengaburkan pemandangan apa yang terdapat di bawah bukit. Sesaat kemudian angin kencang menyibak kabut dan tampaklah pemandangan di bawahnya. Danau segara anak muncul dari balik kabut. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Plawangan Sembalun.

Plawangan Sembalun
Sudah ada beberapa tenda berdiri di sana. Sebetulnya Plawangan ini tidak terlalu bagus untuk dijadikan tempat berkemah. Letaknya di punggungan bukit tanpa ada cukup vegetasi yang melindungi. Angin berhembus dengan kencang di tempat ini dengan batas jurang di samping kanan dan kiri.

Ketika kabut dan awan tersibak
Danau Segara Anak
Segera setelah membaca situasi, kami mendirikan dua tenda di bawah cerukan pasir yang terkena abrasi angin sehingga membentuk garis-garis di dindingnya. Gerimis masih terus mengguyur saat kami mendirikan tenda. Angin yang berhembus kencang semakin menyulitkan pendirian tenda kami. Meskipun telah dipasang semua pasak, tetap saja tenda terangkat ketika angin kencang menerpa.

Setelah gelap, suasana berubah mencekam. Angin yang menggesek dedaunan dan pasir menimbulkan bunyi yang menyeramkan. Makin malam, angin berhembus makin kencang saja. Ditambah dengan hujan yang deras, membuat tenda kami bocor dimana-mana. Kilat menyambar-nyambar ditambah suara gemuruh mirip setting film horror jaman dulu.

Pukul 10 malam, terdengar gaduh-gaduh tenda sebelah diterbangkan angin. Kami tak berani keluar membantu atau melihat mereka, sebab hujan sangat deras sementara ponco kami terbang entah kemana. Kami berdua berusaha memposisikan diri di pojok-pojok tenda menahan pasak agar tidak diterbangkan angin juga.  Jika kami keluar, mungkin tenda kami akan terbang juga. Di balik sleeping bag, tiada henti-hentinya kami berdoa, beristighfar, memohon ampun atas segala dosa yang tiba-tiba terlintas begitu saja di kepala satu per satu. Kami menggigil bukan hanya karena kedinginan oleh rembesan air hujan melalui tenda yang bocor, tapi juga karena menyadari, betapa dekatnya kami dengan maut saat itu.

Yang ditinggalkan badai semalam
Sampai pukul 2 pagi kami masih terjaga karena khawatir dengan suara badai di luar dan tenda yang terangkat-angkat di ujungnya. Apalagi kami tahu betul kalau di depan dan belakang punggungan Plawangan ini adalah jurang-jurang yang dalam. Yang jelas, mustahil kami menjalankan rencana untuk summit nanti subuh dengan kondisi belum tidur semalaman. 
Sekalipun kami gagal, ada banyak memori
dan oleh-oleh yang kami bawa pulang
Terimakasih ya Allah
Terimakasih Rinjani

to be continue... (bagian 3)

Tuesday, 26 August 2014

Rinjani: Sebuah Kisah Pendakian Gagal (Bagian 1)

Pendakian itu butuh ilmu.

Pendakian itu bukan sekedar naik dan foto selfie /groupies di Puncak sambil bawa bendera.

Pendakian itu bukan hanya soal sunrise di puncak.

Dan terpenting, pendakian itu soal kembali ke rumah, dengan selamat.


Ini adalah gunung pertama yang saya gagal sampai puncaknya, tapi jika ditanya “Pendakian mana yang paling berkesan sejauh ini Mas?” Dengan mantap saya jawab “Rinjani…”
Saat terakhir melihat Danau Segara Anak,
dan kami putuskan turun...

Pendaki Cerdas

Saya tidak berhak menghakimi seseorang dengan predikat cerdas atau tidak. Siapalah saya… Hanya saja, perkenankan saya menceritakan kronologis gagalnya pendakian Rinjani kali ini agar menjadi pelajaran dan pengingat bagi saya khususnya, dan mungkin, Anda yang berminat mendaki gunung api tertinggi kedua di Indonesia tersebut, atau gunung lain apapun itu saat cuaca kurang mendukung.

Saya memilih berangkat di hari Jumat, 20 Desember 2013 sepulang kerja dengan kereta api dari Jakarta. Rutenya, Jakarta Pasar Senen – Jogjakarta Lempuyangan – Banyuwangi. Perjalanan kereta api sampai Banyuwangi memakan waktu sekitar 24 jam. Ditambah dengan bus 5 jam di Bali, Fery 5 jam di Selat Lombok, dan Travel 3 jam di Lombok sehingga totalnya, 37 jam kami habiskan sepanjang perjalanan Jakarta – Lombok. Memang sih biaya totalnya cukup murah bila dibandingkan dengan harga tiket pesawat saat peak season libur natal dan tahun baru, tapi konsekuensinya sungguh tidak murah. Meskipun tidak tampak, fisik kami sudah tidak 100% bahkan sebelum kami menginjak pintu masuk Taman Nasional Gunung Rinjani.

Sebagai PNS, rasanya sulit mendaki gunung tinggi dengan hanya memanfaatkan sabtu dan minggu. Minimal harus mengambil cuti 3 hari yang jatahnya hanya 12 hari dalam setahun (minus cuti bersama). Akibatnya banyak periode traveling saya yang memanfaatkan tanggal merah bertumpuk-tumpuk seperti pada Desember 2011 (Bali, seminggu), Desember 2012 (Semeru, 4 hari), dan kali ini Desember 2013 (Lombok & Rinjani, 10 hari). Padahal Desember dinyatakan para pakar sebagai bulan paling basah sepanjang tahun. Probabilitas untuk tidak hujan hanya sedikit dan memang saya hanya berharap keberuntungan yang besar ketika memutuskan untuk naik gunung di bulan Desember.
hujan di selat Lombok, pagi pukul 8 WITA
 Kenyataanya, sepanjang perjalanan saya menemui hujan di mana-mana. Sejak di dalam kereta hingga di atas kapal di selat Lombok, hujan mengiringi perjalanan kami. Hanya semangat membabi buta yang mampu mengalahkan logika betapa sulitnya naik gunung di saat cuaca buruk.

Puncaknya, ketika naik pick up dari aikmel ke sembalun, hujan mengguyur dengan deras. Saat itulah saya pertama kalinya merasa ragu untuk meneruskan pendakian. Sebagai “yang dituakan” di tim ini, saya diberi tanggung jawab untuk mengambil keputusan-keputusan penting menyangkut keselamatan kami berempat. Tapi mengingat perjalanan kami yang terlampau jauh dari Jakarta, rasanya nanggung kalau mau berhenti di sini.

Kami sampai di Sembalun pukul 5.30 sore dengan hujan yang tak kunjung berhenti. Setelah lapor di Pos Sembalun, kami meneruskan naik pick up ke pintu masuk yang jaraknya sekitar 1,5 km.

Di bawah rintik hujan, kami memulai pendakian. Target kami adalah Pos II. Belum juga mencapai Pos I, gelap telah datang memeluk kami. Bersyukurnya, rintik hujan telah berhenti. Jalur sampai dengan Pos II Rinjani terkenal landai tapi panjaaaaang sekali. Jika Anda melaluinya di siang hari, banyak ranjau kotoran sapi di sana-sini karena memang bukit-bukitnya jadi ladang penggembalaan sapi. Kalau malam, ya…mumpung nggak kelihatan. 

Sampai Pos I sekitar pukul 7.30 WITA. Beberapa tenda sudah berdiri di sekitar balai-balai. Menurut sumber di internet, mata air baru ditemukan di Pos II, jadi kami hanya break sebentar di Pos I untuk memasak oatmeal dan melanjutkan satu jam perjalanan lagi menyusuri jalan setapak ke Pos II dalam kegelapan.

Sesampainya di Pos II Pukul 09.00 WITA, sudah banyak tenda berdiri mengelilingi pondokan sampai tidak ada tanah lapang lagi untuk mendirikan tenda kami. Kondisi di Pos II cukup ideal karena tertutup 2 bukit dan berada di pinggir aliran sungai dengan jembatan lebar menghubungkan keduanya.

Karena sudah larut malam dan badan kami kepayahan, akhirnya kami putuskan mendirikan tenda di atas jembatan. Kami belum tahu kalau di jembatan itu banyak makhluk tak diundang yang berlalu lalang.


To be continue ke Bagian 2...