Friday, 30 May 2014

Pendakian Gunung Gede (sekaligus) Pangrango Bagian 2: Puncak Pangrango

Puncak Pangrango dari Puncak Gede
been there, alhamdulillah
Setelah menyelesaikan simaksi jalur Cibodas, kami bergegas memulai mengayunkan langkah langkah sampai 7 km ke depan menuju Kandang Badak. Pukul 10.30 kami mulai berjalan. Rombongan ini terdiri atas empat orang. Saya, Zein, Dans, dan Mas Alam. Kesemuanya teman sekantor. Khusus Zein, dia baru pertama kali naik gunung. Mari kita lihat bersama kelak, apakah selanjutnya dia tertular virus “rindu ketinggian” atau tidak.

Pos pertama yang kami jumpai setelah tiga puluh menit perjalanan adalah telaga biru yang saat itu warnanya hijau. Jalannya sedari awal sudah berupa tangga berbatu. Entah kenapa, saya malah kurang suka dengan trek yang rapi seperti ini. Terasa lebih vertikal, kasihan kaki ini pas turun nanti.

Jembatan Rawa Gayonggong
Beberapa saat kemudian, kami sampai di Rawa Gayonggong. Sebuah wilayah becek yang untungnya sudah dibuatkan jembatan beton panjang dan cantik. Saya jadi paham kenapa di papan informasi di Balai Besar tadi disebutkan kalau TNGGP adalah Taman Nasional terbaik di Indonesia. Kalau dari segi fasilitas, saya mengamini. Tapi kalau dari segi lainnya, hmmm, nanti dulu.
team Jomblo-Jomblo-Jomblo-Jomblo #eh
Sejam sudah kita berjalan dan kita sudah sampai di pertigaan air terjun Cibereum. Pengunjung umum hanya boleh mendaki sampai pertigaan ini untuk kemudian berbelok ke kanan menuju air terjun. Asyik, berarti muda-mudi pacaran, dan remaja-remaja haha hihi nggak akan sering-sering ditemui lagi setelah ini.

Setelah pertigaan, jalurnya cukup menanjak selama 140 menit sampai Kandang Batu. Di kandang batu terdapat shelter dan sungai yang deras. Tempat yang cukup ideal untuk istirahat. Kami pun sejenak break untuk sholat Dzuhur dan makan siang nasi bungkus yang dibeli dari Cibodas.

Selepas Kandang Batu, kami mendapati papan peringatan bahwa kami akan melewati air panas. Sandal saya ganti sepatu saking takutnya dengan tulisan-tulisan di blog orang yang katanya airnya benar-benar panas. Nyatanya? Ya memang panas, tapi ngga sampai mendidih kok (Baliknya saya turun pakai sandal). Sejauh ini, rute air panas adalah favorit saya sepanjang pendakian Gede Pangrango. Air terjun dan sungai yang mengepul, batuan yang licin, dan jurang di samping kanan sungguh mendebarkan. Oiya, di sini jalurnya agak macet, karena kami jalannya pelan-pelan. Beberapa ada yang sengaja berhenti di tengah-tengah untuk foto selfie dulu dengan begron air terjun panas.
selfie di air panas
kayak gini nih yang bikin macet
Terjun ke jurang langsung tuh, ngeri-ngeri sedap
Dari air panas ke kandang badak memakan waktu sekitar 60 menit melewati aliran sungai yang agak keputih-putihan karena bercampur belerang. Hati-hati, air di aliran sungai ini tidak bisa diminum ya. Ke atas lagi, kami bertemu dengan air terjun kecil bernama Pancaweleuh. Di sini saya berpapasan dengan banyak pendaki yang turun. Banyak dari mereka mengatakan kalau lahan untuk camp di kandang badak sudah hampir penuh, lebih baik kembali saja ke kandang batu. Haseem. Bukannya berbalik, saya malah mempercepat langkah dan mulai sprint meninggalkan rombongan untuk segera mengecek dan menge-tag tempat untuk mendirikan tenda. Alhamdulillah, dapat juga. Saat itu pukul 16.00.
air terjun Pancaweleuh
Segera setelah tenda berdiri, saya bersama Dans mengemas tas kecil untuk tempat minum, headlamp, kamera, jas hujan, P3K, dan makanan ringan. Kami lanjutkan mendaki Gunung Pangrango.

Kami bertemu dengan seseorang yang juga ingin ‘tektok’ naik Pangrango. Katanya sedari siang ia menunggu barengan untuk naik tapi ngga ketemu juga. Jadilah kami bertiga mulai naik dari Kandang Badak pukul 16.30. Saat itu saya berpesan sambil bercanda sama dua teman yang tinggal di Kandang Badak agar mulai mencari kalau jam 10 malam kami belum kembali.
Puncak Gede, dilihat dari jalur Pangrango
Kami bertiga rupanya punya visi yang sama, “nggak ingin kemalaman di jalan”. Jadilah kami, yang sama-sama belum pernah tahu medan yang akan kami hadapi, dengan semangatnya, sprint di sepanjang jalur. Sepertinya lebih jarang yang naik Pangrango, sebab, jalurnya masih sangat rimbun dan banyak pohon tumbang di tengah jalan. Sejam dua jam terus menanjak tiada habisnya. Gelap tak terhindarkan. Hanya doa dan pita-pita yang dililitkan di pohon yang kami andalkan sebagai penunjuk jalan.

Setelah 2 jam mendaki, barulah kami bertemu beberapa pendaki yang turun. Apa yang kami dapat? Bukannya semangat, tapi mereka malah bilang kalau puncak masih lama, sekitar tiga jam lagi. Dibilangnya, mereka tadi naiknya sampai 5 jam. “Sebaiknya turun saja kalau tidak bawa tenda, daripada kemalaman”. Seketika itu juga kaki kami lemas. 3 jam lagi? Selama ini dan sejauh ini kami melangkah, masih 3 jam lagi? Dalam hati saya mengutuk pendaki-pendaki tersebut. Uasemm, wong di blog-blog dijelaskan kalau ke Pangrango hanya butuh 2,5 jam perjalanan dari Kandang Badak kok. Artinya, kami hanya kurang setengah jam lagi. Padahal sedari tadi speed kami tidak berkurang, kok masih selama itu. Hoax paling, pikir saya.

Kami bertiga sepakat untuk meneruskan mendaki meski dengan ketidakpastian. Sayangnya, sepanjang perjalanan kami bertemu pendaki turun yang sepertinya mereka tidak belajar etika menyemangati sesama pendaki. Bukannya memberi energi, mereka malah seperti melumpuhkan sendi-sendi kami dengan berkata “puncak masih jauuh sekali, turun saja”.

Azam kami yang kuat akhirnya membuahkan hasil. Di tanjakan yang ekstrim menjelang puncak, angin berubah kencang dan udara mendadak sangat dingin. Mungkin ada dementor. Artinya, ruang terbuka sudah dekat dan mungkin itu adalah puncak.

Akhirnya, Puncak tertinggi kedua di Jawa Barat ada di depan mata dengan penanda bangunan dan sebuah tugu bertuliskan 3019 mdpl. Alhamdulillah. Tepat 2,5 jam perjalanan cepat kami tempuh untuk sampai puncak Pangrango. Kami berhenti sejenak untuk menunaikan sholat maghrib.
Pondok di Puncak Pangrango
Selepas sholat, kami kembali turun. Saya tahu ini akan menjadi masalah lebih besar ketimbang perjalanan naik tadi. Udara yang lebih dingin (karena sempat berhenti), malam yang semakin pekat, dan tubuh yang semakin lapar. Bismillah, dengan sesekali merosot dan meluncur kami turun. Rupanya tak banyak waktu yang dapat kami hemat dalam perjalanan turun. Setidaknya 2 jam lebih juga waktu yang kami butuhkan untuk turun.

#teamPangrango
Ketika kami menjumpai rombongan pendaki yang masih naik, kami katakan dengan jelas kalau puncak mesih sekian menit lagi, memberikan kata-kata motivasi, dan saling menyapa santun.

Pukul 10 kami sampai di Kandang Badak dan mendapati 2 tenda kami sudah gelap plus dengkuran dari kedua rekan kami yang sudah tertidur pulas. Ketika kami membuka tenda, ada sebuah kertas yang isinya “kalau mau masak, logistic ada di tendamu semua”. Duh, jadi kami ngga disisain makanan ya? #hiks #suddenly #brokenheart #kram #ngantuk #pengentidur #tapilaper              

---------------------------------------------------------------------------------------to be continued


Pendakian Gunung Gede (sekaligus) Pangrango Bagian 1: Simaksi

Kok Baru Sekarang?
Boleh dibilang, ini adalah gunung terdekat dari Jakarta yang bahkan dapat terlihat dari jendela kantor saya saat cuaca cerah. Transportasi umum kesana pun ada banyak dari terminal Bus Kampung Rambutan. Treknya relatif mudah dan cukup sehari saja sudah bisa muncak sekaligus turun. Peminatnya di kantor pun ada banyak sehingga untuk kesana, tak perlu takut ngga-ada-yang-menemani.

Nah, pertanyaannya, kok baru sekarang menjajal gunung tersebut setelah 1,5 tahun hidup di Jakarta? Simple saja. Belum jodohnya, mungkin.

Perizinannya ketat ya?
Enggak juga. Mungkin lebih tepat pakai kata “teratur”. Ya, perizinan mendaki gunung paling teratur yang pernah saya jumpai ada di Gede Pangrango. Bagi Anda yang berminat ke sana tetapi belum terbiasa dengan transaksi online atau terbiasa dengan mekanisme datang-naiki-turun-pulang ke gunung-gunung lainnya di Indonesia, ada baiknya Anda googling mencari informasi terlebih dahulu tentang panduan memperoleh simaksi/ perizinan di situs resmi TNGGP: www.bookinggedepangrango.org

www.bookinggedepangrango.org
Saya sendiri sih takjub dengan betapa kerennya petugas TNGGP dengan programnya yang begitu rapi dan sistematis itu. It was an achievement! Good Job! Saya harap petugas taman nasional lainnya melakukan studi banding ke Balai Besar TNGGP dan menerapkannya ke seluruh perizinan pendakian gunung di Indonesia.

Keren dimananya? Banyak yang gagal naik karena simaksi kok dibilang keren?
Justru itu, menurut saya, sudah saatnya kita mengubah mindset kita, dari “pendaki bonek” ke “pendaki cerdas”. Mendaki gunung bagaikan virus yang cepat sekali menular ke orang lain. Merupakan kabar menggembirakan ketika mendapati begitu banyaknya peminat ekskul pecinta alam, pendaftar trip wisata pendakian, ataupun rombongan dengan kerier besar di stasiun/ bandara.

Yang menjadi masalah adalah ketika dengan kondisi seperti itu, gunung menjadi berisik dengan haha hihi dan bunyi gitar sampai larut malam, kegelapan yang menentramkan berubah menjadi benderang api unggun yang bahannya dari dahan segar yang ditebang, atau yang paling umum, sampah berceceran di sepanjang jalur pendakian. Uasem tenan.

Nah, Gede Pangrango telah menghadapi masalah “membludaknya jumlah peminat” sejak dulu sehingga sudah lebih awal menyadari solusi pencegahannya dibanding gunung lainnya. Membludak kenapa? Mungkin karena gunung ini relative dekat dengan Jakarta atau Bandung, serta cukup mudah didaki dan juga memiliki keindahan yang mumpuni, sehingga banyak sekali orang mengantri tiap pekannya.

Kerennya, pengelola BB TNGGP (Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) membuat pembatasan jumlah pendaki tiap harinya untuk menjaga daya tahan gunung menampung jumlah pengunjung dengan cara kuota. Maksimal hanya 600 pendaki per hari yang diperbolehkan naik melalui 3 jalur pendakian (100 orang melalui jalur Selabintana, 200 orang melalui jalur Gunung Putri, dan 300 orang melalui jalur Cibodas).

Cara seleksinya? Ya dengan cara booking itu. Online Bro! Bisa juga datang langsung, tapi tetap saja, untuk mengecek kuota per hari yang tersisa, Anda masih harus membuka situs booking TNGGP. Di Balai Besar disediakan komputer bagi Anda yang datang langsung, Untuk Booking Dulu Juga!! Haha, sering-sering cek kuota ya kalau berencana mendaki di akhir pekan atau hari libur nasional. Transaksinya realtime dengan menunjukkan secara jelas jumlah kuota, jumlah daftar tunggu, dan jumlah pendaki yang telah disetujui. Mirip kalau pesan tiket kereta online lah… Mantap!

Secara singkat prosesnya (Anda bisa mencari web lain yang membahas tata cara booking TNGGP kalau mau lengkapnya, sudah banyak kok) sebagai berikut:
  1. Klik di pilihan tanggal booking, yang masih biru alias masih bisa di klik ya… Kalau udah ngga bisa di klik berarti udah full booked. Jauh-jauh hari makanya sudah harus booking.
  2. Isi data identitas ketua dan rombongan selengkap-lengkapnya (minimal 3 orang dalam satu rombongan). Jangan salah isi ya. Soalnya pengalaman kemarin saya ada salah isi dan ngeditnya susah bener. Males kan…
  3.  Anda akan dapat kode booking untuk login di web dan mengecek status perizinan Anda.
  4. Ikuti petunjuknya sampai keluar nominal yang harus dibayar dan bank tujuannya. (April kemarin saya masih Rp7.500 per orang, ngga tahu sekarang berapaan).
  5. Bayar ke bank/atm. Slip transfer jangan dibuang ya, wajib dibawa nanti!
  6.  Setelah transfer, konfirmasikan pembayaran ke web tadi dan tunggu beberapa hari sampai ada notifikasi email kalau booking Anda disetujui (cek terus tiap hari).
  7.  Print screen dan Print deh halaman yang menginformasikan kalau “booking anda telah disetujui”.
  8. Proses belum selesai. Anda masih harus datang ke Balai Besar di Cibodas untuk menukar bukti booking di poin 7 tadi dengan simaksi (izin pendakian resmi) dengan dilengkapi fotokopi ktp semua rombongan, bukti transfer, dan tandatangan surat pernyataan bermaterai Rp 6.000. Bawa Materai sendiri ya biar gak repot beli keluar lagi. Jadi tetap harus datang ya meski daftar online? Ya, tapi bisa kok tukarnya pas sebelum Anda naik. FYI, BB TNGGP baru buka jam 9 pagi, ditambah antri dsb, kalau Anda mau tukar di tempat sebelum naik konsekuensinya Anda bisa kesiangan memulai pendakian.
  9.  Di pos sebelum mendaki (pos Montana kalau ngga salah), simaksi Anda akan di cek. Jumlah personil, kelengkapan peralatan, seleksi barang-barang yang boleh dan tidak boleh dibawa seperti sabun, odol, miras, senjata api, dsb. Logistik Anda juga akan dicek kecukupannya dan untuk kroscek juga sampah apa yang harus dibawa turun nanti.
  10. Setelah lolos di pos Montana, berarti tuntas sudah simaksi nya dan Anda adalah pendaki sah Gunung Gede Pangrango. Selamat!

Ribet ya? Enggak kok, langkahnya jelas dan mudah dengan petunjuk pengisiannya banyak bertebaran di internet. Kita pendaki cerdas dan bertanggungjawab, kan? Proses yang panjang itu membuat saya makin excited selama menunggu booking disetujui sekaligus yakin, bahwa alam Gede Pangrango masih akan terus bertahan sampai beberapa dekade ke depan.
suasana di Balai Besar TNGGP
mbak-mbak itu bersembilan sudah bawa carier tapi gagal naik

Maket replika Taman Nasional di Balai Besar
Catatan:

Saya melihat sendiri beberapa kasus gagal naik meskipun sudah datang dari luar kota bawa kerier dan rombongan ke Balai Besar. Diantaranya:
-       Sudah booking dan bayar, tapi belum diterima email konfirmasi kalau sudah di approve. Mungkin dia bayarnya telat, kelamaan mikir sampai kuota nya penuh dan dia ngga sadar. Atau mungkin juga kuotanya sudah penuh tapi nekat bayar sehingga dia tak kunjung menerima email konfirmasi.
-          Maunya pakai ‘orang dalam lewat jalur nerobos2’. Bukannya dipermudah, malah dia dimarahi sama petugas (salut sama petugasnya, semoga istiqomah). KKN kok dipelihara dan dibawa ke gunung! Huuu.
-          Agen perjalanan, mau pakai ‘jalur samping’ juga. Tetap ditegaskan kalau dia harus cek kuota dan nggak bisa lebih dari kuota tersisa.
-          Ada juga yang baru datang mau langsung naik pakai marah-marah. Dalam hati ingin rasanya saya bilang, “ke laut saja Bro, ngga pakai ribet
         

  

Monday, 21 April 2014

Pantai Senggigi; Simbol Kemewahan Lombok

Sebagai ikon Lombok, Pantai Senggigi memiliki segalanya. Akses yang mudah, Pemandangan yang indah, Makanan yang murah, Penginapan yang mewah, dan Penduduk yang ramah. Ah, Tuhan terlalu baik menganugerahi Lombok dengan Senggiginya yang terlampau sempurna.

Setiap sore, selepas sholat Ashar, ketika saya di Mataram, menanti matahari tenggelam di kawasan Pantai Senggigi adalah agenda rutin saya. Ada banyak spot yang bisa digunakan untuk menyaksikan matahari tenggelam di lautan. Dari atas bukit maupun di pasir pantainya langsung. Dari atas, nyiur melambai mengikuti kencangnya angin yang berhembus. Di seberang lautan terpampang puncak tertinggi pulau Dewata, Gunung Agung. Di samping kanan, tiga gili, Air, Meno, dan Trawangan tampak seperti kapal besar yang sedang melepas jangkar, berhenti bergerak. Menjelang magrib, lautan berubah drastis dari biru muda, ungu, kuning, jingga, dan terakhir hitam mengikuti warna cakrawala. Memberikan siluet akan setiap foto yang diambil membelakangi matahari. Beberapa orang sibuk dengan kameranya sementara sisanya takjub dalam diam menyaksikan akhir perjalanan mentari hari itu di Lombok. Menyesap dalam-dalam pemandangan menakjubkan yang suatu hari nanti bisa dipanggil kembali dalam kenangan manis yang membahagiakan.

Jaraknya hanya tiga puluh menit kendaraan motor dari Kota Mataram. Ada juga bis damri yang mengantarkan dari bandara internasional Lombok Praya sampai Pantai Senggigi hanya dengan Rp30.000,00. Jalannya lebar dan mulus kendati menelusur bukit-bukit.

Awalnya saya mengira, untuk akses semudah itu, pasti Pantai Senggigi akan mirip Legian, Bali, terlalu ramai. Namun kenyataannya, akhir Desember 2013, daerah Pantai Senggigi cukup lengang, dengan aktivitas turis asing yang kebanyakan terkonsentrasi di dalam resor/hotel mewah yang tertutup.

Ketika panas matahari mulai turun, paculah motor ke utara jika Anda berada di Mataram. Anda tak akan sendirian, akan ada banyak laron dengan kamera terkalung di leher datang berduyun-duyun menuju arah matahari yang akan tenggelam di lautan

Pantai Senggigi juga dibatasi oleh bukit-bukit yang membuat kontur jalannya naik turun layaknya di pegunungan. Udara pegunungan yang sejuk bercampur dengan udara pantai yang panas menjadikan kawasan Pantai tersebut tidak terlalu terik di siang hari dan tidak terlalu dingin di malam hari. Bukit-bukit tersebut bernama “Baun Pusuk” yang merupakan wilayah konservasi untuk monyet-monyet.

Selain Pantai Senggigi, Spot yang bisa digunakan untuk cangkrukan menanti matahari terbenam ada banyak. Di antaranya ada Pantai Nipah, Pantai Pandanan, Bukit Malimbu I, Bukit Malimbu II, Pura Batu Bolong, dsb. Bisa juga di warung pinggir jalan sambil menikmati jagung bakar. Pokoknya, sepanjang jalan itu bisa dipakai untuk menikmati pemandangan matahari terbenam deh.
pantai nipah
pantai senggigi, dari atas pinggir jalan
the greater senggigi, teluk yang membawa berkah
kapal yang melempar jangkar.
3 gili, (dari ki-ka) trawangan, meno, air
bukit malimbu II, perfect pre wed spot
pura batu bolong
the crowd, kumpulan laron

    


Sunday, 6 April 2014

Surga di Pantai Selatan Lombok Timur



Lombok begitu populer akhir-akhir ini. Dan tentu saja, saya tak mau ketinggalan. Akhirnya, Desember 2013, saya ambil cuti beberapa hari untuk bisa mendapatkan 11 hari pendakian Rinjani sekaligus liburan di Lombok.

Lombok paradiso! @ no name beach
Sepulang dari Rinjani, kaki lecet semua, pinggul, dan pundak pun kelebihan asam laknat laktat akibat memanggul karier 20 kg yang basah selama 3 hari. Harusnya hal itu menjadi alasan yang logis untuk mengistirahatkan sejenak di kasur yang empuk. Namun, tidak bagi saya, eman sudah jauh-jauh ke Lombok, kok malah tidur.

Langsung saya cari rental motor, dan cuss, sorenya sudah jalan-jalan di Pantai Senggigi, Nipah, dan dapat sunset di Pantai Malimbu.

Hari selanjutnya, setelah perih di sekujur kaki sudah bisa diajak kompromi, saya siap untuk melakukan perjalanan panjang lagi. Subuh buta kami sudah mandi dan mempersiapkan motor sewaan kami. Berbekal dengan selembar peta dan setangki penuh bensin di motor, kami menyusuri jalan panjang ke Lombok Timur. Dari Mataram di tepian selat Lombok hingga Jerowaru di tepian selat Alas memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan motor. Ada dua alternative jalan besar yang bisa diambil. Melalui jalur tengah, ataupun jalur selatan (bandara Praya). Saya pilih jalur tengah untuk berangkat dan jalur selatan untuk pulangnya. Jalur tengah lebih berbukit-bukit.

Sepagi itu belum banyak kendaraan yang melitas di jalan raya. Jalanan yang rindang, Rinjani di sebelah kiri, dan persawahan di sepanjang jalan, membuat hati ini bersenandung riang. Perasaan yang sama ketika berkendara di pelosok Kintamani atau pedalaman Gunungkidul. Ahh, nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?

Sesekali jalanan melintasi ibukota kecamatan yang ditandai dengan perempatan yang ramai dengan cidomo (cikar, dokar, motor), pasar yang ramai dengan aneka hasil bumi, dan tentu saja, ATM. Selepas terminal Sweta, pusat keramaian yang dilalui adalah Narmada, Sedau, Mantang, Kopang, Terara, dan Sikur. Di sepanjang jalan itu pula, saya mendapati banyak papan penunjuk objek wisata yang sayang sekali tidak sempat saya kunjungi karena terbatasnya waktu; seperti Taman Narmada, Air terjun Benang Setokel, Otak Kokok, dan Jeruk Manis. Mudah-mudahan lain kali.


Di Kecamatan Sikur, ambil jalan ke selatan menuju Sakra dan Keruak. Mulai dari Sikur, jalanannya tidak sebesar jalan provinsi seperti sebelumnya dan mulai diperlukan tanya di sana sini agar tidak tersesat. Di Desa Pemokong, terdapat pertigaan yang ke kanan ke arah Ekas sedangkan ke kiri ke arah Temeaq/ Pantai Pink. Saya ambil arah kiri terlebih dahulu.


Pantai Cemara.

Berawal dari kepedean saya yang nekat saja mengikuti aspal tanpa bertanya penduduk lokal, akhirnya saya menemukan pantai ini, padahal niatnya mau ke Pantai Pink.
ini masih indonesia lho Bro.
 Sesuai namanya, di Pantai ini terdapat beberapa pohon cemara yang tumbuh di  antara pasir putih dan semak-semak berduri. Saat itu sepi-eh bahkan tidak ada satupun pengunjung. Belum ada jejak kaki manusia, hanya ada jejak kaki anjing dan kepiting. Pantainya putih dan memantulkan sinar matahari, silau sekali. Di samping pohon cemara terdapat bukit untuk memandang pantai dari ketinggian. Ternyata panjang juga garis pantainya. Di atas bukit ada 4 pohon yang membentuk segiempat. Sungguh fotogenik jika foto di tempat itu dengan begron birunya langit dan air laut yang bergradasi. Saya jadi ngiler pengen foto prewed di sana.
I love this beach. Smooth sand as baby powder
 Yang paling saya suka dari pantai ini adalah pasir nya yang selembut bedak. Jadilah sebotol pasir dari sini saya bawa pulang untuk kenang-kenangan.


Pantai Semerang.

Beberapa kilo dari pantai Cemara terdapat pondok bambu. Lengkap dengan perahu nelayan, beberapa gubuk, dan juga hamparan rumput laut yang sedang dikeringkan. Pantai ini ramai dengan penduduk lokal yang mencari nafkah dari melimpahnya hasil laut pantai selatan. Anak-anak kecil bertelanjang dada tetap tertawa riang ketika difoto meskipun udara saat itu terik sekali. Mereka ramah dan dari merekalah pula saya tahu nama pantai ini.

Meet them, they are so kind!
Pasirnya tidak sehalus pasir Pantai Cemara. Pantainya pun banyak ditumbuhi rumput laut sehingga membuat warnanya agak kecoklatan. Kurang menarik dari segi estetika, tetapi, pengalaman bercengkrama dengan anak-anak lokal di bawah gubuk beratapkan daun kelapa sungguh patut dicoba.


Pantai Tanjung Bloam

Nah, seharusnya, dari SMPN 1 Jerowaru ambil jalan belok kiri di pertigaan yang jalannya rusak parah, bukan lurus yang ke Pantai Cemara tadi. Masih ada sekitar 5 km dengan kondisi jalan berlubang biasa hingga berlubang yang digenangi air seperti kolam (sapi).

Di tengah perjalanan, terdapat pintu masuk pantai Tanjung Bloam yang dipagar kawat berduri dan dijaga dua satpam galak. Katanya pantai itu sudah dibeli oleh orang Jerman bernama mister xxx (lupa -.-“) dan sudah dibangun resort. Jadi hanya pelanggan saja yang boleh masuk kesana.

Damn, mana bisa seperti ini? Pantai kan barang publik. Apalagi dibeli bule. Huff, Indonesia… Malas berdebat dengan dua satpam itu, saya putuskan untuk cari pantai lain saja.


Pantai Pink/ Temeaq

cute, isn't it?
Hanya ada 7 pantai berwarna pink di dunia ini (versi on the spot kali ya), salah satunya di Indonesia, di Pulau Komodo. Lhah? Kok di Lombok ada pantai pink juga? Ada 8 dong jadinya?

Terlepas dari kontroversi jumlah pantai pink di dunia, saya yakin bakal ada lagi pantai pink kesembilan kesepuluh dst yang nantinya akan ditemukan publik di dunia atau bahkan di Indonesia, sebab pasti banyak pantai terpencil yang belum dieksplor/ ditemukan.

Jalan ke pantai pink lebih parah lagi. Pepohonan yang rimbun membuat seakan berjalan di terowongan pohon. Sesekali kita bisa menjumpai gerombolan sapi yang sedang berkubang lumpur di tepi jalan. Ah, tentu saja saya berhenti dan memotret mereka. Sudah lama sekali saya tidak menemukan pemandangan seperti ini.

Sudah ada beberapa pondok di atas bukit di pantai Pink ini. Kamar mandi dan warung-warung pun sudah tersedia. Meskipun jauh, banyak turis asing yang berduyun-duyun ke sini.

Menurut penduduk lokal, pantai ini sudah tidak se-pink dulu karena telah tercampur dengan tanah daratan. Landscape yang sempurna dengan bukit-bukit, pasir kemerahan, dan ombak kecil karena terhalang beberapa pulau yang seolah terapung mengepung pantai ini. Beberapa perahu tertambat di pantai menawarkan pengunjung yang hendak menikmati pemandangan melintasi pulau-pulau kecil tersebut menyusuri Pantai di sepanjang Jerowaru ini.

Warna pink katanya berasal dari pecahan kerang2 warna merah
yang dominan di sini.
Pantai Batu Dagong

Setelah dari Temeaq, saya memilih balik arah untuk menuju kawasan Ekas. Pantai pertama yang saya jumpai ini juga karena tersesat. Kali ini bukan karena tak mau bertanya, tapi memang karena tak ada penduduk lokal untuk bertanya arah. Bahkan saya tak tahu bagaimana cara turun ke pantainya. Saya Cuma mendapati jalan yang berakhir di tepian bukit. Jadilah kami hanya foto-foto dari atas bukit.
Ada pantai di bawah bukit itu.
Cuma saya nggak tau gimana cara turunnya.
 Pantai Sungkun

Setelah bertemu dengan seorang penduduk lokal, saya baru tahu kalau pantai yang di atas bukit tadi bernama Batu Dagong. Dan beliau juga menunjukkan jalan ke pantai lain yang biasanya dicari turis untuk selancar.
Alone Alone! Salah satu favorit saya, cakep!
Pulau kecil di Sungkun, Subhanallah

great barrier coral di Sungkun
Jalan ke Pantai Sungkun dipenuhi ilalang tinggi dengan bunga putih yang melambai tertiup angin. Ketika motor saya berhenti di tepian jalan, sesaat saya menahan nafas. Maha Karya sang Pencipta terpampang di depan mata. Dua buah pulau yang digempur ombak besar-besar mengapung di kejauhan. Pantai di sini dibatasi oleh batuan yang memanjang menghalau gelombang laut yang tinggi. Pasirnya putih bundar-bundar dengan tekstur seperti merica. Tidak ada orang di sana.

Sekilo dari pantai itu, terdapat padang rumput luas dengan bukit-bukit teletabis yang mengingatkan saya akan Jalur Ayak-Ayak Gunung Semeru. Saya ikuti saja jalan setapaknya dan ternyata ia berakhir di pinggir pantai (entah namanya apa) juga. Lagi-lagi tak ada orang. Ahhh, indahhh sekali.
di pantai tak bertuan tak bernama
Ini nyata, di pinggir pantai, bukan di Semeru!
Pantai Surga dan Pantai Planet

Saya mengakhiri perjalanan tur pantai selatan Lombok Timur dengan kurang manis. Saat itu sudah pukul 16.00 dan saya masih berniat blusukan cari pantai-pantai lain. Ada papan penunjuk kedua pantai tersebut. Namun di tengah jalan saya dihadang oleh seorang lokal berkulit coklat, bermata merah, dan berseragam. Dia mengancam agar jangan pernah coba ke Pantai Surga demi keselamatan. Katanya jalannya rusak dan becek dimana-mana sehingga susah dilalui motor, Padahal jelas-jelas saya melihat beberapa turis asing dengan motor matic dan papan selancar berbelok ke arah pantai itu. “Nggak usah saja Mas, lebih baik pulang. Tidak aman” katanya dengan mulut bau alcohol. Terpaksa saya mengalah karena sudah agak sore dan sinyal hp pun tak ada sama sekali sehingga akan sulit menghubungi siapapun kalau terjadi apa-apa, mana masih tiga jam kan ke mataram. Hihi. Coba agak siang dikit, pasti saya nekat ke kedua pantai tersebut. Namanya itu lho, bikin penasaran. Pantai Surga meeen!!

Mission to Heaven incomplete. Next time maybe!
Sebetulnya masih banyak sekali pantai cantik yang ada di semenanjung Jerowaru dan Ekas tersebut kalau kita mau terus menuruti rasa penasaran akan setiap persimpangan jalan. Seperti Pantai Tanjung Ringgit (yang katanya ada mercusuarnya), Ujung Ketangga, Sekarah, Tanjah-anjah, Penyu, Putit, Bagik Cendo, dsb. Semoga lain kali ada kesempatan kesana lagi, sebelum makin banyak Pantai yang dibeli/ dibangun resor oleh orang asing dan dipasang kawat berduri.  

Selamat merencanakan perjalanan ke Lombok ya, Anda. 

   
  



Pantai Jungwok, Adik Perempuan Pantai Wediombo



Dua tahun lalu ketika ke PantaiWediombo, belum saya jumpai papan plang penunjuk jalan ke Pantai Jungwok dari Pantai Wediombo. Kemarin pun, 01 Maret 2014, nama pantai ini belum banyak dibicarakan di dunia maya maupun nyata. Saya nemu nama pantai ini dari teman Gunungkidul yang juga belum pernah ke sana.
 
Hayooo, pilih kemana?



Kami, bersembilan teman sekantor, dengan kereta ekonomi progo, berencana menjenguk rekan kami juga yang baru punya momongan, Alfaro bin Ridwan, di Wonosari. Kami pikir, tak afdol rasanya kalau ke Gunungkidul tanpa main ke pantainya yang juara. Seusai acara, Pukul 16 kami bergegas menuju Pantai untuk menikmati matahari terbenam. Saking banyaknya pilihan pantai, kami sampai bingung menentukan kemanakah kami akan menuju.
NP: lorde, team

Wediombo akhirnya kami pilih karena teluk di pantai ini sempurna menghadap ke barat sehingga kita bisa mendapati matahari kembali ke peraduannya tepat di lautan, berbeda dengan pantai lainnya yang menghadap selatan. Matahari akan tenggelam di balik bukit atau karang.

Saya selalu suka berkendara motor di pelosok Gunungkidul dengan jalannya yang mulus dan sepi, anginnya yang kencang, bukit-bukit kapur yang cantik, dan orang-orang lokal yang selalu tersenyum balik ketika kita menyapa mereka. Adorable!

Pukul 17 kami sudah sampai di Pantai Wediombo. Segera kami dirikan tenda sebelum melakukan aktivitas lainnya. Runyam juga urusannya kalau malam hari tenda belum berdiri. Gelap gulita Fren! 

Di pantai ini ada banyak toilet umum yang buka hanya di siang hari. Kalau malam, hanya kamar mandi di dekat parkiran yang buka. Lumayan jauh dari pantai.

Stunning Sunset
Pukul 17.30 kami tinggal duduk santai di pasir dalam diam menunggu sang bola jingga tenggelam di lautan dengan perlahan. Stunning moment. Saya telah memandangi begitu banyak sunset dan entah kenapa, tak pernah bosan akan sensasinya.
Terlihat ganteng ya, kalau siluet gini -.-"

Malam harinya, kami berdesakan di atas matras sambil makan pisang dan kacang rebus ditemani jutaan gemintang yang tampak lebih banyak dari biasanya. Kegiatan favorit saat gelap gulita adalah bercerita horror. Hiii, kasian dong yang besok pagi kebelet duluan.

Air laut yang pasang memaksa kami memindahkan tenda ke atas karena sudah menyentuh bibir tenda. Setelah itu, kami putuskan untuk segera tidur demi petualangan lain esok hari.

Benar saja, pukul 4 sebelum alarm berbunyi, teman tenda sebelah sudah memanggil-manggil minta diantar ke kamar mandi.

Ketika mengambil wudhu di laut, air yang sedang surut meninggalkan banyak ikan dan biota lainnya terperangkap karang. Ah, Indonesiaku, kau memang bukan lautan tapi kolam susu.

Papan penunjuk di tengah sawah, between Wediombo-Jungwok
Wediombo's little sister: Jungwok
Pukul 5 kami mulai berjalan melalui sawah dan ladang penduduk menuju Pantai Jungwok. Beberapa teman kami salah kostum dengan memakai celana pendek, padahal banyak ilalang tinggi yang lumayan gatal. Sekitar 1,5 km sampailah kami di Pantai Jungwok yang saya deskripsikan sebagai adiknya Pantai Wediombo. Sebuah teluk kecil dengan batuan karang di sebelah timur dan pulau kecil di sebelah barat. Sayang sekali teluk ini menghadap ke tenggara sehingga matahari terbit tidak tepat muncul dari samudera, tapi baru nampak tinggi di atas batuan karang. Seandainya tepat menghadap timur, kombo sunset dan sunrise yang bisa didapat di satu tempat pasti membuat duet kakak beradik Wediombo-Jungwok cepat terkenal. Tak apa, pantai yang sepi ini cukup cantik meski lebih kecil dari Wediombo. Banyak bukit pengamatan yang ditumbuhi nipah dan pandan di belakang pantai ini. Tampak juga beberapa pemancing lobster di atas batu karang.
pulau kecil yang dikepung ganasnya ombak Jungwok
batuan karang di sisi timur yang menghalangi sunrise nya Jungwok
 Pasir pantai Jungwok di sebelah timur didominasi oleh pecahan cangkang hewan laut, sehingga agak tajam. Sementara sisanya adalah pasir bulat seperti merica. Ombak yang cukup besar dan karang yang tajam membuat lecet beberapa tema saya yang nekat mandi di sana.

haram lupa, pose loncat.
talent: Rizkamulia dan Ichin
Puas di Jungwok, kami kembali ke Wediombo yang sudah tidak surut lagi. Beberapa dari kami berloncatan kembali mandi di Pantai. Pukul 8 kami bersemangat melipat tenda dan packing demi perut yang sudah keroncongan dan demi janji ekan kami, Feriwa yang akan menjamu kami di rumahnya.

Pecah di Jungwok! Pecah di Gunungkidul! Thanks Feriwa, Thanks Alfaro!
dalam setiap perjalanan, jangan pernah lupa untuk pulang